Jejak Benda Luar Angkasa Ditemukan di Pegunungan Afrika Selatan

By Gita Laras Widyaningrum, Jumat, 31 Mei 2019 | 10:49 WIB
Barberton Makhonjwa Mountains. (Tony Ferrar via UNESCO)

Nationalgeographic.co.id – Pegunungan Makhonjwa di Afrika Selatan merupakan rumah bagi beberapa batuan tertua di planet ini. Namun ternyata, tidak semua yang ada di sana berasal dari Bumi.

Para ilmuwan mengatakan mereka telah menemukan jejak materi benda luar angkasa yang terkubur dalam endapan vulkanik dari 3,3 miliar tahun lalu.

“Ini pertama kalinya kami menemukan bukti nyata dari karbon di batuan luar Bumi,” ungkap Frances Westall, ahli astrobiologi dari CNRS Centre dor Molecular Biophysics.

Baca Juga: Meski Disambar Petir, Roket Ini Tetap Melaju ke Luar Angkasa Tanpa Hambatan

Selama miliaran tahun, Bumi telah dihujani oleh meteorit yang menghantam keras dan menata ulang permukaan planet. Pada endapan vulkanik bernama Josefsdal Chert yang merupakan bagian dari pegunungan Makhonjwa, Westall dan timnya menemukan lapisan batu setebal 2 mm yang ditandai dengan dua sinyal ‘anomali’.

Menggunakan spektroskopi Electron Paramagnetic Resonance (EPR), para peneliti menemukan batu berusia 3,3 miliar tahun yang mengandung dua jenis bahan organik tidak larut yang menunjukkan asal ekstraterestrial.

Salah satu sinyal EPR menyerupai sesuatu yang pernah dilihat para ilmuwan sebelumnya di karbon chondrites–sampel meteroit kuno yang mengandung senyawa organik.

Pembacaan sinyal anomali lainnya menunjukkan nanopartikel nikel, kromium dan besi. Material-material tersebut jarang ditemukan pada formasi batuan terestrial sehingga diduga berasal dari sebuah tempat yang jauh.

“Spinel krom kaya Ni, atau yang juga biasa disebut ‘spinel kosmik’ terbentuk selama masuknya benda-benda luar angkasa ke atmosfer Bumi,” kata Didier Gourier, peneliti utama dan ahli kimia dari PSL Research University.

Baca Juga: Apa Saja yang Akan Terjadi Jika Manusia Tinggal di Mars? Berikut di Antaranya

Dalam hipotesisnya, para peneliti menyatakan bahwa hujan es mikrometeorit mungkin telah tercampur di atmosfer dengan awan abu vulkanik. Dan ketika meteri tersebut perlahan-lahan melayang ke permukaan Bumi, jejak karbon ekstraterestrial terawetkan bersama spinel kosmik yang baru terbentuk dan tersimpan selama miliaran tahun.

Tentu saja ini masih bersifat hipotesis. Meski begitu, penemuan tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah sains organik luar angkasa. Peneliti hanya perlu mempelajarinya lebih lanjut.

Hasil penemuan dipublikasikan pada Geochimica et Cosmochimica Acta.