Di Masa Depan, Es Krim Vanila Kita Mungkin Terbuat dari Sampah Plastik

By Utomo Priyambodo, Senin, 21 Juni 2021 | 19:00 WIB
Para ilmuwan telah menemukan cara untuk mengubah sampah plastik menjadi perasa vanila, yakni dengan menggunakan bakteri rekayasa genetika. (HandmadePictures/iStockphoto)

 

Nationalgeographic.co.idDi masa depan, es krim vanila yang kita makan mungkin terbuat dari sampah botol plastik. Sebab, para ilmuwan telah menemukan cara untuk mengubah sampah plastik menjadi perasa vanila dengan menggunakan bakteri rekayasa genetika, menurut sebuah laporan studi terbaru.

Vanilin, senyawa yang membawa sebagian besar bau dan rasa vanila, dapat diekstraksi secara alami dari biji vanili atau dibuat secara sintetis. Sekitar 85% vanilin di dunia saat ini terbuat dari bahan kimia yang diambil dari bahan bakar fosil, menurut The Guardian.

Vanilin ditemukan dalam berbagai macam produk makanan, kosmetik, farmasi, pembersih dan herbisida, dan permintaannya "berkembang pesat," tulis para penulis dalam laporan penelitian tersebut seperti diberitakan Live Science. Pada tahun 2018, permintaan global untuk vanilin adalah sekitar 40.800 ton atau 37.000 metrik ton, dan diperkirakan akan tumbuh menjadi 65.000 ton atau 59.000 metrik ton pada tahun 2025, menurut laporan penelitian baru yang diterbitkan 10 Juni 2021 di jurnal Green Chemistry itu.

Saat ini permintaan vanilin "jauh melebihi" pasokan biji vanili, sehingga para ilmuwan terpaksa memproduksi vanilin secara sintetis. Untuk studi baru, para peneliti menggunakan metode baru untuk mengubah sampah plastik menjadi vanilin, sebagai cara untuk memasok vanilin dan mengurangi polusi plastik.

Studi sebelumnya menunjukkan cara memecah botol plastik yang terbuat dari polietilen tereftalat menjadi subunit dasarnya, yang dikenal sebagai asam tereftalat. Dalam studi baru ini, dua peneliti dari University of Edinburgh di Skotlandia merekayasa genetika bakteri E. coli untuk mengubah asam tereftalat tersebut menjadi vanillin.

Asam tereftalat dan vanillin memiliki komposisi kimia yang sangat mirip. Adapun bakteri yang direkayasa hanya perlu membuat sedikit perubahan pada jumlah hidrogen dan oksigen asam tereftalat tersebut yang terikat pada tulang punggung karbon yang sama.

Para peneliti mencampur bakteri rekayasa genetika mereka dengan asam tereftalat dan menyimpannya pada suhu 98,6 derajat Fahrenheit atau 37 derajat Celcius selama sehari, seperti dikutip dari The Guardian. Sekitar 79% dari asam tereftalat itu kemudian berubah menjadi vanilin.

Baca Juga: Tim Peneliti Belanda: Mangrove di Pesisir Jawa Dibekap Sampah Plastik

Es krim rasa vanila. (Mariha-kitchen)

"Krisis limbah plastik global sekarang diakui sebagai salah satu masalah lingkungan paling mendesak yang dihadapi planet kita," tulis para penulis dalam laporan penelitian tersebut. Sekitar 1 juta botol plastik terjual setiap menit di seluruh dunia, dan hanya 14% yang didaur ulang. Adapun yang didaur ulang itu hanya bisa diubah menjadi serat untuk pakaian atau karpet.

"Pekerjaan kami menantang persepsi plastik sebagai limbah bermasalah dan malah menunjukkan penggunaannya sebagai sumber karbon baru dari mana produk bernilai tinggi dapat dibuat," ujar Stephen Wallace, dosen senior bioteknologi di University of Edinburgh yang menjadi salah satu peneliti dalam studi ini, kepada The Guardian.

Sekarang, para peneliti dalam studi tersebut berharap bisa lebih meningkatkan kemampuan bakteri untuk dapat mengubah lebih banyak asam tereftalat menjadi vanillin.

Baca Juga: Robot Mikroskopis Ini Dirancang untuk Mengurai Mikroplastik di Lautan