Bukan Cuma Manusia, Ternyata Kucing pun Bisa Demensia
Nationalgeographic.co.id—Sebuah studi baru menemukan bahwa kucing juga mengalami gejala seperti demensia di usia tua. Kucing yang mengalami demensia ini memiliki perubahan serupa di otaknya dengan manusia yang menderita Alzheimer. Temuan ini dapat membuka pintu bagi penelitian baru. Kelak, penelitian mungkin dapat membantu mendorong penemuan terapi untuk penyakit yang terkenal sulit diobati ini.
“Dibandingkan dengan penyakit lain, kemajuan kita dalam mengobati Alzheimer terbilang buruk,” ujar Dr. Robert McGeachan, penulis utama studi. Studi tersebut bertajuk “Amyloid-Beta Pathology Increases Synaptic Engulfment by Glia in Feline Cognitive Dysfunction Syndrome: A Naturally Occurring Model of Alzheimer's Disease”.
“Kucing bisa menjadi model yang lebih baik dan lebih relevan untuk penyakit ini karena kita melihat hal serupa terjadi di otak. Dengan mempelajari Alzheimer pada kucing, kita mungkin dapat mengembangkan pengobatan yang lebih mungkin berhasil pada manusia.”
Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum. Demensia merupakan sekumpulan penyakit neurodegeneratif yang memengaruhi daya ingat, pemecahan masalah, bahasa, dan perilaku manusia. Sekitar 1 dari 9 orang berusia di atas 65 tahun menderita Alzheimer. Dan dengan populasi global yang menua, lebih dari 150 juta orang kemungkinan akan hidup dengan penyakit ini pada 2050.
Penelitian telah dilakukan selama puluhan tahun dan menghabiskan miliaran dolar. Tapi hampir tidak ada pengobatan yang efektif saat ini.
Bagaimana kucing terkena demensia?
Pengetahuan bahwa kucing menunjukkan gejala seperti demensia seiring bertambahnya usia bukanlah hal baru. Menurut sebuah survei, hampir sepertiga kucing berusia 11 hingga 14 tahun menunjukkan setidaknya satu tanda sindrom disfungsi kognitif kucing (CDS). CDS adalah istilah kedokteran hewan untuk demensia pada kucing. Untuk kucing di atas 15 tahun, angka tersebut melonjak menjadi lebih dari setengahnya.
Gejala CDS pada kucing, seperti halnya Alzheimer, meliputi perubahan siklus tidur-bangun dan disorientasi. Kucing juga mungkin menjadi lebih vokal (lebih sering mengeong). Kucing yang mengalami demensia sering kali menginginkan lebih banyak kenyamanan dan perhatian dari pemiliknya.
Sebagaimana halnya manusia yang lebih tua, diketahui juga bahwa otak kucing yang menua seringkali ditutupi oleh akumulasi protein. Dikenal sebagai 'plak amiloid-beta', akumulasi protein diduga berkontribusi terhadap perkembangan Alzheimer.
“Seiring bertambahnya usia, manusia mengembangkan plak protein ini di otak. Namun hanya beberapa orang yang terkena Alzheimer. Dan kami masih belum benar-benar tahu mengapa,” kata McGeachan.
“Itulah yang kami alami pada kucing. Kami tahu mereka menderita demensia. Seiring bertambahnya usia, beberapa kucing mengembangkan protein ini di otak. Namun kami tidak tahu apakah ini hanya terkait usia atau apakah itu dapat berkontribusi terhadap demensia,” tambah McGeachan lagi.