Ilmuwan Indonesia Ubah Sampah Plastik Jadi Pendeteksi Polusi Air
Nationalgeographic.co.id—Apakah Anda akan percaya bahwa kantong plastik bekas pada suatu hari nanti bisa membantu kita mendeteksi logam beracun dalam air minum? Kedengarannya seperti fiksi ilmiah? Ini nyata.
Sebuah terobosan baru yang memukau yang dipimpin oleh Indriana Kartini, peneliti dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia, sedang melakukan hal yang persis seperti itu.
Ia dan timnya berusaha mengubah sampah plastik menjadi nanomaterial bercahaya yang dapat mendeteksi polusi dalam air. Dan memang seinovatif itulah bentuk riset mereka.
Masalah Sampah Plastik
Setiap tahun, jutaan ton kantong plastik mencemari lautan kita, menyumbat tempat pembuangan sampah, dan bertahan di ekosistem selama berabad-abad.
Namun bagaimana jika sampah yang membandel ini dapat dilahirkan kembali: idak hanya sekadar didaur ulang menjadi produk plastik lain, tetapi didaur ulang menjadi sesuatu yang berteknologi tinggi dan menyelamatkan jiwa?
Itulah visi berani di balik sebuah studi revolusioner yang makalahnya telah terbit di jurnal Carbon Research pada 3 Juli 2025. Ini bukan sekadar daur ulang, ini adalah proses alkimia yang memiliki tujuan besar.
Bahan Ajaib: Titik Kuantum Karbon
Untuk memahami inovasi tersebut, mari kita lebih dulu mengenal titik-titik kuantum karbon (CQD). Partikel-partikel kecil ini—lebih kecil dari virus—dapat berpendar di bawah sinar UV dan mendeteksi polutan tak terlihat dalam air.
Namun, tidak seperti metode tradisional yang mengandalkan bahan mahal atau beracun, tim ini membuatnya dari sampah kantong plastik. Menggunakan kombinasi cerdas pirolisis termodifikasi dan perlakuan hidrotermal—serta hidrogen peroksida kurang dari 7%—para peneliti mengubah polietilena menjadi CQD hanya dalam 10 jam.
Proses ini lebih cepat, lebih ramah lingkungan, dan lebih efisien daripada sebelumnya. Dan perlu diketahui: nanopartikel yang dihasilkan mencapai hasil kuantum sebesar 10,04%—ukuran seberapa terangnya mereka berpendar—dan menunjukkan stabilitas yang luar biasa di bawah sinar UV, kadar garam ekstrem, dan penyimpanan jangka panjang.
Baca Juga: Solusi Ganda, Ahli Kimia Ini Sukses Ubah Sampah Plastik jadi Penyerap Karbon Dioksida