Penjelasan Sains Ringkas, Perbedaan antara Astronomi dan Astrologi

By National Geographic Indonesia, Minggu, 11 Juli 2021 | 20:00 WIB
Peta konstalasi bintang 1674. (AMAZON)

Oleh Aldino Adry Baskoro/Langit Selatan

 

Nationalgeographic.co.id—Apa yang ada di benak Anda jika mendengar kata astronomi? Apabila bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat kita, masih banyak yang menyamakannya dengan astrologi. Nama-nama zodiak semisal Pisces, Sagittarius, Libra, ataupun Aries seringkali dihubungkan dengan horoskop yang notabenenya membahas tentang peramalan nasib manusia. Nama-nama zodiak itu sendiri dalam astronomi merupakan bagian dari nama rasi bintang dari jumlah totalnya sebanyak 88 rasi bintang.

Sebelum kita membahas astronomi secara lebih lanjut ada baiknya kita menengok sedikit tentang astrologi. Astrologi berasal dari kata Yunani yang berarti ilmu tentang bintang-bintang. Ilmu ini awalnya digunakan oleh bangsa Kaldea yang hidup di Babilonia pada permulaan tahun 3000 SM.

Jika kita mendasari pada peninggalan artefak-artefak kuno, astrologi telah dikenal lebih tua lagi yaitu sekitar tahun 15.000 SM. Artefak-artefak ini banyak ditemukan di daerah Timur Tengah. Bangsa Cina di Asia kemudian mengadopsi ilmu ini untuk digunakan dalam kesehariannya. Astrologi mendasari ilmunya pada pergerakan benda-benda langit antara lain matahari, planet-planet, bintang, dan bulan. Para astrolog percaya bahwa posisi benda-benda langit ini berpengaruh pada kehidupan manusia dan peristiwa masa depan yang akan terjadi dapat diramalkan berdasarkan posisi benda langit tersebut.

Bagaimana dengan astronomi?

 

Astronomi merupakan ilmu peramalan juga namun yang diramal berbeda dengan peramalan astrologi. Penemuan empat satelit Jupiter oleh Galileo Galilei dengan menggunakan teropongnya membawa umat manusia kepada pemahaman baru terhadap objek langit.

Pemanfaatan hukum fisika untuk menjelaskan pergerakan benda langit pada era Issac Newton dengan Hukum Gravitasi Newton-nya semakin menegaskan perbedaan antara astronomi dengan astrologi. Astronomi tidak menghubungkan pergerakan benda-benda langit terhadap kehidupan manusia. Astronomi merupakan ilmu sains yang mempelajari, memahami, dan meramalkan peristiwa alam yang terjadi di alam semesta.

Cakupannya tidak hanya matahari, bintang, bulan, dan planet saja tetapi meluas sampai ke galaksi lain atau bahkan kembali ke masa silam, suatu masa di mana alam semesta ini baru terbentuk. Meramalkan dalam kaitannya dengan astronomi lebih dimaksudkan pada upaya untuk memahami bagaimana suatu evolusi ataupun pergerakan benda langit dapat terjadi.

Baca Juga: Asal Mula Astrologi, Kenapa Ramalannya Terasa Relevan untuk Kita?

Ilustrasi Andreas Cellarius tentang Sistem Ptolemaik (abad ke-17), yang menunjukkan tata surya dan tanda-tanda zodiak dengan Bumi sebagai pusatnya. (J. van Loon/National Library of Australia)

 

Misalnya dalam memprediksi bagaimana kemungkinan sebuah asteroid menabrak Bumi, ataupun berapa lama lagi Matahari akan habis bahan bakarnya dan bagaimana Matahari sebagai bintang terdekat dari Bumi, mengakhiri hidupnya. Di sinilah letak perbedaan antara astronomi dan astrologi. Astronomi mendasarkan ilmunya pada metode ilmiah.

Orang yang bekerja dalam astronomi disebut sebagai astronom. Para astronom ini mencoba memahami dunia di luar Bumi dengan melandaskan pekerjaannya pada observasi atau pengamatan. Pemahaman di luar Bumi ini didekati dengan pemodelan-pemodelan yang sifatnya ilmiah dengan bahasa yang digunakan untuk memahaminya adalah matematika, kimia, dan fisika.

Perlu ditekankan di sini bahwa para astronom tidak pernah bisa mengutak-atik objek yang ditelitinya, berbeda dengan fisikawan yang dapat melakukan percobaan di laboratorium. Laboratorium para astronom adalah alam semesta dan hebatnya, data yang diberikan semuanya gratis.

 

Peta zodiak bertajuk 'Très Riches Heures du duc de Berry' sekitar 1411-1416—yang menggambarkan kaitan anatomi manusia dengan zodiak, karya Limbourg brothers. (CONDE MUSEUM)

 

Data yang didapat dalam observasi astronomi landas Bumi, bisa berbeda dari segi kualitas dan kuantitas karena faktor cuaca lokal sangat menentukan. Itulah sebabnya data yang didapat amat berharga karena pengamatannya sendiri tidak bisa diulang dengan kondisi yang sama persis.

Yang menarik adalah informasi dari langit yang didapat oleh para astronom hanyalah berupa cahaya atau lebih tepatnya berupa gelombang elektromagnetik. Dari seberkas cahaya masa lalu ini para astronom akan menafsirkan apa yang terjadi pada objek langit tersebut dengan pendekatan fisika dan matematika yang kita pahami di Bumi. Hal pokok yang dipegang para astronom adalah prinsip-prinsip dan hukum-hukum fisika berlaku sama di seluruh alam semesta.

 

 

Berapa jumlah zodiak sesungguhnya? Pada akhir 2016, NASA menyebutkan adanya tanda zodiak ke-13, Ophiuchus. Lewat laman situsnya, NASA mengungkapkan bagaimana pergerakan konstelasi yang berhubungan dengan Bumi, ribuan tahun sejak Babilonia melakukan pemetaan atas zodiak.

NASA menjelaskan bahwa zodiak sejatinya telah terbentuk lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Berdasarkan cerita Babilonia kuno, zodiak memiliki 13 tanda termasuk Ophiuchius. Namun mereka hanya memilih 12 tanda zodiak untuk mencocokannya dengan yang ada pada kalender mereka. Artinya, mereka hanya mendapati 12 bulan saja.

“Untuk membuat kecocokan dengan 12 bulan pada penanggalan, orang Babilonia menolak fakta bahwa matahari sebenarnya bergerak melewati 13 konstelasi, bukan 12,” jelas NASA dalam postingannya tersebut. “Lalu mereka menandai 12 konstelasi sejumlah dengan waktu yang ada.”

Tentunya dengan penjelasan di atas, walaupun tidak banyak, para pembaca yang budiman tidak salah lagi dalam mengintepretasikan antara astronomi dan astrologi. Astronomi dan astrologi jelas memiliki perbedaan yang signifikan.