Piet Voorn, Pemilik Studio Fotax yang Membekukan Masa Lalu Surabaya

By Mahandis Yoanata Thamrin, Minggu, 27 Oktober 2013 | 10:00 WIB
Foto suasana siang hari di kawasan Apotek Simpang, Surabaya, Jawa Timur. Foto oleh Fotax. (Tropenmuseum/Wikimedia)

Saya mengamati lokasi bekas studio foto milik Pop dan Ross. Namun, tampaknya bangunan awal studio foto itu sudah berganti bangunan baru. Sebelumnya, saya pernah menyaksikan selembar foto yang mengisahkan rupa studio Fotax. Studio itu merupakan rumah dua lantai berarsitektur Eropa, dengan dua jendela berkanopi yang mengapit pintu utama. Salah satu jendelanya bertuliskan “Fotax”, sementara di dinding bagian bawahnya menyuarakan kesungguhan sang pemilik:  “Our Business is Developing”.

Suami-istri itu  berjasa lantaran telah mengabadikan kehidupan Surabaya pada awal abad ke-20 sebelum kedatangan Jepang. Meskipun mereka memiliki klien besar seperti Angkatan Laut Hindia Belanda dan Pemerintah Kotapraja Surabaya, pelanggan peroranganlah yang paling banyak menggunakan jasa Fotax.

 

Baca Juga: Selidik Gedung Algemeene, Cagar Budaya Surabaya yang Kini Dijual

Piet Voorn dan istri sekaligus asistennya, Rosalina Cornelia Naisah van Wingerden, membuka agen foto Fotax di Surabaya pada 1925. (FOTAX)

 

Sayangnya, sekitar 10.000 klise foto lenyap ketika keluarga Pop ditawan Jepang. Pop bersama warga Belanda lainnya ditawan dalam Kamp Ambarawa, Jawa Tengah. Setelah masa perang, keluarga mereka yang tinggal di Belanda menemukan sebuah album foto-foto Fotax. Namun, dari ribuan foto karya mereka, hanya sebagian kecil yang selamat.

Pop wafat pada 1971 dalam usia 78 tahun di Rumah Sakit Bronovo, Den Haag. Jasadnya dikremasi di Krematorium Ockenburgh, Loosduinen. Sedangkan tahun-tahun terakhir Ross dihabiskan di sebuah panti jompo di Gouda, sebuah tempat yang terkenal karena kejunya. Istri Pop wafat dalam usia 97 tahun pada 1995.

Amplop foto dari studio foto FOTAX di Surabaya, sekitar 1925-1940. Foto oleh FOTAX. (KITLV)

 

Trem listrik di jalanan Gemblongan, Surabaya, dengan Fotax Fotografisch Magazijn en Atelier di sisi kiri, dan Yamato di sisi kanan. Foto sekitar 1938. (KITLV)

Pemandangan Alun-Alun Contong awal abad ke-20, sekitar Jalan Pahlawan. Studio Fotax milik Piet Voorn dan Rosalina Cornelia Naisahvan Wingerden berada di jalan ini, tepatnya di belakang bangunan bermenara ganda itu. Foto oleh Fotax. (Tropenmuseum/Wikimedia)

 

 

Restoran Shanghai yang berlokasi di sebelah kiri Fotax Studio. Foto sekitar 1935. (KITLV)

Pemandangan Alun-Alun Contong awal abad ke-20, sekitar Jalan Pahlawan. Studio Fotax milik Piet Voorn dan Rosalina Cornelia Naisahvan Wingerden berada di jalan ini, tepatnya di belakang bangunan bermenara ganda itu. Foto oleh Fotax. (Tropenmuseum/Wikimedia)

Baca Juga: Awal Perjalanan Benteng Kedungcowek Menjadi Pusaka Kota Surabaya