Berpikir Negatif Terus-menerus Berkaitan dengan Gejala Alzheimer

By Gita Laras Widyaningrum, Senin, 29 Juni 2020 | 11:03 WIB
Ilustrasi Alzheimer. (SIphotography/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id – Alzheimer tidak bisa disepelekan dan para peneliti menemukan fakta bahwa tanda awal penyakit ini berkaitan dengan pikiran negatif yang berulang.

Studi ini secara spesifik mempelajari kebiasaan “berpikir negatif secara terus menerus” yang bukan rasa sedih biasa—didefinisikan sebagai proses kognitif yang meliputi kekhawatiran dan perenungan.

Para peneliti menemukan bahwa pola pikir negatif yang obsesif tersebut berkaitan dengan penurunan kognitif dan agregasi protein beta amiloid—protein otak yang terlibat dalam penyakit Alzheimer.

Baca Juga: Racun Ubur-Ubur Raksasa Ini Sangat Kompleks, Apakah Mematikan?

Penting untuk menekankan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal, memiliki beberapa peringatan dan bersifat observasional. Meski begitu, studi sangat menatik karena memberikan cara baru untuk menguji siapa yang berisiko Alzheimer.

“Memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko dementia merupakan hal vital dalam memperbaiki pemahaman kita mengenai kondisi mengerikan ini. Dan jika memungkinkan, itu bisa dijadikan strategi pencegahan,” papar Fiona Carragher, Alzheimer’s Society Director of Research and Influencing.

“Hubungan yang ditunjukkan antara pola berpikir negatif yang berulang dengan penurunan kognitif sangat menarik meskipun perlu penyelidikan lebih lanjut untuk memahaminya dengan lebih baik,” tambahnya.

Para ilmuwan melihat data dari studi kohort bernama PREVENT-AD—melibatkan 292 orang berusia 55 tahun yang berada dalam kondisi fisik dan kesehatan kognitif yang baik, tapi memiliki orangtua atau saudara kandung yang menderita Alzheimer.

Tim peneliti juga menggunakan data dari 68 orang dewasa sehat dari studi Multi-Modal Neuroimaging in Alzheimer’s Disease (IMAP+).

Semua partisipan dalam studi melengkapi sesuatu yang disebut Perseverative Thinking Questionnaire (PTQ). Berisi 15 pertanyaan yang berfokus pada perenungan tentang masa lalu dan kekhawatiran di masa depan.

Mereka juga melakukan tes depresi dan kecemasan untuk melihat tumpang tindih antara ‘pola pikir negatif yang berulang’ dan kondisi mental lainnya.

Selain itu, para partisipan juga menjalani beberapa tes kognitif yang cukup intens. Peserta PREVENT-AD menjalani 12 tes kognitif yang menganalisis hal-hal seperti kognisi global, memori langsung dan tertunda, fokus, kognisi visuospatial dan bahasa.