600 Tahun Berkuasa, Apa yang Membuat Kekaisaran Ottoman Begitu Unik?
Sebagian besar sultan memiliki ibu yang berasal dari luar negeri
Sejak masa pemerintahan Orhan, para sultan Kekaisaran Ottoman mulai menikahi dan mempersatukan istri dan selir non-Turki dan bahkan non-Muslim. Untuk mengamankan aliansi politik, Sultan Orhan menikahi Putri Bizantium, Theodora. Hal ini adalah praktik umum di antara banyak negara pada Abad Pertengahan. Praktik ini bertujuan untuk mengamankan kekuasaan politik dan keuangan dengan bersekutu dengan aktor regional kuat lainnya. Kekaisaran Ottoman juga menggunakan taktik ini untuk memperluas wilayah mereka di Anatolia dan Balkan.
Namun, sistem perbudakan selir adalah alasan utama mengapa Kekaisaran Ottoman memiliki ibu non-Turki. Gadis-gadis yang diperbudak, terutama dari provinsi-provinsi Eropa, dibawa ke istana Kekaisaran Ottoman. Mereka dididik dalam hal seni, budaya, dan agama Islam. Mereka yang menarik perhatian valide (ibu ratu) atau sultan menjadi selir. Sementara yang lain dinikahkan dengan pejabat Ottoman, atau sekadar bekerja di Harem.
Secara teori, seorang sultan Kekaisaran Ottoman seharusnya hanya memiliki satu putra dengan seorang selir. Alasan di balik kebijakan ini adalah bahwa para ibu dianggap sebagai pendukung terbesar upaya putra mereka untuk merebut takhta.
Pada periode awal pemerintahan Kekaisaran Ottoman, para pangeran, bersama dengan ibu mereka, dikirim untuk memerintah provinsi-provinsi di sekitar kekaisaran. Hal ini berubah selama pemerintahan Süleyman yang Agung (1520-1566). Süleyman menikahi selirnya Hürrem. Ia membawa selir dan anak-anak mereka untuk tinggal secara permanen di Istana Topkapi.
Kelas penguasa di Kekaisaran Ottoman sebagian besar terdiri dari budak
Ottoman bukanlah kekaisaran pertama yang menggunakan budak dalam sistem administrasinya. Kesultanan Mamluk (abad ke-13-16), dinasti penguasa yang muncul di Mesir, diperintah oleh tentara budak yang dimerdekakan. Demikian pula, budak memainkan peran penting dalam politik dan pemerintahan Kekaisaran Ottoman.
Sebagian besar sultan Ottoman memiliki ibu yang merupakan selir budak. Harem, atau tempat tinggal wanita, dikelola oleh wanita-wanita tersebut. Seperti ibu ratu atau Haseki, selir utama Sultan. Selain itu, harem dijaga oleh kasim Afrika, banyak di antaranya naik ke tampuk kekuasaan sebagai orang kepercayaan dan pendukung dekat ibu ratu atau selir.
Budak Eropa diambil melalui sistem devshirme atau dibeli dari pedagang budak. Devshirme adalah pungutan anak yang dikenakan kepada orang Kristen Balkan. Beberapa keluarga akan kehilangan satu anak laki-laki mereka untuk dibesarkan sebagai Muslim di istana. Anak-anak ini akan dilatih dalam peran administratif atau militer. Banyak yang kemudian menjadi janissari, wazir agung, negarawan, atau cendekiawan agama yang mencapai prestise dan kekuasaan.
Toleransi agama penting dalam pengelolaan Kekaisaran Ottoman
Kekaisaran Ottoman mendukung kebijakan toleransi agama terhadap warga Kristen dan Yahudi mereka. Menurut kepercayaan Islam, kedua komunitas ini dianggap sebagai “umat Kitab”. Oleh karena itu, komunitas Yahidi dan Kristen memiliki status sebagai dhimmi, atau “umat yang dilindungi”. Mereka diizinkan untuk menjalankan agama mereka dengan damai dan tunduk pada pengadilan mereka sendiri. Meski demikian, beberapa non-Muslim lebih memilih untuk membawa kasus mereka ke pengadilan Ottoman.
Non-Muslim juga memainkan peran penting sebagai pedagang, pengrajin, dan bahkan pekerja istana. Kira, misalnya, adalah seorang wanita non-Muslim yang bekerja sebagai perantara antara wanita-wanita harem dan dunia luar, termasuk pengusaha pria. Pada abad ke-16, Esperanza Malchi yang beragama Yahudi memperoleh pengaruh dengan bertindak sebagai Kira untuk Safiye Sultan, ibu Sultan Mehmed III yang berpengaruh.