Perubahan Iklim Semakin Parah, Semua Negara Harus Bersiap Menghadapinya

By Gita Laras Widyaningrum, Selasa, 17 September 2019 | 14:08 WIB
Ilustrasi dampak perubahan iklim. (leolintang/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - Semua negara di dunia, baik yang kaya maupun miskin, sebaiknya segera bersiap untuk menghadapi efek perubahan iklim. Para ahli memperingatkan, jika ini tidak  dilakukan, maka akan ada harga lebih besar yang harus dibayar.

"Kita adalah generasi terakhir yang dapat mengubah proses perubahan iklim sekaligus generasi pertama yang harus hidup dengan konsekuensinya," papar Ban Ki-moon, mantan ketua PBB yang kini menjadi ketua Global Commission on Adaptation.

"Menunda pencegahan kemudian membayar dampaknya dengan lebih mahal, atau mulai merencanakan dari sekarang dan hidup sejahtera setelahnya," imbuhnya.

Baca Juga: Tak Hanya Riau, Berikut Provinsi dengan Karhutla Terparah Selama 2019

Laporan dari Global Commission Adaptation menunjukkan bahwa tanpa aksi apa pun, pada 2030, perubahan iklim dapat membuat 100 juta orang di negara-negara berkembang berada di bawah garis kemiskinan. 

Meski begitu, tidak hanya negara miskin dan berkembang, perubahan iklim juga mengancam negara maju. Banjir besar dan serangkaian badai di Amerika Serikat serta gelombang panas ekstrem yang menyerang Eropa dan Jepang, menjadi bukti bahwa negara kaya pun tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim. 

Dalam 25 tahun sejarah negosiasi iklim PBB, adaptasi sering dilupakan dan banyak orang hanya berfokus pada "mitigasi" atau pengurangan emisi karbon. 

"Aksi global cukup untuk memperlambat perubahan iklim, tapi itu saja tidak cukup. Kita juga harus berinvestasi besar-besaran pada upaya adaptasi," jelas Ban Ki-moon. 

Setiap negara bisa 'berinvestasi' pada sistem peringatan dini, infrastruktur yang tahan perubahan iklim, melindungi hutan bakau, serta meningkatkan sumber daya air tawar, dalam menghadapi perubahan iklim. 

Baca Juga: Kebakaran Hutan Mengancam Area Rehabilitasi, Bagaimana Nasib Orangutan?

Bob Ward, direktur kebijakan di Grantham Research Institute on Climate Change menyatakan bahwa upaya mengurangi emisi serta adaptasi sangat berkaitan sehingga keduanya harus dilakukan bersama-sama. "Jika upaya mengurangi emisi gagal, maka itu akan meningkatkan biaya untuk beradaptasi," pungkasnya. 

Kegagalan menangani emisi gas rumah kaca sendiri telah menimbulkan gelombang panas yang mematikan, kekeringan, serta badai super akibat kenaikan permukaan air laut. 

Suhu bumi telah meningkat 1° C sejak akhir abad ke-19. Kenaikan suhu ini terus terjadi akibat peningkatan emisi karbon–kemungkinan di akhir abad akan bertambah 2-3° C jika kondisinya tetap seperti sekarang.