Panjat Tebing Makin Populer Tapi Jejak Kapurnya Dikritik Pelestari

By Fikri Muhammad, Selasa, 27 Juli 2021 | 18:20 WIB
Dengan debutnya di Olimpiade, olahraga beresiko ini kembali disoroti tentang dampak penggunaan kapur panjat terhadap lingkungan. (Paolo Sartori)

Nationalgeographic.co.id—Sebelum pendakian "Free Solo" Alex Honnold yang menakjubkan di El Capitan Yoesemite pada 2017, panjat tebing sudah mendapat pamornya. Sekarang, dengan debut panjat tebing di Olimpiade Tokyo, olahraga itu telah mencapai level baru.

Namun, popularitas panjang tebing dan bouldering (panjat bebas tanpa menggunakan tali dan pengaman) menimbulkan pertanyaan tentang efek buruk kapur panjat terhadap lingkungan.

Kapur panjat terbuat dari magnesium karbonat. Zat yang sama digunakan oleh pesenam dan angkat besi untuk meningkatkan cengkeraman mereka pada palang dan beban.

Panjat tebing pertama kali diperkenalkan pada 1950-an oleh John Gill, seorang pesenam di perguruan tinggi. Sejak saat itu, pemanjat amatir dan profesional sama-sama bergantung pada pengeringan kapur dan sifat pemicu gesekan. 

 

Hasil "grafiti kapur" telah berdampak buruk di Amerika Serikat, sehingga taman nasional terpaksa membatasi penggunaannya.

Taman Nasional Arches Utah hanya mengizinkan kapur berwarna yang cocok dengan warna batuan. Sementara Colorado’s Garden of the Gods National Natural Landmark melarang semua kapur dan penggantinya, bukan karena bekas kapur yang tak sedap dipandang, melainkan untuk melestarikan kawasan yang penting secara spiritual.

Di luar polusi visual, penelitian tentang efek kapur panjat yang dirilis pada Oktober 2020 oleh Ecology and Evolution, menunjukkan bahwa kapur dapat merusak flora yang tumbuh di bebatuan. Hal itu berdampak negatif pada perkecambahan dan kelangsungan hidup empat spesies masing-masing pakis dan lumut yang hidup di batu.

Menghapus kapur seperti tidak membantu karena jejak kimia pada batu yang dibersihkan mengubah keseimbangan pH permukaan batu, yang mempengaruhi kemampuan tanaman untuk tumbuh di sana.

Itu penting karena beberapa tempat pendakian, seperti bebatuan yan tak menentu, memiliki ekosistem yang unik.

Baca Juga: Pendaki Disablitias Korea Selatan Meninggal di Gunung Broad Peak

Para pelestari mempertanyakan aspek kelestarian lingkungan dalam kapur panjat. Penggunaan kapur berwarna bisa menyelesikan aspek polusi visual, namun sebagian kapur berwarna juga mengandung magnesium karbonat bersama dengan bahan lainnya. (Alessandro Valli)

Batu-batu besar tak menentu, yang tersebar di seluruh dunia oleh gletser di akhir Zaman Es, adalah pulau vegetasi, berbeda dari tanah tempat mereka duduk. Dengan demikian, mereka dapat menyimpan informasi tentang era itu dan bagaimana perjalanan tanaman ini. 

Belum jelas apakah kapur meningkatkan kinerja panjat. Beberapa makalah tidak menemukan manfaat pegangan tambahan. Sementara yang lain menemukan sebaliknya. Beberapa pendaki mungkin merasa terbantu, kata Daniel Hepenstrick, kandidat doktor di ETH Zürich pada laman National Geographic.

Akan tetapi, itu mungkin lebih ke bantuan psikologis.

"Ketika anda menghadapi masalah di atas batu, apa yang anda lakukan? kata Hepenstrick. "Kamu bedak tanganmu dan lanjutkan."

Sampai studi berikutnya dilakukan, tanggung jawab sebagian besar diserahkan pada pendaki "yang benar-benar peduli dengan alam," kata Hepenstrick.

Kapur berwarna yang menyatu dengan bebatuan adalah salah satu cara mengurangi polusi visual. Akan tetapi, kapur itu tidak mencegah kerusakan lingkungan. Sebagian kapur berwarna mengandung magnesium karbonat bersama dengan bahan lainnya. 

Dampak lingkungan dari panjat tebing, secara umum, tidak diketahui. Akses adalah salah satu batasannya karena kebanyakan ilmuwan bukanlah pendaki. Bahkan, di area yang dapat diakses, medan yang bervariasi itu dapat menghadirkan tantangan untuk mengukur efek pendakian.

"Sulit untuk memisahkan mekanisme yang berpotensi berdampak pada komunitas tebing yang sensitif," kata Peter Clark, kandidat doktor di University if Vermont, yang mempelajari ekologi tebing.