24 Tahun Lalu, Bush Sebut Irak, Iran, dan Korea Utara sebagai 'Poros Setan'
Nationalgeographic.co.id—Tepat hari ini, 29 Januari 2026, dunia mengenang kembali sebuah pidato yang mengubah peta geopolitik global secara permanen.
Dua puluh empat tahun silam, Presiden Amerika Serikat George W. Bush berdiri di hadapan Kongres dalam pidato State of the Union pertamanya pasca-serangan 11 September 2001.
Dengan nada yang tegas dan penuh retorika perang, Bush memperkenalkan istilah yang kelak memicu perdebatan panjang selama puluhan tahun: "Poros Setan" atau Axis of Evil. Dalam narasinya, ia menempatkan Irak, Iran, dan Korea Utara sebagai simpul utama dari jaringan teroris internasional yang paling berbahaya.
Pidato ini bukan sekadar retorika domestik untuk membakar semangat rakyat Amerika, melainkan sebuah proklamasi kebijakan luar negeri yang agresif, yang mendefinisikan doktrin "Perang Melawan Teror" selama dua dekade berikutnya.
Ironisnya, ambisi untuk melenyapkan ancaman yang disebut Bush sebagai "negara-negara teroris" tersebut justru bermuara pada salah satu babak paling kelam dalam sejarah militer Amerika.
Invasi ke Irak yang dimulai setahun kemudian didasarkan pada klaim-klaim intelijen mengenai kepemilikan senjata pemusnah massal (WMD) yang pada akhirnya terbukti fiktif.
Ketika Amerika Serikat akhirnya menyatakan perang berakhir secara resmi pada 15 Desember 2011, hampir sepuluh tahun setelah genderang perang ditabuh, tidak ada satu pun senjata pemusnah massal yang ditemukan di tanah Irak.
Bagaimana mungkin sebuah istilah yang diciptakan oleh penulis pidato kepresidenan bisa menyeret dunia ke dalam konflik bersenjata yang begitu panjang? Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar hingga klaim-klaim tersebut bisa meruntuhkan rezim Saddam Hussein, namun gagal membuktikan kebenarannya?
Ambisi Rezim dan Retorika yang Mengubah Dunia
Istilah "Poros Setan" sebenarnya merupakan hasil pemikiran David Frum, penulis pidato Bush, yang sengaja mengadopsi semangat "Kekuatan Poros" (Axis Powers) dari era Perang Dunia II.
Tujuannya jelas, yakni menyamakan ancaman kontemporer dengan musuh-musuh besar masa lalu seperti Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang.
Baca Juga: Kisah Tragis Chris Kyle: 'American Sniper' yang Roboh oleh Perang yang Ia Bawa Pulang