Batu Kecil Ini Terrnyata Meteorit Kuno yang Seumuran dengan Tata Surya

By Utomo Priyambodo, Rabu, 21 Juli 2021 | 17:41 WIB
Batu kecil yang ternyata merupakan bagian dari meteorit kuno berusia 4,6 miliar tahun. (David Clarke/EAARO)

"Struktur internal batu ini rapuh dan terikat longgar, keropos dengan celah dan retakan," kata ahli mikroskop Shaun Fowler dari Loughborough University di Inggris.

"Tampaknya batu ini tidak mengalami metamorfisme termal, yang berarti telah berada di luar sana, melewati Mars, tak tersentuh, sejak sebelum planet mana pun diciptakan, yang berarti kita memiliki kesempatan langka untuk memeriksa sepotong masa lalu primordial kita," papar Fowlter seperti dilansir Science Alert.

Batu kecil tersebut merupakan bagian dari meteorit yang sama yang jatuh di Winchcombe pada bulan Maret lalu, berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Umurnya ini kira-kira seusia dengan Tata Surya. Itu berarti ia terbentuk dari awan debu dan gas yang sama yang melahirkan Matahari dan planet-planet.

Sementara planet-planet Tata Surya sejak itu telah mengalami peristiwa dan transformasi signifikan, meteorit yang ditemukan di Gloucestershire itu baru saja muncul tanpa gangguan di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Konstruksinya yang teragregasi longgar menunjukkan bahwa batu ini tidak mengalami pemadatan akibat tumbukan berulang.

Baca Juga: Batu Hijau Kecil di Antartika Memberi Peringatan soal Masa Depan Bumi

Wacana asteroid yang hendak menabrak Bumi dan upaya manusia mencegahnya pernah digambarkan dalam film Armageddon yang dirilis pada 1998. (Andrzej Wojcicki / Science Photo Library)

Nasib kemudian membata batu kecil itu mendarat di Inggris. Kedatangannya menimbulkan kegemparan. Batu ini merupakan meteorit pertama yang ditemukan di Inggris dalam 30 tahun terakhir, sekaligus merupakan jenis meteorit yang langka, yang dikenal sebagai kondrit berkarbon.

Itu berarti batu ini adalah meteorit berbatu, bukan besi, yang terutama terdiri dari karbon dan silikon. Bahan-bahan ini lebih kecil kemungkinannya untuk bertahan dari kerasnya masuknya atmosfer daripada batuan besi. Inilah mengapa kondrit berkarbon sedikit dan jarang ditemukan di Bumi.

Batu kecil yang menghitam ini akan menjalani serangkaian analisis, termasuk mikroskop elektron, spektroskopi getaran, dan difraksi sinar-X. Teknik-teknik ini akan membantu mengungkap struktur fisik batu tersebut, serta terbuat dari apa.

"Sebagian besar meteorit terdiri dari mineral seperti olivin dan filosilikat, dengan inklusi mineral lain yang disebut kondrul," ucap Fowler.

Baca Juga: Temuan Air Tertua di Dunia Menjelaskan Awal Mula Kehidupan di Bumi

 

"Tetapi komposisinya berbeda dengan apa pun yang Anda temukan di Bumi dan berpotensi tidak seperti meteorit lain yang kami temukan --mungkin mengandung beberapa struktur kimia atau fisik yang sebelumnya tidak diketahui yang belum pernah terlihat dalam sampel meteorit lain yang tercatat," bebernya.

Kurang dari lima persen dari semua meteorit yang ditemukan di Bumi adalah kondrit berkarbon. Meteorit seperti ini sangat dicari karena kaya akan bahan organik, dan para ilmuwan percaya mereka mungkin mengandung petunjuk tentang asal-usul bahan organik di Bumi.

Potongan batu luar angkasa lainnya yang semacam telah menghasilkan petunjuk menggiurkan tentang asal-usul blok bangunan kehidupan, serta air, tetapi dengan begitu sedikit yang tersedia untuk dipelajari. Oleh karena, para peneliti menginginkan lebih banyak lagi.

"Kondrit berkarbon mengandung senyawa organik termasuk asam amino, yang ditemukan di semua makhluk hidup," kata ahli astrokimia Derek Robson dari East Anglian Astrophysical Research Organisation (EAARO), yang menemukan meteorit tersebut.

"Mampu mengidentifikasi dan mengkonfirmasi keberadaan senyawa semacam itu dari bahan yang ada sebelum Bumi lahir akan menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana kehidupan bermula."

Derek Robson dan timnya kini sedang menganalisis lebih lanjut batu tersebut.

Baca Juga: Asal-Usul Oumuamua yang Disangka Kapal Alien Akhirnya Terjelaskan