Parasit Perenggut Sukma

By , Senin, 20 Oktober 2014 | 10:09 WIB

Begitu Plasmodium dewasa dan siap pindah ke inang yang baru, yakni manusia, dia mengubah perilaku nyamuk menjadi sebaliknya. Nyamuk tersebut sekarang haus darah dan membabi buta, mencari lebih banyak manusia setiap malam dan terus menggigit meskipun sudah kenyang. Sekalipun nyamuk tersebut mati di tangan manusia, bukan masalah lagi bagi sang protozoa. Plasmodium telah pindah rumah.

Sementara Plasmodium memanipulasi kebiasaan inangnya untuk mencapai tahap selanjutnya dalam siklus hidupnya, parasit lainnya menyebabkan perubahan yang jauh lebih radikal—sering kali berakibat fatal. Ikan jenis kepala timah atau ikan roket misalnya, biasanya hidup jauh dari permukaan agar tidak menjadi mangsa burung air. Namun, apabila ikan itu terinfeksi cacing pipih atau Platyhelminthes, iwak tersebut menghabiskan lebih banyak waktu di dekat permukaan dan kadang-kadang membalikkan badan sehingga perut keperakannya berkilau memantulkan cahaya. Kepala timah yang terinfeksi jauh lebih mungkin jadi mangsa daripada yang sehat. Dan kebetulan pula usus burung merupakan tempat yang dituju cacing pipih tersebut untuk mencapai tahap dewasa dan bereproduksi.

!break!

Parasit perenggut sukma yang paling dikenal manusia melakukan aksi serupa di darat. Tikus dan mencit, serta spesies mamalia lainnya, dapat terjangkit Toxoplasma gondii, makhluk bersel tunggal yang masih berkerabat dengan Plasmodium yang menyebabkan malaria. Parasit ini dapat membentuk ribuan kista di otak inangnya. Untuk mencapai tahap siklus hidup yang berikutnya, Toxoplasma harus masuk ke dalam usus kucing.

Toxoplasma tidak memiliki sarana untuk pindah sendiri dari otak tikus ke usus kucing. Namun, jika tikus yang menjadi inangnya dimakan oleh kucing, parasit tersebut dapat bereproduksi. Para ilmuwan menemukan bahwa tikus yang terinfeksi Toxoplasma kehilangan rasa takutnya terhadap bau kucing. Bahkan beberapa tikus yang terinfeksi menjadi sangat penasaran dengan kencing kucing, membuatnya jadi sasaran empuk bagi terkaman si pus—dan dengan demikian me­ningkatkan kemungkinan Toxoplasma melanjutkan siklus hidupnya.

Proses mutasi dan seleksi alam sehingga memunculkan kemampuan menyeramkan ini merupakan teka-teki yang sangat menarik bagi ahli biologi evolusi. Salah satu konsep yang berguna untuk memahami proses itu berasal dari ahli biologi Richard Dawkins, pengarang buku penting The Selfish Gene, Gen Egois.

Dalam buku itu, Dawkins berpendapat bahwa gen berevolusi agar lebih berhasil menggandakan diri. Tubuh kita mungkin penting bagi kita, tetapi dari sudut pandang gen, tubuh kita tidak lebih sekadar sarana untuk meneruskan dirinya ke generasi selanjutnya. Kumpulan gen yang menyusun tubuh kita disebut genotipe. Gabungan total semua bagian dan fungsi tubuh yang dihasilkan oleh genotipe itu demi melanjutkan keberadaannya—diri kita—disebut fenotipe.

Menurut Dawkins, fenotipe tidak hanya terbatas pada tubuh fisik semata. Fenotipe juga mencakup perilaku yang ditimbulkan oleh gen. Gen berang-berang menyimpan informasi pembentukan tulang, otot, dan kulit bulunya. Namun, gen tersebut juga menentukan susunan otak yang menyebabkan berang-berang menggerogoti pohon untuk membangun bendungan. Berang-berang memetik banyak manfaat dari lubuk yang terbentuk oleh bendungan. Salah satunya, predator sulit menyerang sarang berang-berang karena air sekitarnya lebih dalam. Jika suatu mutasi gen menyebabkan berang-berang membangun bendungan yang lebih baik, fenotipe berang-berang mungkin memiliki peluang hidup yang lebih baik dan, secara keseluruhan, menghasilkan lebih banyak keturunan. Akibatnya, sekian generasi kemudian, mutasi itu menjadi lebih umum ditemui. Dari perspektif evolusi, bendungan merupakan pengejawantahan gen berang-berang sama seperti tubuhnya sendiri.

!break!

Jika kemampuan gen dapat meluas hingga mencakup manipulasi terhadap lingkungannya, renung Dawkins, mengapa tidak manipulasi terhadap makhluk hidup lain? Dawkins berpendapat bahwa hal itu bisa terjadi, dan dia menyebut parasit sebagai contoh yang terbaik. Kemampuan parasit untuk mengontrol perilaku inangnya bersumber dari gennya. Jika salah satu gen itu bermutasi, perilaku inang akan berubah.

Bergantung pada perubahannya, mutasi tersebut mungkin meng­untungkan atau malah merugikan sang parasit. Mutasi parasit yang me­mengaruhi perilaku inang agar lebih menguntungkannya akan membuat mutasi tersebut lebih umum. Jika seekor penyengat mengalami mutasi yang memaksa kumbang koksi yang menjadi inangnya berperan sebagai pengawal, keturunannya yang membawa sifat tersebut akan semakin banyak, karena lebih sedikit yang menjadi korban pemangsa.

Dawkins pertama kali mengembangkan ide ini dalam bukunya The Extended Phenotype yang terbit 1982. Pada 1980-an, ilmuwan belum banyak melakukan penelitian mendalam terhadap spesies parasit yang memanipulasi perilaku inangnya. Namun, jika hipotesis itu benar, harus ada gen parasit yang meredam fungsi gen inang yang biasanya mengatur segala tindakannya.

Para ilmuwan akhirnya mengungkap informasi penting tentang pe­ngendalian pikiran oleh parasit. Frederic Libersat dan rekannya dari Universitas Ben-Gurion, misalnya, meneliti serangan tawon hijau, Ampulex compressa. Tawon itu menyengat lipas, mengubahnya menjadi mayat hidup. Tawon itu kemudian menuntun korbannya yang telah ke­hilangan sukma ke dalam liang dengan cara menarik sungutnya, seperti orang menarik tali anjing. Tawon itu kemudian bertelur di perut kecoa yang tetap diam mematung saat larva tawon menetas dan menggali lubang ke dalam perutnya.

Apa rahasia sang tawon sehingga mampu menaklukkan korbannya se­demikian rupa? Tawon dengan hati-hati mengarahkan sengatnya ke dalam benak lipas, mencari bagian otak yang mengatur gerakan. Tawon membanjiri neuron dengan campuran neurotransmiter, yang berfungsi seperti obat-obatan psikoaktif. Percobaan Libersat menunjukkan bahwa sang tawon meredam aktivitas neuron yang biasanya memerintahkan kecoa melarikan diri saat menghadapi bahaya.