Berlangganan

Kisah Haru Persahabatan Dua Difabel Muslim dan Kristen dari Damaskus

Kamis, 02 September 2021 | 19:47 WIB
Galih Pranata, Mahandis Yoanata Thamrin
Bagikan :
Tancrède R. Dumas
Foto Muhammad dan Samir yang diambil pada 1889, di Library of Congress.

Nationalgeographic.co.id—Sebuah foto hitam putih yang diambil sekitar tahun 1889, tersimpan rapi. Agaknya terdapat kisah menarik dibalik foto tersebut. Terlihat seorang yang berdiri dengan mata terpejam, menggendong seseorang dipunggungnya. Foto ini mengisahkan tentang dua orang bernama Muhammad dan Samir.

Muhammad dan Samir tinggal di Damaskus, Suriah. Mereka adalah dua sahabat yang senantiasa bersama dalam kehidupan sehari-harinya. Muhammad adalah seorang yang buta, pada foto dengan mata terpejam sambil membawa tongkat. Ia berdiri sembari menggendong Samir yang tidak dapat berjalan dengan kedua kakinya, Samir nampak mengalami lumpuh dan mengidap dwarfisme.

Ya, kisah ini menjadikan Muhammad sebagai kaki yang dapat membuat Samir berjalan dan menjelajah. Sebaliknya, Samir sebagai mata bagi Muhammad untuk dapat melihat dunia. Disebutkan dalam tulisan Matt Williams yang berjudul 127-Year-Old Photo Shows What Peace Can Look Like in Syria pada tahun 2016, menjelaskan bahwa mereka berdua yatim piatu.

"Mereka tak memiliki keluarga dan kekasih, membuatnya selalu bersama, dan sepenuhnya bergantung satu sama lain" tulisnya. Menariknya, mereka berdua adalah seorang yang agamis, namun memiliki keyakinan yang berbeda. "Samir adalah orang Kristen, sedangkan Muhammad adalah Muslim" tambahnya.

Mereka tinggal di dalam satu kamar yang sama, Keduanya juga bekerja di sebuah kedai kopi. Mereka saling menopang dan menjalani kehidupan bersama, meski secara prinsip dan kepercayaan, mereka berpegang teguh dengan kepercayaan mereka masing-masing.

"Perbedaan ini sangat terlihat karena ketaatan mereka pada agamanya masing-masing, tetapi itu tidak menghalangi Samir dan Muhammad untuk menjadi sahabat setia dan selalu bekerja sama" tulis Williams.

Baca Juga: Tugu Peringatan Perang Berusia 4.000 Tahun Teridentifikasi di Suriah

Lukisan sebuah jalan di Damaskus karya Arthur Trevor Haddon, cat minyak di atas kanvas.

Mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar, yaitu untuk mendapatkan satu tujuan yang sama, mencapai kehidupan sebagaimana orang lain dengan saling melengkapi satu sama lain.

"Uniknya persahabatan mereka, berada ditengah gejolak saling singgungnya antar umat beragama di Syria (Suriah)" tambahnya. Saat itu (abad ke-19), di negara-negara Arab sedang banyak terjadi resistensi bahkan konfrontasi berlatar belakang ras, etnik, budaya, hingga keagamaan.

Kristen dan Islam yang sedang berseteru, Arab dan Kurdi yang sedang terlibat konflik, Syiah dan Sunni yang tercerai berai, hingga Israel dan Palestina yang saling berperang. Berbagai konflik di tanah Arab saat itu, tak sedikitpun memengaruhi persahabatan mereka. Sampai pada akhirnya, mereka harus berpisah.

Baca Juga: Kisah Dua Pengantin Anak Suriah yang Menikah di Usia 14 Tahun

Tag: