Peran Serta Radio dalam Perkembangan Teknologi dan Informasi Indonesia

By Galih Pranata, Jumat, 10 September 2021 | 15:00 WIB
Bapak Pendidikan Indoensia, Ki Hajar Dewantara kerap menggunakan sarana radio untuk mengungkapkan ide-ide dan memberikan informasi kepada masyarakat. (Museum Penerangan)

 

Nationalgeographic.co.id—Radio mengambil peranan penting dalam pergolakan sejarah Indonesia. Ada banyak memori yang terekam saat mendengarkan radio dari masa ke masa. Ia menawarkan informasi aktual dan hiburan yang membuat pendengar setianya tak mau beranjak. Sebelum populernya televisi yang muncul pada 1962, era radio telah dimulai lebih dulu. Pesawat radio pertama kali mengudara pada 1920.

Sejarah awal mula berkembangnya radio di Indonesia, dimulai pada berdirinya Batavia Radio Vereniging (BRV) pada 16 Juni 1925 di Batavia (kini Jakarta). Stasiun radio ini mengudara lima tahun setelah Amerika Serikat, dan tiga tahun setelah di Inggris dan Uni Soviet menyiarkan siaran pertama mereka. Meski tak terlalu besar, berdirinya BRV lantas mendorong sejumlah badan penyiaran untuk mendirikan stasiun radio.

Adapun berbagai lembaga yang mendirikan stasiun radio, diantaranya, Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM) di Jakarta, Bandung, dan Medan; Solossche Radio Vereniging (SRV) di Solo; Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO) di Yogyakarta; Verniging Oosterse Radio Luisteraars (VORL) di Bandung; Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep (VORO) di Surakarta; Chineese en Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) di Surabaya; Eerste Madiunse Radio Omroep (EMRO) di Madiun; dan Radio Semarang di Semarang.