Berlangganan

Bentang Layar Karoroq, Bentang Harapan Kebaharian Mandar

Sabtu, 29 November 2025 | 10:34 WIB
National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin
Bagikan :
Yusuf Wahil
Perahu padewakang dengan bentangan layar karoroq yang anggun ketika Ekspedisi Padewakang Nur Al Marege, Australia utara, pada Desember 2019-Januari 2020. Selain hanya segelintir perempuan yang mampu melestarikan cara membuatnya, kebutuhan layar tradisional ini telah digantikan dengan layar sintetik yang lebih murah.

Keresahan seorang fotografer atas tradisi bahari tanah kelahirannya yang kian memudar. Pameran karya fotografinya melecutkan gagasan dan upaya pelestarian menjadi sebuah amanah sebelum semuanya punah.

Nationalgeographic.co.id—"Sebagai fotografer dan orang yang tumbuh di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, mungkin saya orang yang beruntung," kata Yusuf Wahil. "Saya berkesempatan mengkikuti proses pembuatan layar [karoroq] dan perahu padewakang hingga mengarungi lautan."

Enam tahun silam, lelaki yang akrab disapa Ucup ini turut menjadi awak pelayaran menapak tilas pelaut Makassar ke Australia utara: Ekspedisi Padewakang Nur Al Marege. Pelayaran cum reka ulang sejarah itu menggunakan peranti seautentik mungkin—berperahu padewakang dengan layar karoroq. Layar berwarna cokelat itu ditenun dari serat daun lanu atau daun gebang (Corypha utan), sejenis palem-paleman, yang banyak tumbuh di Mandar dan Buton. Penenunnya adalah tangan-tangan lembut para perempuan di sana.

Sana, 56 tahun, memperlihatkan kando-kandoraq, dari serat lanu yang akan ditenun menjadi karoroq. Ia merupakan warga di Kampung Lanu, toponimi yang menandai pohon-pohon lanu yang daunnya digunakan untuk layar kororoq. Kampung ini berada di Dusun Pussuba, Desa Gattungan, Kecamatan Campalagiang, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.

"Sayangnya, kini hanya tiga orang yang masih berkarya—pun tak rutin lagi," imbuhnya dengan prihatin. "Mereka pasrah menanti pesanan untuk kepentingan ekspedisi ataupun pertunjukan seni."

Sebelum kedatangan perahu-perahu bermesin motor, pelaut-pelaut Mandar menggunakan layar karoroq untuk perahu mereka. Yusuf menambahkan bahwa layar ini merupakan sebuah kebanggaan Tanah Mandar. Pasalnya, dahulu layar ini bukan hanya digunakan oleh pelaut Mandar, tetapi juga pelaut-pelaut seantero Nusantara yang memesannya dari Tanah Mandar.

A’da, perempuan warga Kampung Lanu berusia 45 tahun, sedang mearik serat daun lanu yang sedanag ditenun.

Pemaparan itu dia sampaikan sebagai pembuka pameran karya fotografinya bertajuk "Mengarungi Warisan Budaya Maritim Mandar: Layar Karoroq". Perpustakaan Museum Nusa Pustaka menjadi tempat pameran yang digelar pada 24 November 2025 sampai 31 Januari 2026. Rumah yang menyala-nyala karena semangat literasi warganya ini mengoleksi lebih lima ribu buku dan beberapa artefak kebaharian. Berlokasi di Pambusuang, Polewali Mandar, pesisir Sulawesi Barat. Perhalatan ini didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan XVIII Wilayah Kerja Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat dalam program Fasilitasi Pemajuan Kemudayaan.

Sebuah diskusi hadir membersamai pembukaan pameran foto ini. Perbincangan menghadirkan narasumber Yusuf Wahil selaku fotografer yang berpameran, Muhammad Ridwan Alimuddin sebagai pegiat literasi dan peneliti budaya Mandar, dan Mahandis Yoanata Thamrin sebagai Managing Editor di National Geographic Indonesia. Pemantik diskusinya adalah Farhanuddin selaku dosen FISIP Hukum di Universitas Sulawesi Barat.

Tiga penenun terakhir? Killa (70), Sana (56), dan Ma’di (70) adalah penenun layar karoroq yang tersisa di Kampung Lanu, Dusun Pussuba, Desa Gattungan, Kecamatan Campalagiang, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Akankan tradisi menenun daun lanu untuk layar karoroq punah sebelum diturunkan ke generasi kini?

Sederet komunitas warga hadir dalam pembukaan pameran ini: Uwake Culture Foundation yang bergiat dalam pagelaran seni dan pertunjukan, Rambat Institute yang bergiat pada pendataan situs-situs budaya, Diafragma Majene yang mendokumentasikan budaya dan pariwisata setempat, Sahabat Pesisir yang bergiat dalam pelestarian ekositem laut, Komunitas Bahari Mandar yang menggelar festival kebaharian dan edukasi bahari seperti Student on Sandeq, Sahabat Ikan yang bergiat dalam pencarian nama-nama ikan dalam bahasa Mandar.

Baca Juga: Nenek Moyang Kita Pelaut, Sudah Bikin Perahu Canggih sejak 40.000 Tahun Lalu

Tag: