Ketika Rasisme, Arogansi, dan Ketidakcakapan Memicu Peristiwa Pearl Harbor

By , Rabu, 7 Desember 2016 | 20:30 WIB

Tujuh puluh lima tahun yang lalu, pukul 07:55 pagi pada 7 Desember 1941. Pasukan tempur Jepang mengeluarkan 353 pesawat tempur ke Pearl Harbor, pangkalan Armada Pasifik Amerika di Oahu, Hawaii. Serangan itu sungguh mengejutkan.

Hubungan antara Amerika Serikat dan Jepang telah memburuk. Jepang telah menginvasi Cina pada 1937 dan kemudian, pada 1940, bersekutu dengan Italia dan Jerman.

Dalam beberapa menit, banyak dari Armada Pasifik telah hancur. Lebih dari 2.000 orang Amerika tewas, dan Amerika Serikat dihadapkan oleh dahsyatnya pukulan psikologis. "Seperti bencana tak terduga yang menghancurkan citra diri sebuah bangsa yang dibangun dalam 165 tahun," tulis Steve Twomey dalam buku barunya, Countdown to Pearl Harbor: The Twelve Days to the Attack.

Di kediamannya di Montclair, New Jersey, Twomey menjelaskan bagaimana gagasan superioritas ras membuat Amerika meremehkan Jepang. Bagaimana simulasi permainan perang seperti serangan tersebut terjadi dan seolah diabaikan. Mengapa Pearl Harbor tetap berkesan mencengangkan bagi mereka, bahkan melebih peristiwa 9/11.

Bencana yang seharusnya dapat dicegah itu disebabkan ketidakcakapan dalam kepemimpinan, rasisme, dan kecongkakan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. Apakah penilaian ini cukup wajar?

Itu sangat wajar. Semua melalui 1941, ada artikel surat kabar menggembar-gemborkan keunggulan Angkatan Laut Amerika Serikat. Ada juga asumsi di Washington bahwa Armada Pasifik telah diperingatkan dan siap, namun kenyataannya tidak demikian. Itu semua mencuat ke asumsi rasial tentang kemampuan potensi musuh. Dari hal besar hingga hal kecil, Amerika merasa puas hingga pada 7 Desember.

Jika Anda membaca majalah dan surat kabar Amerika pada 1941, sungguh menakjubkan betapa orang Jepang dianggap lucu, orang yang banyak maunya, dan tidak memilikim kompetensi teknologi. Dalam media Amerika diberitakan betapa fisik orang-orang Jepang tidak mampu menjadi penerbang yang baik karena mereka tidak memiliki kecakapan dan tidak memiliki pengelihatan baik.

Pelaut pergi dari kerumunan di sekitar surat kabar yang melaporkan sebuah serangan. (Bettman/Getty via National Geographic)

Namun, kesalahan utamanya terjadi ketika Komandan Armada Pasifik Amerika, Husband Kimmel, melewati hari-hari yang panjang dan menegangkan. Dia memilih untuk tidak memulai pengintaian udara. Padahal, itulah satu-satunya sarana yang bisa memastikan bahwa kondisi aman. 

Jika Anda akan menyematkan label kepemimpinan yang tak kompeten pada siapa pun, mungkin perlu menengok kepada Harold Stark, kepala operasi angkatan laut di Washington. Dia membaca petunjuk yang lebih akurat. Beberapa hari sebelum serangan, Jepang telah memerintahkan pembakaran seluruh dokumen yang ada di kedutaan Jepang. Dan pada 6 Desember, terdapat pesan berkode dari Jepang yang menunjukkan bahwa serangan sudah dekat. Namun, pesan yang ditulis Stark untuk memperingatkan pasukan di Hawaii tampaknya tidak tegas dan kenyataannya membuat salah paham.

Menempatkan kami di laut pada serangan pagi hari itu berarti kami menjadi korban pembantaian besar-besaran.

Husband Kimmel memiliki cara terbaik untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Ketika itu Minggu pagi, dia hendak bermain golf dengan Komandan Angkatan Darat di Oahu. Kimmel memiliki rumah besar yang berada di bukit yang menghadap pelabuhan. Ia masih berada di rumanya ketika ia mendapat panggilan kabar dari telepon bahwa serangan udara sedang berlangsung.

