Ribuan Prasasti dan Petroglif Ungkap Kehidupan Lampau di Gurun Yordania

By , Selasa, 29 November 2016 | 08:00 WIB

Ribuan prasasti dan petroglif yang berasal dari sekitar 2.000 tahun lalu  ditemukan di wilayah Jebel Qurma, Gurun Hitam, Yordania. Penemuan ini menggambarkan saat lanskap yang sekarang sepi itu penuh dengan kehidupan.

“Saat ini, daerah Jebel Qurma dan Gurun Hitam pada umumnya, adalah daerah yang sangat tidak ramah, sangat kering dan sulit untuk dilintasi,” kata Peter Akkermans, profesor di Universitas Leiden di Belanda yang memimpin Jebel Qurma Arkeologi Landscape Project. Foto yang diambil dari lanskap Gurun Hitam masa kini menunjukkan sedikit air, vegetasi atau satwa liar.

Prasasti ditulis dalam Safaitic, abjad yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di bagian Suriah, Yordania dan Saudi di zaman kuno. Penelitian ini sedang berlangsung, namun para arkeolog mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa sekitar 2.000 tahun yang lalu, Jebel Qurma memiliki pohon, satwa liar dan populasi manusia yang cukup besar.

Ketika kehidupan berkembang

"Ada ribuan prasasti dan petroglif di kawasan Jebel  Qurma, yang menunjukkan bahwa dulu daerah ini digunakan oleh orang-orang secara intensif," kata Akkermans.

Petroglif, atau seni batu, menunjukkan gambar singa, rusa, kuda dan burung besar yang kemungkinan burung unta. Prasasti yang ditemukan di dekat petroglif ini cenderung sangat singkat. "Sebagian besar teks hanya berupa nama-nama orang,” kata Akkermans.

Beberapa teks berisi informasi tentang kegiatan yang dilakukan masyarakat lampau di Jebel Qurma, dengan beberapa mengisyaratkan bahwa orang-orang yang mendiami kawasan itu memiliki konflik dengan penduduk Nabataea, orang-orang yang membangun kota kuno Petra. "Saya sedang mengintai orang-orang Nabataea,"demikian salah satu tulisan pada prasasti.

Prasasti lainnya menceritakan tantangan dan kemunduran yang dihadapi oleh orang-orang yang tinggal di Jebel Qurma. Seperti tulisan "Semoga ada kekuatan melawan kelaparan," sementara yang lain ditulis oleh seorang pria yang mengatakan ia “kebingungan atas nasib orang-orang tercintanya."

Para ahli sedang menganalisa teks dan petroglif-petroglif untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang maksud dan alasan mengapa petroglif tersebut di buat. "Alasan yang tepat untuk menghasilkan seni cadas masih belum jelas dan terbuka untuk diskusi. Apa pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya juga belum terungkap,” kata Akkermans.

Ketika tanah yang subur menjadi tandus

Selain prasasti dan petroglif, arkeolog menemukan sisa-sisa kamp, tempat penampungan dan makam yang digunakan oleh orang-orang dari Jebel Qurma. Para arkeolog meyakini bahwa sekitar 2.000 tahun yang lalu, orang-orang yang tinggal di wilayah ini merupakan kaum nomadik.

Tim sedang mencari lebih banyak bukti tentang kondisi lingkungan di zaman kuno dan bagaimana lanskap tersebut menjadi tempat yang sunyi hari ini.

"Penggalian kami di salah satu situs mengungkapkan massa arang dari abad ketiga, yang tampaknya mewakili beberapa kelompok pohon, yang membutuhkan air sepanjang tahun," kata Akkermans. Berdasarkan hal itu, Akkermans menyimpulkan bahwa kondisi diwilayah tersebut pada sekitar abad ketiga mungkin cukup berbeda dengan hari ini. “Ini tentunya menjadi hal yang sangat ingin saya selidiki di penelitian selanjutnya,” pungkas Akkermans.