Bincang Redaksi: 280 Tahun Geger Pacinan, Singkap Arsip VOC dan Persekutuan Cina-Jawa 1740-1743

By Mahandis Yoanata Thamrin, Rabu, 7 Oktober 2020 | 17:03 WIB
Cuplikan dalam litografi Jakob van der Schley (1715–1779) berdasar lukisan karya Adolf van der Laan (1690 –1742) tentang Massacre des Chinois—pembantaian orang-orang Cina di Batavia pada 9 Oktober 1740. (Rijksmuseum Amsterdam)

Nationalgeographic.co.id—Apa yang kita kenang setiap Oktober tiba? Sederet peristiwa bersejarah senantiasa kita peringati atau kenang pada bulan ini. Sebagian lagi mungkin tidak pernah menjadi sejarah karena kita luput mencatat atau mengingatnya.

Tepat pada bulan ini, 280 tahun silam. Suatu huru-hara akbar terjadi di dalam tembok Kota Batavia. Para serdadu VOC melakukan perampokan dan pembersihan warga Cina. Permukiman mereka dibakar. Lelaki, perempuan, bahkan anak-anak dibunuh dengan keji.

Hari yang berdarah itu bermula pada 9 Oktober 1740 di dalam tembok Kota Batavia.

“Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat, kanal penuh dengan mayat,” tulis G. Bernhard Schwarzen dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751. “Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu.”

Dia mengakui sebagai pelaku pembantaian dan perampokan pada hari-hari terkelam di Batavia itu. Ironisnya, dia juga membunuh orang Cina yang dia kenal baik dan kerap mengundangnya makan malam.

Bahkan, beberapa ratus orang Cina yang menjadi  tahanan  di Stadhuis—Balai Kota Batavia, kini Museum Sejarah Jakarta—dibebaskan, lalu disembelih di halaman belakang gedung itu. Diperkirakan antara 5.000 sampai 10.000 warga Cina telah dibantai. Rumah Kapitan Cina Ni Hoe Kong yang terletak di Roa Malaka—nama jalan itu masih ada hingga kini—dijarah dan dihancurkan. Sang Kapitan yang bertanggung jawab terhadap segala aktivitas orang-orang cina itu ditangkap dan akhirnya wafat dalam pembuangannya di Ambon.

Baca Juga: Kesaksian Perwira VOC Ketika Prahara 1740 di Tangerang

(National Geographic Indonesia)

Kerusuhan itu meluas hingga ke Jawa. Para pelarian bergerak ke timur sembari menghimpun kekuatan dengan komunitas Cina di kota-kota sepanjang pesisir utara—dari Karawang sampai Pasuruan. Kapitan Sepanjang menjadi sosok misterius yang menggerakkan perlawanan.

Huru-hara ini bukan hanya berdampak kepada kehidupan di Batavia, tetapi juga berakibat pada ketidakstabilan politik di Kesultanan Mataram. Jikalau Raja Kartasura, Susuhunan Pakubuwana II, menyatukan antara kekuatan pemberontakan orang-orang Cina dan kekuatan prajurit keratonnya, mungkin saja VOC bisa hengkang dari Jawa Tengah. Namun, sang raja tampaknya menyia-nyiakan momentum sehingga VOC berhasil menguasai keadaan dengan campur tangan dalam urusan kerajaan. Meskipun persekutuan Cina-Jawa dapat dipatahkan VOC, perseteruan wangsa itu baru berakhir pada 1755 dengan terbaginya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.  

Inilah suatu masa yang kelak diakhiri perang dahsyat dan berakibat tumbangnya takhta Mataram di Jawa. Orang-orang Jawa menandai huru-hara ini dengan “Geger Pacinan”.

Perang dahsyat itu mengabadikan teladan kebersamaan, ketika laskar Jawa dan laskar Cina berpadu melawan VOC. Namun, peristiwa Geger Pacinan juga telah memunculkan narasi dan kebijakan pemerintah kolonial untuk memisahkan kedua etnis ini.