Dia berjalan keluar ke halaman dan menyaksikan ke pelabuhan betapa pesawat Jepang menyerbu dari atas kapalnya. Inilah saat yang paling menakjubkan dalam hidupnya. Dia menyadari dengan segera bahwa ini adalah petaka.

Para penerbang serangan itu adalah beberapa pilot terbaik Jepang. Pada kenyataannya, keadaan mereka berbeda dengan semua publikasi dan pers pada 1941. Kerusakan terbesar telah disebabkan oleh 40 pesawat torpedo Jepang. Serangan itu mengejutkan karena Amerika berpikir Pearl Harbor terlalu dangkal untuk menjatuhkan torpedo. Jepang telah memecahkan masalah itu dengan mengikatkan sirip ekstra untuk torpedo mereka, sehingga terpodo tidak menyelam terlalu dalam.

Ledakan tunggal yang paling menghancurkan datang ketika bom jatuh ke persenjataan di haluan kapal perang Arizona. Semua kapal menghilang ditelan awan ungu dari asap yang membumbung. Sebagian besar korban tewas berasal dari ledakan itu. Sekitar 2.400 korban jiwa, dan 17 atau 18 kapal dari seratusan kapal perang di Armada Pasifik telah hancur.

Penting dicatat bahwa secara militer sejatinya serangan itu kurang mengerikan ketimbang bayangan orang-orang. Serangan itu meneyrang sisi psikologi Amerika. Tidak ada kapal induk Amerika di pelabuhan pada saat itu. salah satu kapal induk tengah berada di Pantai Barat dan dua lainnya berada di samudra.

Enam bulan kemudian, salah satu dari dua kapal induk—yang selamat karena berada di samudra—berpartisipasi dalam kemenangan terbesar Amerika dalam Perang Pasifik. Armada Amerika berhasil mengejutkan dan meneyergap armada Jepang, hingga berhasil menenggelamkan empat dari enam kapal induk yang telah berperan dalam peristiwa Pearl Harbor.

Salah satu kapal perang yang rusak dalam serangan Pearl Harbor, akhirnya berjaya saat berada di lepas pantai Normandia pada 6 Juni 1944. Kapal perang itu memberikan perlindungan untuk Amerika, Inggris, dan tentara Kanada pada misi D-DAY.

Isoroku Yamamoto memerintahkan pasukan Jepang yang menyerang Pearl Harbour. (Corbis/Getty via National Geographic)

Kisah Pearl Harbor juga menrupakan kisah dua komandan angkatan laut, Kimmel dan Isoroku Yamamoto. Berikut ini karakter sang perwira dan pemaparan bagaimana Yamamoto mengakali lawannya.

Yamamoto dan Kimmel memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Yamamoto adalah orang yang sangat sentimental, sedikit romantis. Dia juga seorang yang gemar berjudi. Dia acap kali memberitahu orang-orang bahwa jika punya kehidupan lain, ia akan tinggal di Monaco dan memainkan meja judi. Dia mendorong rencana ke Pearl Harbor dan menentang banyak orang dalam Angkatan Laut Kekaisaran. Pada satu titik, ia berkata, "Anda telah mengatakan kepada saya bahwa ini adalah risiko besar, tetapi saya suka permainan spekulatif dan saya akan melakukan hal ini."

Sementara itu Kimmel termasuk orang yang sangat disiplin, seorang yang ketat, pria yang sangat teliti dan tidak punya toleransi terhadap penyimpangan dari aturan dan ketentuan. Dia naik pitam segera setelah perang pecah, namun tetap dengan cara yang elegan. Namun, sikapnya cenderung defensif.

Kimmel tidak berpikir adanya kemungkinan serangan kejutan. Amerika benar-benar meremehkan serangan Jepang. Kimmel juga tidak memiliki keyakinan tentang seberapa tangguh kapal induknya yang berusia sekitar 20 tahun. Sulit untuk membayangkan berapa banyak kerusakan yang bisa ditimbulkan, jika 350 pesawat tiba-tiba datang dari laut. Apalagi hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada yang pernah mengumpulkan sebuah armada dengan begitu banyak pesawat pada satu waktu sebagaimana yang Jepang lakukan pada 7 Desember.

