Peneliti: Orang-orang Kreatif Cenderung Mengidap Bipolar dan Depresi

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 10 Mei 2018 | 13:00 WIB
Menurut peneliti, otak orang-orang kreatif memang bekerja dengan cara yang berbeda. (Ismagilov)

 

Menurut penelitian terbaru, 90% orang kreatif lebih berisiko mengidap penyakit mental seperti skizofrenia, bipolar, dan depresi.

Studi yang dilakukan para peneliti dari King’s College ini menyatakan bahwa ketiga penyakit mental tersebut sering dialami oleh orang-orang yang memiliki gelar di bidang seni.

Dari hasil catatan medis seluruh penduduk Swedia, diketahui bahwa mereka yang mempelajari musik, drama, dan seni lainnya di universitas, cenderung memiliki masalah kejiwaan dibanding mahasiswa yang tidak mengambil jurusan tersebut.

Baca juga: Lima Kebiasaan yang Membantu Anda Hidup Belasan Tahun Lebih Lama

Beda cara berpikir

Penelitian sebelumnya menunjukkan, otak orang-orang kreatif memang bekerja dengan cara berbeda. Peneliti menduga, inilah yang membuat mereka rentan terhadap penyakit mental.

Dr. James McCabe, pemimpin penelitian ini, mengatakan: “Kreativitas sering melibatkan ide  atau konsep yang tidak pernah dipikirkan orang lain. Itu mirip dengan bagaimana halusinasi bekerja.”

Ia menambahkan, susunan genetik yang membuat seseorang menjadi kreatif, mungkin terkait dengan faktor-faktor penyebab masalah kesehatan mental.

Lebih lanjut, studi ini menunjukkan bahwa 62% orang-orang kreatif lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena gangguan bipolar. Sementara, 39%-nya karena depresi. Rawat inap untuk kondisi tersebut biasanya terjadi pada mereka yang berusia 30-an.

Baca juga: Memotret Setiap Hari Dapat Meningkatkan Kesejahteraan Mental Anda

Meskipun begitu, ada kekhawatiran mengenai definisi orang-orang kreatif yang dimaksud dalam penelitian ini. “Saya rasa kurang ideal karena banyak orang-orang kreatif justru tidak mempelajari seni,” kata dr. Shelley Carson, dari Harvard University.

Menurut McCabe, oang-orang yang tertarik pada hal artistik – meskipun bukan seniman – juga berisiko mengalami ketidakstabilan emosi.

“Seseorang yang mudah tersentuh hatinya atau menangis ketika melihat lukisan, memiliki kepekaan artistik yang lebih tinggi. Namun, ia juga rentan terhadap depresi,” kata dr. McCabe.

Penelitian ini dipublikasikan pada The British Journal of Psychiatry.