Benarkah Media Sosial Berdampak Negatif pada Citra Tubuh? Ini Faktanya

By Hanny Nur Fadhilah, Minggu, 13 November 2022 | 11:00 WIB
Penggunaan media sosial dapat mempengaruhi kepuasan penampilan pengguna. (Anna Shvets)

Nationalgeographic.co.id – Media sosial memainkan peran besar dalam kehidupan banyak orang. Mulai dari membantu untuk memediasi hubungan pribadi dan profesional, melacak berita lokal dan internasional, dan memberi banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Namun di samping efek positif ini, banyak psikolog juga menyoroti dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental dan citra tubuh kita.

Salah satunya, penelitian internal oleh Facebook menunjukkan bahwa satu dari tiga gadis remaja yang sudah bergumul dengan masalah citra tubuh, aplikasi Instagram membuat mereka merasa lebih buruk. Namun, di depan umum, perusahaan dan pengembang banyak aplikasi serupa secara konsisten meremehkan dampak berbahaya apa pun pada citra tubuh pengguna.

Kesimpulan internal Facebook mencerminkan sejumlah laporan terbaru lainnya yang menunjukkan bahwa keterlibatan dengan media sosial dapat berdampak negatif pada citra tubuh. Faktanya, para psikolog semakin menyoroti fakta bahwa media sosial menciptakan tekanan baru untuk terlibat dalam kerja tubuh dan memahat tubuh yang ‘sempurna’. Ketika pengguna melihat gambar penampilan yang diidealkan di media sosial, kemudian membandingkan diri dengan gambar tersebut, mereka lebih cenderung mengalami citra tubuh negatif dan, pada gilirannya, sejumlah hasil yang merugikan, termasuk gejala gangguan makan. Namun, sangat sedikit dari penelitian ini yang meneliti dampak media sosial terhadap pengguna dalam kehidupan sehari-hari di luar lab.

Penggunaan media sosial dan citra tubuh

Dilansir Pscyhology Today, sebuah penelitian menggunakan studi longitudinal yang berjalan selama dua minggu menggunakan perangkat yang dapat dikenakan di pergelangan tangan untuk menilai pengalaman peserta saat mereka terlibat dengan media sosial dalam kehidupan sehari-hari mereka (Stieger et al., 2022).

Peserta melaporkan kepuasan penampilan mereka setiap kali berinteraksi dengan gambar atau video yang menggambarkan orang lain saat menggunakan platform media sosial. Untuk membuat penilaian semudah mungkin, kami menggunakan perangkat yang dapat dikenakan dan sensor bawaannya untuk menilai kepuasan penampilan pada saat itu juga. Untuk melakukannya, kami mengembangkan ‘skala analog fisik’ di mana sudut lengan bawah dalam ruang 3D mewakili skala pengukuran kepuasan penampilan secara bertahap. Ini berarti bahwa peserta tidak harus menjawab pertanyaan pada survei kertas dan pensil, melainkan dapat membawa lengan mereka ke sudut yang diinginkan untuk melaporkan kepuasan penampilan mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dengan media sosial mengurangi kepuasan penampilan partisipan. Dengan kata lain, terlibat dengan postingan media sosial memiliki efek negatif langsung pada citra tubuh. Menariknya, dampak negatif ini dua kali lebih merusak ketika berinteraksi dengan postingan orang yang dikenal peserta—seperti teman dan anggota keluarga—dibandingkan dengan orang yang tidak dikenal, seperti influencer dan selebritas. Efek ini konsisten bahkan memperhitungkan faktor demografis, seperti jenis kelamin dan ukuran tubuh, serta faktor terkait citra tubuh.

 Baca Juga: Apa yang Membuat Orang Membagikan Postingan di Media Sosial?

 Baca Juga: Riset Ungkap Bagaimana Medsos Perburuk Kesehatan Mental di Indonesia

 Baca Juga: Temuan Sains: Singkap Usia Remaja yang Paling Rentan Media Sosial

Mengapa postingan oleh orang yang dikenal bisa lebih berdampak daripada postingan orang asing? Satu penjelasan yang mungkin berasal dari teori perbandingan sosial (Festinger, 1954), yang menunjukkan bahwa jika seseorang sangat berbeda dari Anda yaitu, orang asing. Anda cenderung membuat perbandingan sosial dengan mereka. Sebaliknya, ketika pengguna terlibat dengan postingan oleh orang lain yang dikenal, penampilan ideal apa pun yang dikomunikasikan mungkin terasa lebih relevan atau dapat dicapai secara pribadi. Pada saat yang sama, pengguna mungkin lebih terlibat secara kritis dengan postingan dari model dan selebritas, sehingga menganggap gambar yang mereka bagikan lebih tidak realistis.

Mengingat temuan ini, tampaknya kekhawatiran tentang dampak negatif media sosial terhadap citra tubuh mungkin bisa dibenarkan. Terlibat dengan media sosial tampaknya memiliki dampak negatif langsung pada kepuasan penampilan, yang dapat diterjemahkan menjadi masalah citra tubuh jangka panjang. Untuk mengurangi efek tersebut, pengguna media sosial mungkin disarankan untuk membatasi penggunaan media sosial mereka.

Dalam studi di atas, partisipan menggunakan media sosial secara aktif (misalnya membuat postingan Facebook, menulis Tweet, dan mengirim pesan WhatsApp) rata-rata 73 menit per hari dan secara pasif (menonton video YouTube, membaca postingan Facebook, melihat Snapchat gambar) selama 90 menit per hari—total hampir tiga jam per hari. Selain itu, mengubah profil dan postingan yang diikuti seseorang juga dapat membantu, khususnya, terlibat dengan postingan yang mempromosikan citra tubuh yang lebih sehat dapat membantu mengurangi beberapa efek terburuk media sosial terhadap citra tubuh.