Mundardjito: Ini Bukti Trowulan Pernah Menjadi Metropolitan Majapahit

By Mahandis Yoanata Thamrin, Kamis, 10 Oktober 2013 | 20:40 WIB
Permukaan air Candi Tikus, Trowulan, menyurut kala pertengahan musim kemarau. Sejatinya bangunan tersebut merupakan petirtaan agung untuk Raja Majapahit. (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id—Museum Nasional dan National Geographic Indonesia menyelenggarakan pertemuan para ahli arkeologi yang pernah menyelisik Trowulan pada awal 2012. Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Mundardjito berkisah pengalamannya selama tigapuluh tahun lebih meneliti Metropolitan Majapahit itu. Ketika ditugaskan ke kawasan Trowulan pertama kali, dia tidak yakin kawasan ini sebuah ibu kota. Namun, seiring melimpahnya temuan, kini dirinya mulai yakin bahwa kawasan itu adalah sebuah ibu kota karena tidak ada lagi kawasan kuno yang menyamai ragam temuan dan teknologi masyarakatnya. “Berarti inilah ibunya, yang lain anaknya,” ujar Mundardjito terkekeh.

Menurut Mundardjito kanal-kanal itu merupakan  teknologi adaptasi masyarakat terhadap musim dan bersifat ekologi. Warga ibu kota itu berhasil mengalirkan air limpahan dari kota ke dalam kanal-kanal. Sebaliknya pada musim kemarau, deposit air dalam tanah selalu tersedia sehingga sumur-sumur warga tak pernah kehabisan air. “Tidak seperti Jakarta, kanal barat dan kanal timur tidak dipertemukan sehingga limpahannya sampai ke tempat Presiden,” ujar Mundardjito. “Tetapi, masalah limpahan air di Majapahit tidak sampai ke tempat Raja karena kanal-kanal tersebar merata di daerah permukiman.”

Sejumlah enam danau alam telah direvitalisasi oleh pemerintah Majapahit sebagai waduk untuk pengairan sawah. Jaringan kanal di Majapahit saling berkait dengan waduk, sungai, curah hujan, kolam, dan drainase.

Melalui sistem drainase yang baik, mereka  juga banyak membangun saluran-saluran  air di bawah permukaan tanah. “Itu suatu sistem yang sangat luar biasa,” ungkap Mundardjito. “Jangan dilihat kanal sebagi satu hal saja!” Kepadatan temuan tembikar dan keramik asing pun berada di kawasan dalam jaringan kanal-kanal, bukan daerah pinggiran. Ragam jenis temuan arkeologi itu sangat banyak dan karya ukirannya pun sangat indah yang menunjukkan kehidupan perkotaan.

Baca Juga: Jejak Tanah Leluhur Para Raja Jawa di Metropolitan Kuno Majapahit

Pada 1990-an serangkaian ekskavasi di dekat Segaran yang dipimpin Mundardjito telah menampakkan struktur permukiman Majapahit. (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Mundardjito menduga tampaknya  para artisan itu dilindungi dan dipelihara raja. “Tidak pernah kita menemukan dalam situs lain dengan kualitas dan jumlah yang luar biasa” ungkap Mundardjito dengan bergelora. “Nah, itu menandakan Ibu kota!”  “Penanda sebuah kota yang besar itu harus ada monumental works,” ungkap Mundardjito. Dia menunjukkan Trowulan masih memiliki sisa-sisa bangunan bekas permukiman dan bukti bangunan monumental lainnya seperti kompleks candi Hindu dan Buddha di sisi utara, sistem jaringan kanal dan waduk, gapura-gapura, dan sebuah kolam buatan berukuran raksasa.

Baca Juga: Pesan Teladan Kemajemukan Budaya dari Metropolitan Majapahit

Fajar di situs arkeologi Kolam Segaran di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan air ini menjadi salah satu tengara Ibu Kota Majapahit. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Tetapi, jika ini hancur semua, kita hanya punya cerita tidak punya bukti,” dia berhenti sesaat lalu berkata, “itu namanya negara dongeng.”Indonesia memiliki banyak kerajaan tua sebelum Majapahit berdiri―Kutai, Tarumanagara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Kadiri, Singhasari―tetapi kerajaan-kerajaan itu tak satu pun yang menyisakan tinggalan kota kunonya. “Yang ada, ya hanya di Trowulan”, ungkap Mundardjito, “inilah kota kuno satu-satunya!”

Baca Juga: Pada Suatu Mi: Untaian Gastronomi dari Dinasti Tang sampai Majapahit