Sebelum Sampai di Everest, Ini Tempat Ekstrem yang Harus Disambangi Putri Pendaki Indonesia

By , Sabtu, 21 April 2018 | 13:30 WIB

Pada 30 Maret 2018, tim WISSEMU (Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar) yang terdiri dari Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24), tiba di Kathmandu, ibu kota Nepal.

Dua hari setelah itu, mereka langsung melakukan pendakian ke Gosaikunda, yang memiliki ketinggian 4.380 meter di atas permukaan laut. Bandingkan dengan Semeru, gunung tertinggi di Jawa yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut.

Jika para pendaki di Indonesia bisa dengan mudah mencapai puncak manapun di Indonesia dengan pendakian langsung, tidak demikian halnya dengan pendakian ke Everest yang berketinggian 8.848.

Ada banyak proses pendakian gunung lain di Pegunungan Himalaya ini yang wajib dilakukan, sebelum seorang pendaki diperbolehkan untuk mencapai puncak Everest. Hal ini terkait pembiasaan tubuh seorang pendaki terhadap ketinggian, atau yang biasa disebut aklimatisasi.

Perjalanan pulang dari Gosaikunda Pass yang berketinggian 4.600 mdpl menuju kamp di Gosaikunda (4.380 mdpl) diwarnai dengan hujan salju. (Fransiska Dimitri Inkiriwang/WISSEMU)

Aklimatisasi adalah proses yang dibutuhkan oleh organ-organ tubuh manusia, untuk menyesuaikan diri dengan perubahan di lingkungan yang ia datangi. Hal ini mencakup suhu, kelembapan, atau ketinggian.

Bagi tim WISSEMU, perjalanan aklimatisasi menuju area Gosaikunda ini sendiri memakan waktu selama enam hari. Perjalanan pendakian berhenti di tiga titik ketinggian, yaitu Shin Gompa (3.330 mdpl), Laurebina (3.950 mdpl) dan terakhir di Gosaikunda (4.380 mdpl).

Jalur yang ditapaki oleh tim WISSEMU pun tak mudah. Perjalanan menapaki bebatuan dari Laurebina menuju Gosaikunda dipenuhi dengan debu, membuat tim WISSEMU harus menggunakan kain penutup muka di sepanjang perjalanan agar mulut dan tenggorokan tidak kering.

Selain itu hujan salju pun mendera, membuat mereka sulit untuk melihat jalur yang harus dilalui.

Di tempat ini pun tim WISSEMU akan menghabiskan waktu selama tiga malam, sambil menyambangi Gosaikunda Pass di ketinggian 4.600 mdpl, menggenapi proses aklimatisasi tubuh sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi lagi.

Suasana perjalanan di Pang La Pass Shekar yang terletak 5.000 meter di atas permukaan laut, juga dalam rangka aklimatisasi menuju puncak Everest (8.848 mdpl). (Fransiska Dimitri Inkiriwang/WISSEMU)

Selasa lalu, pada 17 April 2018, tim WISSEMU kembali melakukan aklimatisasi ke Pegunungan Pang La di ketinggian 5.210 mdpl.

Dari sisi barat dapat terlihat puncak-puncak dengan ketinggian di atas 8.000 mdpl. Di antaranya adalah Puncak Makalu (8.481 mdpl), Puncak Manaslu (8.156 mdpl), Puncak Lhotse (8.516 mdpl), PuncakCho Oyu (8.201 mdpl), Puncak Shisapangma (8.013 mdpl) dan tentunya Puncak Gunung Everest (8.848 mdpl).

"Kami sudah melihat Puncak Everest!" ujar Mathilda dan Fransiska dengan bersemangat, dalam video singkat yang mereka unggah dalam akun Instagram @ina7summits. Trek perjalanan Pang La layaknya perjalanan di gurun pasir bebatuan dengan suhu 9°C dan kondisi yang kering.

Aklimatisasi akan terus tim WISSEMU lakukan di tempat-tempat lainnya saat berada di Everest Base Camp, sebelum akhirnya mencoba menggapai puncak Everest pada pertengahan Mei yang akan datang, dengan dukungan dari Bank BRI dan PT Multikarya Asia Pasifik Raya.