Dibanding Permainan Asah Otak, Tiga Aktivitas Ini Lebih Efektif Tingkatkan Kemampuan Kognitif

By , Kamis, 20 April 2017 | 19:00 WIB

Permainan asah otak selama ini dianggap dapat meningkatkan kemampuan kognitif, seperti memori kerja, penalaran dan kecepatan pemrosesan di otak.

Baru-baru ini, tim peneliti dari Florida State University melakukan studi yang hasilnya justru menunjukkan bahwa permainan asah otak tidak banyak meningkatkan kemampuan memori maupun mencegah penurunan kognitif lainnya.

"Temuan kami dan penelitian sebelumnya memastikan bahwa hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan jenis permainan ini dapat memperbaiki hidup Anda dengan cara yang berarti," kata Wally Boot, penulis studi yang merupakan profesor psikologi di FSU.

Dengan kata lain, kita mungkin saja menjadi ahli dalam permainan asah otak ini, tapi tidak membantu kita mengingat di mana kita meletakkan kunci mobil.

Daripada hanya bergantung dengan permainan asah otak, para peneliti menyarankan beberapa aktvitas yang dapat membantu membentuk jaringan saraf baru di otak, sehingga membuat organ tersebut bekerja lebih baik bahkan di usia tua. Apa saja?

Berolahraga

Berolahraga secara teratur lebih efektif meningkatkan kesehatan otak dibanding pelatihan otak. Berolahraga dapat membantu mengurangi resistensi insulin, inflamasi, dan merangsang pelepasan senyawa kimiawi di otak yang dapat menyehatkan sel-sel otak, merangsang produksi pembuluh darah dan sel-sel baru di otak.

Studi tahun 2016 menemukan bahwa berolah raga secara rutin dan berkelanjutan dapat memperlambat atau bahkan membalikkan perubahan biologis yang menyebabkan demensia di kalangan pria dan wanita dengan gangguan kognitif ringan.

Setelah berolahraga selama 45 menit empat kali seminggu dalam enam bulan, orang dewasa dengan masalah memori menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir dan penurunan kadar racun protein tau di otak.  Olah raga dapat menyebabkan peningkatan aliran darah ke area otak yang biasanya terbatas pada orang yang mengalami hilang ingatan.

Bermain alat musik

Kemampuan untuk mempelajari keahlian baru di usia tua dapat membantu membuat koneksi baru di otak. Hasil pemindaian otak menunjukkan bahwa corpus callosum—kumpulan serat saraf yang menghubungkan dua sisi otak—pada musisi jauh lebih besar ketimbang non musisi. Lebih dari itu, pelatihan musik dapat meningkatkan ingatan verbal, penalaran spasial, dan kemampuan literasi.

Belajar bahasa baru

Orang dwibahasa memiliki lebih banyak keuntungan jika menyangkut kesehatan otak. Studi tahun 2014 menemukan bahwa orang yang berbicara dengan lebih dari satu bahasa lebih baik dalam menyaring kata-kata yang tak diperlukan ketimbang orang yang bicara hanya dalam satu bahasa.

Para peneliti meyakini, kondisi tersebut terjadi karena dengan aktif berbicara dengan lebih dari satu bahasa merupakan latihan otak yang konstan. Meski mungkin belum tentu membuat Anda lebih pintar, belajar bahasa baru dapat membuat otak tetap sehat dan aktif.