Apakah Dinosaurus Besar Selalu Punya Gigitan Lebih Kuat?
Nationalgeographic.co.id—Bayangkan dinosaurus raksasa pemakan daging yang dulu hidup di Bumi. Anda mungkin membayangkan mereka memiliki rahang yang besar dan kuat untuk mengunyah mangsanya.
Namun, ternyata hal itu mungkin tidak selalu terjadi. Para ahli mengamati kekuatan gigitan 18 spesies dinosaurus besar yang berbeda. Mereka menemukan bahwa sejumlah predator prasejarah memiliki gigitan yang jauh lebih lemah daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology memaparkan tentang gigitan dinosaurus. Teropoda – kelompok dinosaurus karnivora bipedal yang mencakup Tyrannosaurus rex, Spinosaurus, dan Allosaurus – memiliki tubuh yang besar. Namun menurut studi, hanya beberapa yang mengembangkan kekuatan tengkorak yang dibutuhkan untuk gigitan berkekuatan tinggi.
Studi tersebut bertajuk Carnivorous dinosaur lineages adopt different skull performances at gigantic size.
Dengan menggunakan pemindaian 3D dan pemodelan komputer, peneliti menganalisis biomekanika tengkorak dari 18 spesies teropoda.
T. rex memiliki tengkorak yang dioptimalkan untuk menghasilkan kekuatan gigitan yang sangat besar dan yang mampu menembus tulang. Sedangkan raksasa lain memiliki rahang yang relatif lebih lemah dan mengandalkan strategi berburu yang berbeda.
“Tyrannosaurid seperti T. rex memiliki tengkorak yang dioptimalkan untuk kekuatan gigitan tinggi. Mereka mengorbankan tekanan tengkorak yang lebih tinggi,” kata penulis utama Dr. Andrew Rowe dari Bristol University.
Namun pada beberapa raksasa lain, seperti Giganotosaurus, peneliti menghitung pola tekanan yang menunjukkan gigitan yang relatif lebih ringan. Hal ini menunjukkan bagaimana evolusi dapat menghasilkan beragam “solusi” bagi kehidupan sebagai biped karnivora yang besar.”
Alih-alih mengikuti satu jalur evolusi menuju status puncak, karnivora raksasa mengembangkan beragam bentuk tengkorak dan gaya makan. Beberapa, seperti T. rex, menggigit seperti buaya. Lainnya, seperti Allosaurus atau Spinosaurus, menggunakan teknik mencabik atau merobek yang lebih mirip dengan komodo modern atau kucing besar.
“Tiranosaurus melakukan sesuatu yang berbeda,” ujar Steve Brusatte, seorang profesor dan paleontolog di Edinburgh University. Tiranosaurus memperbesar kepala mereka dan mengembangkan kekuatan gigitan yang sangat besar. Gigitan itu cukup untuk mematahkan tulang mangsanya.
Menurut Brusatte, hal tersebut merupakan gaya hidup yang berisiko dan penuh tekanan, secara harfiah. Kenapa? Kepala yang besar memberikan tekanan yang sangat besar pada tulang tengkorak dan otot-ototnya.