Mengapa Sulit untuk Berhenti Merokok? Ilmuwan Menemukan Jawabannya

By Nesa Alicia, Senin, 19 November 2018 | 11:37 WIB
Berhenti merokok adalah hal yang sulit bagi banyak orang. (Wavebreakmedia/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - Apa yang menjadi hal tersulit bagi para perokok? Bila Anda menjawab berhenti merokok, Anda tidak sendiri. Bagi hampir semua perokok, kebiasaan merokok memang sulit untuk dihentikan. Tidak hanya itu, ketika sudah berhasil berhenti pun akan muncul keinginan untuk kembali merokok. 

Padahal, rasanya semua orang tahu akan bahaya yang muncul dari merokok. Apalagi, saat ini terdapat sekitar enam sampai tujuh juta orang meninggal akibat merokok. 

Hal inilah yang kemudian menjadi pertanyaan. Apa yang menyebabkan munculnya keinginan untuk terus menerus merokok meski mereka telah mengetahui bahaya tersebut?

Baca Juga : Usaha Pemberdayaan Masyarakat dan Perjalanan Inspiratif dalam Meningkatkan Kualitas Hidup

Melansir Kompas.com, Senin (19/11/2018), menurut Ilmuwan dari Institut Pasteur dan institut Perancis National Center for Scientific Research bekerjasama dengan Universitas Sorbonne dan Insern, salah satu penyebabnya karena adanya proses mutasi dari gen.

Para ilmuan melakukan percobaan mutasi gen pada seekor tikus dengan bantuan teknik dalam bidang gen molekuler. Mereka menilai perilaku tikus dan melihat bahwa mutasi gen menyebabkan adanya perilaku mengonsumsi nikotin yang semakin tinggi. 

Mereka juga menemukan adanya keinginan untuk kembali merokok pada tikus. Mutasi ini kemudian juga ditemukan pada manusia, yakni sekitar 35 persen warga Eropa dan 50 persen penduduk Timur Tengah. 

Selain itu, kurangnya niat untuk berhenti merokok akan membuat mereka semakin susah untuk melepaskannya. 

Menurut studi yang dipublikasikan dalam majalah Current Biology, nikotin dapat menyebabkan ketagihan karena mengikat reseptor nikotin di otak. Inilah yang membuat otak mengaktifkan perasaan senang.

Studi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukan bahwa mutasi pada gen CHRNA5 berkaitan dengan bertambahnya risiko ketergantungan pada nikotin. 

Baca Juga : Setelah Tiba di Jamaika, Monyet Purba Menjadi Mirip Seperti Kungkang

"Studi ini memungkinkan kami untuk menilai dampak mutasi gen atas sejumlah stadium ketergantungan pada nikotin dengan presisi tinggi. Ini memberikan penjelasan awal mengenai mekanisme yang menyebabkan kembalinya merokok bagi para mantan perokok," ungkap Benoit Forget, penulis studi.

Penelitian ini juga menunjukan adanya efek yang berkaitan dengan kurangnya aktivitas neuron di nucleus interpeduncularis, yaitu sebuah area di bagian tengah otak. Struktur otak dengan konsentrasi terbesar yang disebut subunit reseptor α-Nikotin, atau reseptor nicotinic acetylcholine.

Kepala bagian neurobiologi integratif pada bagian Sistem Cholinerge di Institut Pasteur dan CNRS, Uwe Maskos mengatakan bahwa hasil studi ini membuat para pakar kedokteran berusaha mencari obat yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor nikotin subunit α. Dengan obat tersebut, perokok dapat mengurangi konsumsi tembakau dan memungkinkan untuk pengurangan keinginan merokok.