Perwara Plaosan, Kepingan Susun Monumen Cinta yang Hilang
Batu tuf merupakan hasil aktivitas vulkanik atau letusan gunung api yang mengeras, terdiri atas partikel abu vulkanik yang sangat halus. Ciri batuan tuf adalah berpori, relatif ringan, mudah dipahat. Warnanya cenderung terang karena kaya akan silika dan rendah besi.
Apabila kita berkunjung ke candi ini seribu tahun silam saat bulan purnama, tubuh stupa itu tampak putih menyala-nyala mengelilingi candi utama. Sementara itu dari jendela-jendela dua candi utama, cahaya pelita memancar temaram syahdu . "Jadi kita bayangkan seratusan stupa itu berpendar saat purnama," kata Eri menambahkan. Namun, dia juga mewanti-wanti, "batu tuf putih itu akan lebih mudah rapuh atau mengalami pelapukan."
Jalan panjang pemugaran
Ada banyak sebab candi-candi di kawasan ini berada dalam keadaan runtuh atau terkubur dalam tanah saat penemuannya. Umumnya para peneliti sepakat bahwa bencana erupsi Gunung Merapi yang bertubi-tubi telah menyebabkan gempa dahsyat dan mengubur dataran Prambanan. Ada juga para peneliti yang juga mengaitkan kerusakan dengan pralaya atau konflik politik antarkerajaan, perubahan agama, sampai penjarahan artefak sejak masa lampau.
Selama Perang Jawa 1825-1830, situasi kompleks candi kawasan ini turut menderita. Keadaannya semakin buruk. Pembangunan pertahanan militer di sekitar Prambanan banyak menggunakan material batu-batu dari candi. “Semua bangunan kuno itu telah menderita karena perang,” tulis Ursula Suzanna Baud-van Braam, istri Gubernur Jenderal Jean Chrétien Baron Baud, yang tamasya di kawasan Prambanan pada 1834. “Benteng-benteng Jawa telah dibangun dengan batu-batu yang diambil dari bangunan candi, dan arca-arcanya diangkut oleh pencari barang antik amatiran.”
Sejak masa Hindia Belanda, kegiatan pemugaran cagar budaya telah menghasilkan pemulihan ratusan bangunan bersejarah. Pemugaran merupakan rangkaian upaya untuk mengembalikan bentuk asli bangunan cagar budaya, sekaligus memperkuat strukturnya. Rangkaian proses pemugaran harus sejalan dengan aspek arkeologis, historis, maupun teknis.
Pemerintah Republik Indonesia mulai melanjutkan pemugaran Candi Plaosan Lor bagian candi utama selatan, yang purnapugar pada 1964. Pemugaran lanjutan kompleks utama sepanjang 1970-an sampai 1990-an, yang meliputi ekskavasi, registrasi batu, dan rekonstruksi candi perwara dan stupa perwara. Pemugaran candi utama utara telah selesai pada 1997.
Rencana konservasi kawasan bermula pada dekade pertama 2000. Tidak hanya bangunan utama, tetapi juga drainase, kanal kuno, lanskap arkeologis, dan konservasi relief dan arca. Untuk pertama kalinya kajian geologi tentang kanal Plaosan. Lima tahun belakangan, pemugaran candi-candi perwara, penataan kawasan, dan penguatan konservasi berbasis masyarakat sekitar.
Tahun lalu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan pemugaran candi perwara pada deret kedua nomor 19. Pemugaran bermula pada paruh kedua 2024, yang memakan waktu sebelas bulan. Candi Plaosan bukan sekadar warisan arkeologis, ungkap Menteri Fadli, tetapi juga penanda lahirnya peradaban besar yang bertumpu pada keselarasan. Ia menggambarkan Plaosan sebagai salah satu ekspresi paling memesona dari kebudayaan Nusantara. Candi ini mengekalkan tradisi Hindu dan Buddha yang tidak saling meniadakan, melainkan saling menguatkan.
Menurut Fadli, proses pembangunan candi ini menjadi bukti bahwa kejayaan peradaban Nusantara tumbuh dari perjumpaan, dialog, serta penghormatan terhadap keberagaman. "Itulah sebabnya pengembangan situs ini dibingkai dalam nilai harmony in diversity, harmoni dalam keberagaman,” tuturnya dalam rilis peresmian purnapugar di laman Kementerian Kebudayaan.
Semesta tampaknya merestui serangkaian upaya baik demi memuliakan monumen cinta ini. Tiga bulan setelah peresmian purnapugar perwara, pekerjaan pemugaran berlanjut kembali. Kelima candi perwara itu berada pada deret pertama—nomor 1, nomor 2, nomor 3, nomor 10, dan nomor 50.