Teknik Ini Ternyata Dipercaya Mampu Hentikan Kebiasaan Merokok

By , Jumat, 2 September 2016 | 17:00 WIB

Kita telah mendengar bahwa merokok merupakan kebiasaan yang sulit untuk dihentikan. Lalu adakah cara yang lebih efektif untuk keluar dari kebiasaan tersebut?

Merokok dikenal sebagai sebuah kebiasaan yang sulit untuk dipatahkan. Banyak penelitian yang telah mempelajarinya, baik dari sisi fisik maupun psikologis. Nikotin dalam rokok sama adiktifnya seperti heroin, kokain, atau amfetamin.

Namun dalam penelitian yang baru dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine menunjukkan bahwa terdapat sebuah metode yang secara statistik dan signifikan lebih efektif dari cara-cara lainnya untuk mengatasi kebiasaan merokok.

Pertama, pemahaman utama ilmu pengetahuan di balik nikotin yang adiktif. Secara alami nikotin ditemukan dalam tembakau. Nikotin merupakan suatu zat yang secara cepat mencapai otak ketika kita menghirupnya. Dalam sekali kerja, nikotin yang terhirup ke dalam otak secara kimiawi dan bereaksi, yang kemudian melepaskan dopamine dan perasaan nyaman lainnya lewat jaringan otak.

Proses kimia yang dihasilkan oleh nikotin membentuk penerimaan nikotin lain di otak. Ketika penerima tersebut menolah untuk memperbaiki diri mereka, maka hal tersebut akan memicu perasaan depresi dan tekanan.

Banyak penelitian yang telah mempelajarinya, baik dari sisi fisik maupun psikologis. Nikotin dalam rokok sama adiktifnya seperti heroin, kokain, atau amfetamin.

Kemudian banyak bermunculan terapi yang dipercaya mampu menyelesaikan masalah kebiasaan merokok ini. Terapi yang dilakukan seperti mengunyah permen karet, menggunakan inhales, dan lainnya. Pemikiran tersebut dipercaya akan mengurangi jumlah nikotin yang masuk dalam tubuh setiap waktunya.

Salah satu penelitin yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health melihat sebanyak 787 orang dewasa mencoba berhenti merokok dengan strategi mencari pengganti nikotin. Partisipan disurvey di tiga waktu berbeda selama enam tahun. Dari setiap pengecekan dalam tiga waktu berbeda, ditemukan setidaknya tiga orang yang akhirnya kembali merokok. Pemimpin penelitian pun menyimpulkan bahwa terapi dengan menggunakan pengganti nikotin tidak akan efektif dalam menolong orang untuk berhenti merokok dalam jangan waktu yang panjang.

Namun dalam penelitian terakhir, terdapat sebuah temuan baru. Penelitian tersebut meneliti 697 perokok dewasa dan membaginya dalam dua kelompok. Satu kelompok merupakan orang-orang yang benar-benar berhenti dan meninggalkan rokok secara keseluruhan.  Sedangkan kelompok yang lain menggunakan program dua minggu mengurangi merokok.

Hasilnya, setengah dari kelompok yang berhenti merokok secara keseluruhan berhasil menghentikan kebiasaan mereka itu, dibandingkan dengan 39 persen mereka yang akhirnya menyerah. Hal itu diketahui berhasil menurunkan dari 22 persen menjadi 15 persen. Penelitian ini masih menunjukkan bahwa teknik ‘berhenti sama sekali’ itu lebih efektif daripada pengurangan secara bertahap