Berlangganan

Menyelamatkan Satwa-Satwa Tanpa Cinta Endemik Indonesia dari Kepunahan

Rabu, 04 Februari 2026 | 19:00 WIB
Bagikan :
Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Kekah natuna adalah satwa endemik Kepulauan Natuna yang kini terancam punah.

Nationalgeographic.co.id—Banyak satwa terancam punah luput oleh program konservasi karena wujud dan penampilan mereka dianggap tidak menarik. Di Prigen, Jawa Timur, sebuah tempat menjelma menjadi “panti asuhan” bagi satwa-satwa yang terlupakan dan terabaikan itu.

Canda tawa kanak-kanak pecah di tepian sabana yang menampung beragam satwa. Ada anak-anak yang asyik memberi makan waterbuck, sejenis antelop besar asal Afrika. Tampak pula keseruan keluarga yang sedang makan dan berfoto bersama jerapah, hewan tinggi yang juga dari Afrika.

Sebagian dari anak-anak yang sibuk mengulurkan tangan mereka ke arah waterbuck itu adalah anak-anak Muhammad Shazwan, pria asal Malaysia. Tangan-tangan kecil itu menyodorkan wortel-wortel berwarna oranye terang, kontras dengan warna biru langit apabila dipotret dalam satu frame. Suasana pagi di lereng Gunung Arjuno pada pertengahan Desember lalu itu cukup sempurna bagi keluarga Shazwan. Langit cerah. Udara sejuk.

Ya, Shazwan bersama istri dan keempat anaknya masih kecil-kecil—masing-masing berusia 8, 7, 4, dan 1 tahun—sedang berdiri di lereng Gunung Arjuno di Indonesia. Bukan di Afrika. Persisnya di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Mereka terbang dari Kuala Lumpur ke Surabaya, untuk kemudian menempuh perjalanan darat ke Pasuruan. Mereka sedang berada di area Baobab Safari Resort, hotel di kawasan The Grand Taman Safari Prigen yang areanya menyatu dengan sabana yang berisikan hewan-hewan Afrika tersebut.

“Spesifiknya ke Baobab ini karena anak-anak minat sama haiwan. Kalau di Grand Safari itu kan bisa interaksi sama hewan langsung kan dari dalam mobil. Pengalaman baru lah untuk anak-anak. Biasanya lihat binatang dalam cage saja. Jadi kali ini pengalaman yang berbeda,” tutur Shazwan. “Kemudian dari kamarnya langsung tengok ada giraffe pagi-pagi. Lebih spesial.”

Muhammad Shazwan, pengunjung asal Malaysia, bersama anak-anaknya sedang memberi makan kepada satwa-satwa di sekitar Baobab Safari Resort.

Selain anak-anak Shazwan, dua anak Faisal Yuda Astama—pengunjung dari Magelang—juga asyik menikmati pemandangan sabana penuh hewan dengan latar pegunungan di area outdoor hotel tersebut. “Kayaknya di Indonesia baru ini kan yang namanya tempat nginep, tapi bisa langsung interaksi sama hewan-hewan. Tapi bukan hewan-hewan yang biasa ya,” kata Astama. “Kalau hewan-hewan kayak rusa gitu kan mungkin udah biasa. Kalau di sini bisa jerapah, bisa zebra.”

Hewan-hewan karismatik seperti jerapah dan zebra memang selalu menarik perhatian banyak orang, termasuk anak-anak. Mereka adalah para ikon konservasi seperti halnya singa, gajah, panda, dan penguin. Mereka sering membintangi film dokumenter alam, muncul di kotak sereal kita, dan mendapatkan peran utama dalam film animasi. Para konservasionis menyebut para satwa A-list itu sebagai megafauna karismatik atau spesies unggulan.

Keluarga lainnya tampak sedang menikmati momen makan dan berfoto bersama jerapah.

Namun bukan hanya satwa-satwa karismatik seperti itu yang hidup dan dirawat di The Grand Taman Safari Prigen yang luas total areanya mencapai 350 hektare. Melalui Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), Taman Safari juga menampung satwa-satwa nonkarismatik alias satwa-satwa yang kerap terbuang dan terabaikan. Salah satunya adalah monyet dare (Macaca maura), hewan endemik Sulawesi yang kini terancam punah.

Jochen Klaus Menner, warga negara Jerman yang menjadi kurator satwa di PCBA, masih mengingat jelas wajah khas monyet dare yang ia lihat 20 tahun lalu. Saat itu Jochen masih remaja, usianya baru 14 tahun. Pada tahun 2005, Jochen kecil melihat monyet dare di sebuah kebun binatang di Limbach-Oberfrohna, Jerman.

Tag: