Berlangganan

Perwara Plaosan, Kepingan Susun Monumen Cinta yang Hilang

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:30 WIB
Mahandis Yoanata Thamrin
Bagikan :
Donny Fernando / National Geographic Indonesia
Seorang pekerja berjongkok memeriksa sepotong batu di candi perwara di Plaosan Lor. Alat sipat datar dan dhodhog menjadi peranti bekerjanya. Di balik candi-candi megah yang telah purnapugar, para juru pugar bekerja dengan ketelitian dan kesabaran. Kadang mereka mencari-cari pasangan batu candi sampai berhari-hari, bahkan sampai sulit untuk tidur. Seolah teka-teki yang menggelitik untuk dipecahkan sepanjang hayat.

Nationalgeographic.co.id—Para pelestari bekerja untuk keabadian. Mereka menyusun kembali keping-keping pencapaian leluhur tentang cinta dan moderasi beragama. Sebuah pekerjaan rumah yang tertunda lebih dari seabad sejak ditemukan kembali—dan entah kapan selesainya.

Desing gergaji cakram pemotong batu menebar debu dan rasa ngilu. Siang itu Sumaryo berdiri dan berkacak pinggang di antara puing-puing batu bangunan suci. Matanya memastikan dengan saksama pemasangan balok-balok batu teras sebuah candi perwara. Kendati bangunan itu mungil, namun punya tingkat teka-teki dan kerumitannya sendiri.

Batu-batu penyusun candi itu serupa kepingan yang saling mengunci. Para pekerja rekonstruksi atau pemugaran candi mirip dengan anak-anak yang sedang bermain balok susun. Butuh ketepatan menemukan batu dengan pasangannya. Bedanya, anak-anak bermain riang dengan balok susun yang ringan, sedangkan para pekerja pemugaran harus berpeluh-peluh untuk mengangkat balok susun yang beratnya hingga ratusan kilogram.

Bercaping yang beralas topi rimba. Wajahnya tampak tetap bersemangat, meski matahari petang masih menyala kuat. Bersama tukang-tukang bangunan, dia menyelesaikan pemugaran lima candi perwara di kompleks Plaosan Lor.

Candi perwara itu merupakan candi-candi mungil berdenah persegi dan memiliki satu pintu masuk di sisi depan. Di Plaosan, bangunannya mengelilingi dan memunggungi candi utama pada lajur geometris yang rapi. Kata "perwara" berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “pengiring” atau “pendamping”. Fungsinya memang sebagai pelengkap bagi bangunan utama, tetapi kehadirannya lebih dari sekadar pelengkap estetis. Candi-candi mungil ini berperan juga sebagai ruang ritual bersama.

Sayangnya, pemugaran selama ini lebih ditujukan pada bangunan candi utama—entah alasan dana atau lemahnya politik kebudayaan kita. Dalam penantian tiada akhir itu ratusan perwara di kompleks ini masih menyisakan reruntuhan balok-balok batunya.

Proyek pemugaran dan rekonstruksi candi perwara yang bermula beberapa dekade silam berhasil sedikit memulihkan pamornya. Para arkeolog bekerja mereka-reka ulang bentuk utuhnya berdasar sisa struktur dan perbandingan tipologis. Saya menyaksikan beberapa tubuh candi yang sederhana, berdiri di atas batur atau kaki candi yang sedikit ditinggikan, atapnya berundak serupa atap candi utama.

Sumaryo pantas berjulukan sebagai "juru pugar kawakan". Lebih dari tiga dekade, dia terlibat dalam pemugaran candi-candi di kawasan Prambanan. Tugasnya, membongkar dan menyusun ulang batu, hingga memastikan kestabilan struktur.

Pekerjaan sebagai juru pugar akan banyak berdiskusi dengan ahli arkeologi yang menentukan bentuk asli dan membaca konteks sejarah dan struktur candi. Dia juga berdiskusi dengan ahli konservasi yang menjaga keaslian material dan mencegah kerusakan lanjutan. Satu lagi, bekerja bersama drafter yang membuat gambar rekonstruksi.

Sumaryo paham betul prinsip konservasi bahwa pemugaran tidak boleh mengarang bentuk atau sekadar menata demi keindahan. Artinya, pemugaran candi bukan soal estetika bebas, melainkan pekerjaan merekonstruksi berbasis bukti arkeologis.

Dia berpengalaman terlibat dalam pemugaran di Candi Sewu, Candi Sojiwan, Candi Bubrah, juga pemugaran stupa perwara di Candi Plaosan Lor beberapa tahun silam. Pun, kendati sudah pensiun dari dinas, sampai hari ini negara masih membutuhkan tenaga dan pikirannya untuk urusan pemugaran candi.

Tag: