Cinta dan berahi dalam dunia satwa

By , Rabu, 21 Desember 2016 | 12:00 WIB

Dalam reproduksi seksual, entitas induk menyumbang setengah kromosom bagi keturunannya. Aktivitas menghasilkan keturunan ini mengacak dek DNA, membuat pereproduksi seksual memiliki keragaman genetis untuk mengadaptasi perubahan lingkungan.

Sebaliknya, pereproduksi aseksual—sekitar 70 spesies vertebrata dan banyak organisme tak terlalu kompleks lainnya—“menggunakan semua kromosom yang mereka miliki” untuk secara soliter menghasilkan keturunan yang merupakan klon genetis, ujar ahli biologi molekuler Peter Baumann. Karena organisme ini secara genetis identik, mereka pun rentan: Penyakit atau perubahan lingkungan yang membunuh satu ekor, akan bisa membunuh semuanya.

Namun, ada hal menarik dalam kasus genus Aspidoscelis, kadal whiptail yang bereproduksi secara aseksual yang diteliti oleh Baumann dan rekan di Stowers Institute for Medical Research di Kansas City, Missouri. Kadal itu semuanya betina dan bersifat partenogenetik. Artinya, telur berkembang menjadi embrio tanpa pembuahan. Sebelum berbentuk telur, sel betina mendapatkan tambahan dua kali lipat jumlah kromosom biasa. Telur pun memperoleh jumlah kromosom utuh, berikut keragaman dan cakupan genetiknya (heterozigositas).

Mengapa hal ini terjadi? Karena lama berselang, ungkap Baumann, kadal genus Aspidoscelis mengalami “peristiwa hibridisasi”—yaitu, betina dari satu spesies melanggar bentuk dan kawin dengan pejantan dari spesies lain. Perkawinan ini memberi kadal whiptail sifat heterozigositas yang kuat, yang terpelihara dalam replikasi identik—atau, pada dasarnya, kloning—yang terjadi dalam reproduksi aseksual. Keuntungan keragaman genetik inilah yang dinikmati betinanya saat ini, lalu menyebarkannya.