Inilah Lima Senjata Paling Mematikan yang Tercatat Dalam Sejarah

By National Geographic Indonesia, Selasa, 9 April 2019 | 16:54 WIB
Ilustrasi para tentara di medan perang. (KaninRoman/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - Senjata menjadi salah satu alat yang penting untuk melemahkan dan mengalahkan musuh. Seiring berjalannya waktu, perkembangan senjata pun semakin canggih, bahkan dapat membunuh lawan dalam jumlah banyak sekaligus.

Berikut lima senjata paling mematikan yang tercatat dalam sejarah:

Senapan Maxim

Revolusi senjata api terjadi pada abad 19. Kala itu, pembuatan senjata api didukung oleh peralatan yang memadai.

Pada 1884, seorang pengacara bernama Hiram Maxim mengombinasikan semua peralatan yang ada saat itu sehingga bisa membuat senjata bernama Senapan Maxim.

Baca Juga : Adakah Hubungan Antara Salatiga, Arthur Rimbaud, dan Soekarno?

Senjata ini memiliki pendingin udara yang bisa menembakkan lebih dari 500 putaran per menit pada jarak efektif lebih dari 2.000 yard (1.830 meter) dan digunakan dalam Perang Dunia I.

Nuklir

Nuklir juga dikenal sebagai senjata perang yang mematikan karena merupakan salah satu pemusnah massal yang tercipta pada Perang Dunia II berkat proyek Manhattan yang dikembangkan Sekutu.

Dampaknya, lebih dari 70.000 jiwa meninggal dunia ketika "Little Boy" dijatuhkan di Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945.

Sementara, puluhan ribu jiwa terkena efek radiasi beberapa tahun setelah nuklir dijatuhkan.

Selain "Little Boy", nuklir "Fat Man" juga dijatuhkan di Kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Meski perjanjian pembatasan senjata secara drastis mengurangi ukuran persenjataan nuklir, masih ada sekitar 15.000 senjata nuklir di Bumi.

Lebih dari 90 persen dari senjata-senjata itu milik Amerika Serikat dan Rusia.

Senapan Serbu

Senapan serbu adalah senapan api otomatis/semi otomatis yang merupakan senapan laras panjang yang memiliki pilihan dalam menembak. Senjata ini menggunakan peluru ukuran pistol sebagai senjata api jarak dekat.

Pengembangan senapan serbu selama Perang Dunia II mengubah pertempuran infanteri menjadi lebih cepat dengan saling berbagi tembakan di antara kubu yang berperang.

Contohnya, senapan serbu AK-47 milik Rusia adalah bagian yang menentukan dari perangkat militer pada abad 20.

Gerilya yang tak terhitung jumlahnya, militan, dan gerakan revolusioner mengadopsi senjata itu, dan diperkirakan ada sebanyak 100 juta AK-47 yang beredar pada awal abad 21.

Kapal Selam

Kapal selam jauh lebih mematikan bagi kru mereka sendiri dibandingkan terhadap target yang dituju sehingga kru kapal selam harus sangat berhati-hati dalam mengoperasikan kapal tersebut.

Pada Perang Dunia I, semua kekuatan besar angkatan laut menggunakan kapal selam dalam armada mereka, tak terkecuali Jerman yang menggunakan U-boat sebagai sarana Kapal Selamnya untuk bertarung dalam perang.

U-boat Jerman mempunyai pengaruh yang besar terhadap sekutu. Ia menenggelamkan lebih dari 10 juta pengiriman kapal sekutu. Saat itu, praktik penggunaan tak dibatasi sehingga Jerman bisa leluasa menggunakan kapal selam.

U-boat memiliki peran yang sama selama Perang Dunia II ketika Jerman hampir memutuskan jalur vital Inggris dengan Amerika Serikat.

Selain itu, beberapa kapal selam modern dibangun sebagai senjata anti-kapal. Kapal selam dilengkapi rudal balistik seperti kapal selam milik AS yang membawa 24 rudal Trident.

Baca Juga : Perjumpaan di Stasiun Kereta Listrik Pertama Hindia Belanda

Senjata Biologi

Dalam sejarah konflik bersenjata, penyakit sering menelan lebih banyak korban daripada pertempuran. Oleh karena itu, ada ilmuwan dalam peperangan untuk menciptakan senjata biologis.

Bibit-bibit sumber penyakit sengaja dibawa dalam sebuah peperangan untuk melumpuhkan lawan. Virus dan bakteri tak mengenal ras dan bangsa dari setiap kelompok yang berperang.

Contohnya, Jepang menggunakan senjata biologis di China dan melakukan program percobaan. Hasilnya, lebih dari 3.000 orang tewas karena percobaan ini.

Artikel ini pernah tayang di intisari.grid.id. Baca artikel sumber.