Berlangganan

Renjana Bhuwana: Keteladanan Sultan Ketujuh Ketika di Pesanggrahan Ambarukmo

Kamis, 23 Oktober 2025 | 17:00 WIB
National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin
Bagikan :
RENJANA BHUWANA
Pameran arsip Renjana Bhuwana, memori jejak Sultan Hamengkubuwono VII semasa menetap di Pesanggrahan Ambarukmo.

Nationalgeographic.co.id—Pameran Renjana Bhuwana mengajak publik untuk menelusuri jejak kebesaran hati Sultan Hamengku Buwono VII sebagai sosok yang tidak hanya memimpin dengan kuasa, tetapi juga dengan renjana dan welas asih terhadap bumi dan manusia. Dari Pesanggrahan Ambarukmo, semangat itu dihidupkan kembali sebagai napas baru untuk memahami harmoni antara sejarah, alam, dan kemanusiaan.

Arsip yang akan dipamerkan bersumber dari buku AMBARRUKMO: Jati Diri dan Kebanggaan Bangsa karya Mikke Susanto dan Sri Margana, diterbitkan oleh Royal Ambarrukmo Yogyakarta, 2025. Sebuah buku yang menyingkap kembali makna terdalam dari Ambarrukmo sebagai pesanggrahan, sebagai kedhaton, dan sebagai penanda jati diri bangsa. Melalui arsip, narasi sejarah, dan refleksi budaya, pembaca diajak menyusuri lorong waktu yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, antara warisan leluhur dan semangat kebangsaan.

"Pameran Renjana Bhuwana bukan sekadar membuka sejarah ruang maupun tentang seorang raja bernama Sultan Hamengkubuwono VII," ungkap Mikke Susanto, "tetapi juga membuka kisah tentang hubungan sejarah kebangsaan yang nasionalistik dengan jiwa estetik para seniman yang hidup pada masa tertentu di kompleks Kedaton Ambarrukmo."

Pameran arsip ini diselenggarakan pada 24–26 Oktober 2025 di Pendopo Ambarukmo, Yogyakarta. Pameran ini menjadi ruang refleksi atas makna kemanusiaan, kepemimpinan, dan keseimbangan hidup yang berakar dari jejak Sultan Hamengkubuwono VII semasa menetap di Pesanggrahan Ambarukmo.

Pesanggrahan Ambarukmo menyimpan kisah maknawi yang mendalam dari seorang raja yang memilih menepi di masa senjanya. Disebut pula sebagai “Kedhaton”, pesanggrahan ini secara simbolis memiliki kedudukan setara dengan keraton, namun dengan ruh yang lebih hening dan kontemplatif. Dalam ruang-ruang yang masih terjaga, terpahat simbol-simbol filosofis seperti ukiran bertuliskan “Ha Ba” pada soko guru yang melambangkan kelapangan hati seorang pemimpin yang telah melepaskan kekuasaan dan kembali pada hakikat diri.

Gelaran pameran arsip ini merupakan kolaborasi mahasiswa ISI Yogyakarta yang berasal dari lintas program studi Tata Kelola Seni, Seni Murni, Desain Mode Kriya Batik, dan Desain Interior.

Melalui arsip-arsip kontekstual, visual, dan audiovisual, pameran ini menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan oleh Sultan HB VII: kebijaksanaan, keluhuran budi, serta harmoni antara manusia dan alam. Arsip-arsip tersebut tidak hanya dihadirkan sebagai benda dokumenter, melainkan sebagai penanda perjalanan batin seorang pemimpin yang telah menanam benih kemakmuran di tanah Yogyakarta.

"Renjana Bhuwana" secara harfiah bermakna “Hati & Bumi”. Berkisah tentang Pesanggrahan Ambarrukmo dan penghuninya: Sultan Hamengkubuwono VII. Ambarrukmo merupakan satu dari sebelas pesanggrahan yang telah dibangun oleh Kasultanan Ngayogyakarta. Sebuah pesanggrahan dengan sejarah yang unik, karena paling banyak mengalami perubahan fungsi sekaligus menjadi bagian dalam proses berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan menghadirkan ratusan arsip tekstual, visual, audiovisual, serta instalasi alam dengan balutan tanaman, janur, dan bunga, diharapkan dapat mengungkap visualisasi kosmologi Jawa yang menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam. Selain sebagai bagian dari tugas mata kuliah Kurasi Arsip di kampus ISI Yogyakarta, pameran ini menjadi sarana pembelajaran sejarah dan seni yang diteladankan oleh Sultan Hamengkubuwono VII melalui ragam peninggalannya di kompleks Ambarrukmo.

Instalasi ruang pamer mengadopsi konsep kosmologi Jawa, di mana antara manusia, alam, serta spiritualitas menjadi selaras, dengan menghadirkan instalasi kain, kayu, tanaman, janur, dan bunga yang mendukung tema pameran Renjana Bhuwana sebagai keselarasan hati dan bumi.

Pameran ini akan dibuka oleh Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta pada Jumat, 24 Oktober 2025 pukul 16.00 WIB, dan dapat dikunjungi hingga 26 Oktober 2025 di Pendopo Ambarukmo, Yogyakarta, setiap hari pukul 10.00–17.00 WIB. Selain pameran arsip, kegiatan ini juga akan diaktivasi dengan program-program yang mengandung nilai-nilai keberlanjutan budaya Jawa.

Tag: