Bersatu Padu Menyelamatkan Babi Kutil Jawa dan Babi Kutil Bawean
Nationalgeographic.co.id—Babi kutil jawa (Sus verrucosus) dan babi kutil bawean (Sus blouchi), dua spesies endemik Indonesia, sedang berada di ambang kepunahan. Kedua spesies ini terancam punah akibat perusakan habitat dan perburuan liar.
Pekan lalu, pada 2-6 Februari 2026, para pegiat konservasi dan sejumlah pihak terkait dari pemerintah Indonesia berkumpul bersama di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, untuk mengikuti Lokakarya Perencanaan Aksi Konservasi Babi Kutil Jawa dan Babi Kutil Bawean yang diinisiasi oleh Taman Safari Indonesia. Tujuannya untuk bersatu padu dalam upaya konservasi kedua spesies tersebut.
Selama ini kedua spesies tersebut sering terabaikan dan terlupakan oleh upaya pelestarian meski sudah berstatus terancam punah. Kedua spesies ini dianggap bukan spesies karismatik dan tidak menarik. Dengan banyaknya kutil di wajah mereka, kedua spesies ini bahkan pernah dijuluki sebagai babi terjelek di dunia.
Johanna Rode-White, Ketua Wild Pig Specialist Group di SSC IUCN, mengatakan meski bagi banyak orang kedua spesies ini mungkin diangggap sebagai spesies babi terjelek, "tapi bagi saya spesies ini adalah makhluk tercantik yang pernah saya lihat."
Dia juga mengatakan bahwa kedua spesies ini terancam punah karena sering terlibat konflik dengan manusia. Dia mewanti-wanti menurunnya popoulasi babi kutil akan mempengaruhi banyak spesies lainnya.
Johanna menegaskan, "Konservasi bukan hanya soal spesies karismatik. Ini adalah soal tangung jawab terhadap semua kehidupan."
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik di Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Ahmad Munawir, menjelaskan bahwa babi kutil jawa dan babi kutil bawean merupakan dua dari tujuh spesies babi hutan liar endemik Indonesia yang terancam punah.
Kedua spesies ini punya banyak peran dalam menjaga fungsi ekosistem sehingga perlu dijaga kelestariannya. Munawir menyebutkan bahwa babi kutil berperan "sebagai penggembur tanah, penyebar biji, dan pengatur dinamika vegetasi lantai bawah hutan."
Menurut Munawir, ada banyak ancaman terhadap kelestarian babi kutil jawa dan babi kutil bawean. Beberapa di antaranya adalah persepsi negatif, minimnya pemahaman, dan tekanan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Founder Taman Safari Indonesia sekaligus Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), Tony Sumampau, membenarkan bahwa babi hutan liar seperti babi kutil memang menghadapi ancaman konflik dengan manusia. Dia mencontohkan bahwa di Sulawesi, masyarakat dari kampung muslim kerap membunuh babi karena dianggap haram dan najis, sedangkan masyarakat dari kampung Kristen kerap memburu dan membunuh babi untuk dikonsumsi.
Bagi banyak orang, babi liar juga dianggap hama yang kerap mengganggu perkebunan dan permukiman mereka sehingga kerap dibunuh.
Baca Juga: Menyelamatkan Satwa-Satwa Tanpa Cinta Endemik Indonesia dari Kepunahan