Akibat Perubahan Iklim, Iklim Hutan Amazon Berubah Jadi Hipertropis
“Jika emboli ini jumlahnya cukup banyak, pohon tersebut akan mati,” kata Chambers. Ia menambahkan bahwa ambang batas kelembapan tanah yang memicu kegagalan sistem ini ternyata sangat konsisten, baik selama dua peristiwa El Niño pada 2015 dan 2023, maupun di lokasi penelitian lain di Amazon. “Hal ini benar-benar mengejutkan semua orang,” ujarnya.
Saat ini, tingkat kematian pohon tahunan di hutan hujan Amazon sedikit di atas 1%. Namun, para peneliti memperkirakan angka tersebut dapat meningkat hingga 1,55% pada tahun 2100. Meski tampak kecil, peningkatan ini akan berdampak sangat besar jika dilihat dalam skala keseluruhan hutan hujan Amazon, kata Chambers.
Pohon-pohon yang tumbuh cepat ternyata lebih rentan terhadap kekeringan panas dibandingkan pohon-pohon yang tumbuh lambat. Hal ini karena pohon cepat tumbuh membutuhkan pasokan air dan CO₂ yang melimpah untuk mempertahankan laju pertumbuhannya.
Temuan ini menunjukkan bahwa di masa depan, pohon-pohon yang tumbuh lambat—seperti ipê kuning (Handroanthus chrysanthus) dan shihuahuaco (Dipteryx micrantha)—kemungkinan akan mendominasi Amazon seiring meningkatnya suhu, asalkan mereka mampu bertahan menghadapi tekanan air yang semakin besar dan laju perubahan suhu yang cepat.
Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa hutan hujan di wilayah lain di dunia, seperti Afrika Barat dan Asia Tenggara, mungkin tengah mengalami pergeseran menuju rezim iklim hipertropis yang serupa. Pergeseran ini membawa implikasi besar bagi siklus karbon Bumi, mengingat hutan hujan menyerap sejumlah besar CO₂ yang seharusnya dilepaskan ke atmosfer.
Prediksi mengenai kondisi Amazon pada tahun 2100 ini dibuat dengan asumsi bahwa pengurangan emisi CO₂ berlangsung sangat minimal.
Karena itu, menurut Chambers, masa depan iklim hipertropis di Amazon sangat bergantung pada pilihan manusia saat ini. “Jika kita terus melepaskan gas rumah kaca tanpa kendali, maka kita akan menciptakan iklim hipertropis tersebut jauh lebih cepat.”
---
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.