Antara Emas dan Berlian, Manakah yang Lebih Langka di Bumi?

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 30 Agustus 2018 | 17:03 WIB
Sama-sama indah dan berharga, mana yang lebih langka: emas atau berlian? (Fruit_Cocktail/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id – Baik emas dan berlian, dua-duanya sangat berharga. Namun, manakah yang lebih langka di Bumi? Apakah itu memengaruhi harga mereka di pasaran?

Emas – sebuah logam berat – merupakan salah satu elemen langka di Bumi. Ulrich Faul, ilmuwan Bumi dan profesor dari Massachussets Institute of Technology, mengatakan bahwa emas terbentuk akibat tabrakan bintang neutron.

Kemudian, selama pembentukan Bumi, elemen berat tersebut tertarik ke inti Bumi. Ini membuat manusia sangat sulit mendapatkan emas di kerak Bumi. Kita memang masih bisa menemukannya, namun dengan konsentrasi yang sangat rendah.

Baca juga: Akibat Perubahan Iklim, Air Hangat Mampu Tembus Lapisan Es di Arktik

Yana Fedortchouk, profesor yang meneliti tentang Bumi dan wakil direktur Experimental High-Pressure Geological Research Laboratory di Dalhousie University, mengatakan bahwa rata-rata konsentrasi emas di kerak Bumi sekitar 4 ppb (parts per billion).

Untuk menghasilkan konsentrasi emas yang sesuai dengan nilai pasar, setidaknya mereka harus mengalami konsentrasi 1.250 kali lipat – atau 5000 ppb. Angka ini cukup jauh dengan emas yang ada di kerak Bumi sekarang. Itulah sebabnya mengapa harga emas sangat mahal.

Berlian, di satu sisi, terbentuk dari elemen yang sangat umum di Bumi: yaitu karbon. Menurut buku Fluid in the Earth’s Crust: Thein Significance in Metamorphic, Tectonic, and Chemical Transport Processes, dibanding emas, rata-rata konsentrasi karbon di kerak Bumi mencapai 200 ribu ppb.

Melihat hal tersebut, kelangkaan berlian di Bumi seharusnya tidak disebabkan oleh unsur pembentuknya. Namun, transformasi alami karbon menjadi berlian yang dapat ditambang adalah proses yang sangat sulit (dan jarang berhasil).

“Berlian yang terbentuk jauh di mantel Bumi (lapisan di bawah kerak bumi) dapat terbawa ke atas oleh magma atau terdorong proses pertumbuhan gunung. Namun, selama proses pengangkatan yang lambat itu, berlian berubah menjadi grafit dan tidak berhasil naik ke permukaan sebagai batu permata,” papar Fedortchouk.

Baca juga: Mengapa Erupsi di Siberia Menjadi Erupsi Terdahsyat Dalam Sejarah?

Pembentukan berlian bergantung pada kedalaman, suhu, dan tekanan. Karbon setidaknya harus terkubur 150 kilometer dari permukaan Bumi, dipanaskan dengan suhu 1.024 derajat celsius, ditekan dengan kekuatan 725 ribu pon per inci persegi, lalu harus cepat-cepat terangkat ke permukaan oleh erupsi vulkanis agar mendingin.

Proses luar biasa untuk menghasilkan berlian alami itulah yang membuatnya jauh lebih langka dari emas.

Namun, jika dilihat dari elemen pembentuknya, emas masih lebih langka dari berlian – mengingat karbon sangat berlimpah di Bumi.