Infeksi Zika Diduga Dapat Menular Melalui Air Mata

By , Kamis, 8 September 2016 | 17:00 WIB

Virus Zika dapat hidup di mata dan meninggalkan materi genetiknya dalam air mata. Demikian hasil studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Washington University di St. Louis. Studi tersebut membantu menjelaskan mengapa beberapa pasien terinfeksi Zika mengalami penyakit mata, termasuk radang uvea yang bisa menyebabkan kebutaan permanen.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa mata bisa menjadi inang bagi virus Zika. Kami perlu mempertimbangkan apakah pasien terinfeksi Zika memiliki virus menular di mata mereka, dan berapa lama virus itu menetap,” kata Michael S. Diamond, salah satu penulis senior studi tersebut.

Para peneliti melakukan percobaan pada tikus untuk mengetahui efek infeksi Zika pada mata. Hasilnya, mereka menemukan virus hidup di mata tikus tujuh hari kemudian. Pengamatan ini mengkonfirmasi bahwa virus Zika dapat bergerak ke mata.

Sebuah representasi dari permukaan virus Zika yang menonjol tampak menutupi glikoprotein (merah). (Devika Sirohi et al / Purdue University.)

Infeksi mata meningkatkan kemungkinan seseorang tertular infeksi Zika melalui kontak dengan air mata penderita Zika. Para peneliti menemukan bahwa air mata tikus terinfeksi Zika mengandung RNA virus Zika, namun tidak ditemukan virus penginfeksi saat pengujian dilakukan setelah 28 hari tikus terinfeksi.

“Meskipun kita tidak menemukan virus hidup di air mata tikus, bukan berarti itu tidak dapat menular pada manusia,” kata Jonathan J. Miner, penulis utama studi.

Miner menambahkan, Mungkin ada selang waktu saat air mata dapat menginfeksi orang yang melakukan kontak, dan akhirnya menularkan virus tersebut.

Pada mata, sistem kekebalan kurang aktif dibandingkan pada bagian tubuh lainnya. Hal itu bertujuan untuk menghindari kerusakan tak disengaja pada jaringan yang berperan dalam pengelihatan ketika sistem imun sedang berperang melawan infeksi. Saat kekebalan berkurang, akibatnya, seringkali ada infeksi yang tertinggal di mata setelah dibersihkan dari seluruh tubuh.

“Kami berencana melakukan penelitian pada manusia untuk mengetahui apakah virus menular ini berada di kornea atau bagian mata lain, karena hal tersebut dapat berdampak pada transplantasi kornea mata,” ujar Rajendra S. Apte, salah satu penulis senior studi.

Menurutnya, penelitian itu penting dilakukan mengingat virus seperti herpes juga menular secara tak sengaja melalui transplantasi kornea.

Daerah berwarna merah, semakin rawan akan persebaran virus Zika. (Messina et al. /-eLife)

Para peneliti Zika kini semakin mempertimbangkan cara-cara penularan Zika karena virus ini menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan. Selain nyamuk, beberapa faktor mungkin bisa berperan dalam penyebarannya.

“Transmisi seksual mungkin bukan yang utama, tetapi bisa cairan tubuh lain, seperti air liur, air seni atau air mata,” ujar Diamond, yang merupakan profesor mikrobiologi molekuler, patologi dan imunologi.

Infeksi Zika menjadi perhatian dunia karena menyebar cepat ke seluruh dunia dan dapat menyebabkan kerusakan otak serta kematian pada janin. Sekitar sepertiga dari jumlah bayi yang terinfeksi Zika ketika dalam kandungan mengalami penyakit mata seperti peradangan saraf optik, kerusakan retina atau kebutaan setelah lahir. Pada orang dewasa, Zika dapat menyebabkan konjungtivitis—mata kemerahan dan gatal, serta dalam kasus yang jarang, dapat menyebabkan radang uvea.