Teknologi satelit, penggunaan radar secara masif, dan pengintaian telah membuat serangan mendadak semacam Pearl Harbor tidak mungkin terjadi pada hari ini. Simak perbedaan teknologi antara dulu dan sekarang.

Kita harus ingat bahwa pada saat itu tidak ada satelit yang memantau untuk mengungkapkan semua hal di bumi. Jadi, ketika Jepang berlayar pada 26 November 1941, Amerika tidak menyadarinya. Selama melintasi Pasifik sejauh 3.000 mil, mereka tidak pernah menemui sebuah kapal komersial, pesawat pencari, bahkan satu kapal perang pun. Itulah unsur penting tentang rencana kejutan mereka. Jika tidak, semuanya akan gagal.

Saya berpikir tidak akan ada lagi Pearl Harbor karena kini kemampuan untuk mendeteksi gerakan angkatan bersenjata jauh lebih baik. Tidak hanya dengan satelit, tetapi juga dengan perangkat penyadapan dan kemampuan negara-negara untuk menyedot transmisi radio tentang lawan-lawan mereka.

Kita bisa memiliki Pearl Harbor kembali pada hari ini. Namun, cerita itu akan membutuhkan aktor independen, seperti pada 11 September 2001. Aneka serangan kejutan mungkin akan selalu terjadi. Kendati demikian, kita tidak akan menghadapi konfrontasi militer dengan gaya klasik dengan serangan kejutan tanpa membawa korban.

Persamaan antara Pearl Harbor dan 9/11.

Ini agak berat untuk membandingkan tragedi mana yang lebih buruk. Jadi saya tidak akan membandingkannya. Namun, dalam kedua kasus penghancuran massal yang datang dengan tiba-tiba, saya akan memaparkan perbedaan ini. Begitu serangan Pearl Harbor menjadi berita pada 1941, Amerika menyadari bahwa mereka tiba-tiba berada di tengah perang dunia yang mahadahsyat. Mereka pun menyadari kelak anak-anak, saudara, suami, dan ayah mereka akan pergi berperang ke tempat yang jauh.

Presiden Roosevelt menandatangani deklarasi perang terhadap Jepang hari setelah serangan terhadap Pearl Harbor. (Bettman/Getty via National Geographic)

Orang jamak mengatakan bahwa 9/11 mengubah segalanya, namun berbeda dengan Amerika pada 1941. Saat itu Amerika tidak terlibat dalam perang, sedangkan Prancis, Inggris, Rusia, dan negara lain sedang berperang dengan Jerman. Pearl Harbor telah mengubah takdir Amerika dalam semalam.

Apa yang bisa kita pelajari dari Pearl Harbor hari ini?

Dalam sebuah kepemimpinan, membolehkan bawahan untuk kreatif dengan solusi mereka sendiri merupakan sebuah kebijaksanaan. Namun, sebuah kepemimpinan menjadi tidak bijaksana apabila mengabaikan pilihan yang mereka buat.

Persoalan yang kedua, atas apa yang terjadi dengan Laksamana Kimmel, bahwa Anda tidak harus membiarkan keinginan Anda sendiri untuk mencemari kenyataan baru. Kimmel tidak akan beralih dari apa yang telah menjadi tujuannya.

Akhirnya, jika Anda sudah menugaskan seseorang untuk melaporkan tentang sesuatu, jangan lupakan saat mereka datang kembali dan meramalkan masa depan. Ternyata, sifat dan lingkup serangan Pearl Harbor telah diperkirakan hanya beberapa bulan sebelumnya oleh seorang laksamana dan jendral.

Saat itu sang laksamana sedang berada di Oahu pada hari-hari jelang serangan. Namun, tidak satu pun awak yang datang kepadanya dan berkata, "Anda mengetahui skenario tempat kapal induk dapat menyelinap di pulau kami? Mungkin kapal induk itu sudah berhasil menyelinap sekarang karena kita tidak dapat menemukan lokasi sebagian besar kapal induk Jepang." Sayangnya, tidak ada yang berkata seperti itu kepadanya. Dia masa bodoh—sampai akhirnya bom mulai berjatuhan.