Kisah Nyata Shinsengumi dalam Rurouni Kenshin, Prajurit Elite 'Pemecah' Sejarawan
Nationalgeographic.co.id—Jepang pada pertengahan abad ke-19 adalah panggung pergolakan dramatis. Suara deru "Kapal Hitam" Komodor Matthew Perry pada 1853 memecah isolasi negara itu, mengakhiri kebijakan Sakoku yang telah berlangsung berabad-abad dan memicu krisis identitas nasional.
Kedatangan asing itu mengungkap kelemahan Keshogunan Tokugawa yang sudah mapan, memicu gejolak sosial, tantangan diplomatik, dan munculnya faksi politik radikal yang menyerukan sonnō jōi—"Hormati Kaisar, Usir Orang Barbar."
Dalam kekacauan yang dikenal sebagai periode Bakumatsu (1853–1868) ini, Keshogunan goyah di ambang kehancuran. Ibu kota kekaisaran, Kyoto, berubah menjadi sarang intrik politik, konspirasi kekerasan, dan pembunuhan.
Ketika struktur kekuasaan feodal retak dan janji modernitas terasa mencekik, sebuah kelompok muncul dari lapisan bawah masyarakat untuk menjadi garis pertahanan terakhir sistem yang sekarat.
Mereka adalah para rōnin (samurai tanpa tuan), petani, pedagang, dan pengrajin—pria-pria dari status sosial rendah—yang bersatu di bawah bendera kesetiaan mutlak. Mereka akan menjadi pasukan polisi khusus yang ditakuti dan dihormati: Shinsengumi, atau "Korps yang Baru Dipilih." Dibentuk untuk mengembalikan ketertiban di tengah anarki, kelompok ini diselimuti kemuliaan sekaligus kontroversi.
Namun, siapakah sebenarnya para prajurit elite ini? Apakah mereka pahlawan tragis yang menjunjung tinggi bushido atau sekelompok pembunuh berdarah dingin?
Pembentukan dan Mandat Kyoto
Benih Shinsengumi, seperti dilansir laman History Skills, ditanam pada 1863 ketika sekelompok ahli pedang direkrut untuk menjaga Shogun Tokugawa terakhir selama kunjungannya ke Kyoto.
Awalnya, ide ini dipimpin oleh Kiyokawa Hachirō, seorang rōnin pro-kekaisaran yang kemudian terungkap sebagai pendukung radikal sonnō jōi dan akhirnya diusir. Tiga belas penjaga ini, yang tinggal setelah Shogun pergi, menjadi cikal bakal Shinsengumi. Mereka kemudian diambil alih oleh kepemimpinan triumvirat: Serizawa Kamo, Niimi Nishiki, dan Kondō Isami.
Shinsengumi secara resmi didanai oleh klan Aizu, yang sangat setia kepada Keshogunan karena pemimpin asli mereka adalah putra dari Shogun Tokugawa kedua. Tuan feodal Aizu, Matsudaira Tadatoshi, bertugas menjaga perdamaian di Kyoto, dan Shinsengumi adalah alatnya.
Sungguh luar biasa bagaimana kelompok ini, yang sebagian besar anggotanya berasal dari kelas petani, pedagang, dan pengrajin, bukan dari kelas Samurai, berhasil mengatasi hierarki sosial kaku periode Edo.
Baca Juga: Kawakami Gensai, Sosok Samurai yang Menginspirasi Rurouni Kenshin, Hidupnya Tragis