LabTek Apung, Belajar Sains di Atas Getek Bagi Warga Bantaran Kali

By National Geographic Indonesia, Rabu, 20 November 2019 | 09:43 WIB
Anak-anak SD antusias mempelajari sains sederhana di LabTek Apung sekaligus membangun kesadaran akan lingkungan hidup. (Nur Qolbi)

Nationalgeographic.co.id - Sungai Ciliwung, yang membelah ibu kota Jakarta, sudah lama menjadi ‘tempat sampah’ dan salah satu penampung limbah raksasa kota Jakarta.

Beberapa lembaga penelitian menunjukkan bahwa tingkat pencemaran air Ciliwung sudah mengkhawatirkan.

Penelitian Dinas Lingkungan Hidup Jakarta menunjukkan kadar bakteri Escherichia coli (E.coli) pada Sungai Ciliwung yang mencapai 12.200 jumlah/100 ml pada tahun 2009 lebih dari standar yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan, yaitu sebesar 50 jumlah/100 ml.

Tidak hanya kandungan E.Coli, penelitian Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) setahun berikutnya menunjukkan tingginya kandungan amonia, fosfat, dan deterjen pada air Sungai Ciliwung.

Kandungan ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Manusia yang mengonsumsi air yang terkontaminasi oleh bakteri E.Coli akan terkena diare. Apabila terus-menerus akan menyebabkan radang usus, infeksi pada saluran kemih dan empedu, juga stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak sejak dini.

Baca Juga: Mengapa Kita Tidak Boleh Menelepon Saat Berada di dalam Pesawat?

Saat ini, rumah penduduk yang bersisian dengan bantaran sungai Ciliwung memiliki kecenderungan untuk menyalurkan limbah, baik sampah dapur atau limbah cair berupa kotoran tinja, dibuang langsung ke sungai karena tidak adanya sistem sanitasi yang memadai. Hal ini diperparah dengan kurangnya kesadaran warga sekitar tentang penanganan limbah domestik.

Selama April hingga September 2019, Program Pengabdian Masyarakat 2019 dari Sekolah Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia, dan rekan-rekan dari ko-kreasi Ngebikin Bareng, membangun sebuah laboratorium sederhana di Kampung Tanah Rendah, Jakarta Timur, untuk meningkatkan kesadaran warga tentang limbah domestik melalui sains.

Kami memilih Kampung Tanah Rendah karena rumah-rumah yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung cenderung menyalurkan limbah domestik langsung ke aliran sungai akibat absennya sistem penampungan limbah kotoran tinja yang memadai.

Mereka pun memilih getek atau bilik mengapung terbuat dari bambu untuk mandi cuci dan buang air besar dibanding fasilitas kamar mandi umum yang disediakan pemerintah karena lebih murah. Fasilitas pemerintah memungut bayaran karena harus mengganti biaya listrik dan air.

Berangkat dari kepopuleran getek di antara warga bantaran Kampung Tanah Rendah, kami terinspirasi untuk merancang laboratorium teknik yang terinspirasi dari keberadaan getek, yaitu LabTek Apung, guna mengubah pandangan warga tentang pengelolaan limbah dapur dan kotoran manusia.

LabTek Apung: Laboratorium Teknik yang Mengapung

Laboratorium memiliki kesan jauh dan berjarak bagi orang awam. Terkesan hanya orang yang menguasai suatu disiplin ilmu tertentu yang berkutat di laboratorium.