Kung Fu: Senjata Tionghoa Merebut Kemerdekaan dan Melawan Penjajahan

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Rabu, 17 Maret 2021 | 19:00 WIB
Sekawanan pemuda berlatih kungfu pada malam hari di Klenteng Tjo Su Bio, Sewan. Foto ini bagian cerita 'Sang Naga di Barat Jakarta' yang terbit di edisi Februari 2014. (Yunaidi/National Geographic Indonesia)

 

Nationalgeographic.co.id—Kung Fu atau Kung Tao sangat populer dalam film aksi yang bernuansa kebudayaan Tiongkok. Seni bela diri ini sudah lama menjadi budaya bela diri dan seiring berkembangnya ajaran Kong Hu Cu di negeri tirai bambu, seni berfalsafah melawan penindasan.

Perlahan, Kung Fu pun tersebar hingga ke Nusantara akibat adanya hubungan mancanegara di masa lalu, baik oleh kesultanan maupun VOC. Penyebaran ini pun tak luput dari ragam ekspedisi perwakilan Tionghoa yang memiliki pengawal berkemampuan bela diri.

Erwin Tan, peneliti dari Traditional Chinese Martial Art berujar, seni itu pun perlahan berkembang di Nusantara dan diajarkan pula pada penduduk bumiputera.

Dia, dalam webinar Jejak Kungfu di Indonesia menjelaskan bila penggunaan Kung Fu sebagai perlawanan anti penjajahan sangat nampak pada abad XVII dan XVIII untuk melawan VOC.

Baca Juga: Bejing Memiliki Legenda Kungfu Jet Li, Siapa Legenda Silat Tangerang?

"Disitu tercatat orang-orang Tionghoa bahu membahu dengan orang di Jawa dalam dunia militer, ada yang pandai senjata dan tangan kosong. Jadi catatan ini terlihat di waktu itu bukan cuma sekedar migrasi tapi juga membawa sesuatu--seperti keahlian beladirinya," terang Erwin.

Penggunaan Kung Fu ini pun kian kuat dalam melakukan perlawanan pada peristiwa Geger Pacinan, sebuah momen berdarah pembantai orang Tionghoa oleh VOC. Peristiwa itu setidaknya menangkap 1.000 orang Tionghoa di Batavia yang membelot.