Mencairnya Es Arktika Ungkap Daratan yang Tersembunyi Selama 40 Ribu Tahun

By Gita Laras Widyaningrum, Rabu, 30 Januari 2019 | 10:30 WIB
Pulau Baffin. (Wildnerdpix/Shutterstock)

Nationalgeographic.co.id - Menurut sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Nature Comunnications, mencairnya es di Arktika mengekspos daratan tersembunyi yang tidak pernah terlihat selama 40 ribu tahun.

Studi ini menyatakan, perubahan iklim berperan besar dalam penemuan ini. Meningkatnya suhu Arktika dalam kecepatan tinggi menyebabkan gletser mencair.

"Arktika saat ini menghangat dua hingga tiga kali lebih cepat dari seluruh wilayah dunia. Tentu saja, es dan gletser bereaksi dengan cepat juga," kata Simon Pendleton, pemimpin studi sekaligus peneliti senior dari CU Boulder's Institute of Arctic and Alpine Reserach (INSTAAR).

Baca Juga : Meski Masih Dalam Telur, Bayi Sotong Mampu Lindungi Dirinya dari Musuh

Hasil penelitian Pendleton didapat berdasarkan tanaman yang dikumpulkan dari tepi gletser di Pulau Baffin, pulau terbesar kelima di dunia. Bentang alamnya didominasi oleh forjd dan dataran tinggi yang luas. Selama ribuan tahun, wilayah tersebut melestarikan lumut berkat es di sekitarnya.

Namun, hasil pengamatan sebelumnya menunjukkan bahwa tanaman di sana akan segera hilang karena tidak ada lagi lapisan es yang melindunginya.

Dan ketika ilmuwan menemukan tanaman tersebut saat ini, mereka yakin bahwa itu memang berasal dari ribuan tahun lalu dan telah tertutup es sejak awal tumbuh. Artinya, gletser yang melindunginya benar-benar sudah berkurang sehingga dataran tempat ia tinggal pun terungkap.

"Kami meneliti margin es, sampel tanaman yang baru terlihat, serta melakukan penanggalan karbon unruk mengetahui kapan es mulai menghilang," papar Pendleton.

Secara total, tim peneliti mengumpulkan 48 sampel tanaman dari 30 tepi es di Pulau Baffin, juga sampel quartz yang digunakan untuk membantu menentukan umur dan sejarah es di lingkungan tersebut.

Baca Juga : Polusi Udara Membuat Suasana Hati Penduduk Kota Memburuk

Analisis di laboratorium menunjukkan bahwa tanaman tersebut kira-kira terawetkan dalam lapisan es selama 40 ribu tahun atau lebih.

Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan data temperatur yang menyatakan bahwa wilayah tersebut mengalami suhu terhangat dalam 100 tahun terakhir.

"Gletser tidak memiliki strategi bertahan hidup. Mereka merespons suhu yang menghangat, kemudian menyusut. Hal inilah yang membuat gletser rentan terhadap perubahan iklim," kata Gifford Miller, peneliti dan profesor geologi di CU Boulder.