Kurupi itaata, Dinosaurus Predator Baru yang Ditemukan di Brasil

By Ricky Jenihansen, Kamis, 9 September 2021 | 14:00 WIB
Rekonstruksi kehidupan Kurupi itaata. (Julia d'Oliveira)

Nationalgeographic.co.id—Ahli paleontologi di Brasil telah menemukan fragmen fosil dinosaurus predator baru. Dinosaurus yang baru ditemukan ini hidup di tempat yang sekarang menjadi tenggara Brasil sekitar 70 juta tahun yang lalu, atau zaman Kapur Akhir.

Dinosaurus itu diberi nama Kurupi itaata, spesies ini adalah sejenis dinosaurus theropoda abelisaurid, sekelompok predator bipedal, atau berdiri di atas dua kaki. Dinosaurus ini hidup bebas di superkontinen selatan kuno Gondwana, super benua yang pernah ada selama era Neoproterozoikum hingga periode Jurasik.

Sisa-sisa fosil Kurupi itaata ditemukan pada ahli paleontologi di kotamadya Monte Alto di negara bagian Sao Paulo barat. Penemuan Kurupi itaata telah dipublikasikan dalam sebuah makalah di Journal of South American Earth Sciences.

Untuk diketahui, theropoda abelisaurid merupakan rumpun atau klad dinosaurus theropoda yang merupakan bagian dari kelompok Ceratosauria. Dan seperti kebanyakan theropoda lainnya, spesies ini adalah predator dan pemakan daging yang berjalan dengan dua kaki di belakangnya. Dari catatan fosil yang ditemukan selama ini, abelisauridae ada setidaknya sejak pertengahan periode Jura dan mencapai puncaknya pada Zaman Kapur, di benua raksasa Gondwana dan pecahan-pecahannya.

"Kurapi itaata mewakili dinosaurus tetrapoda bernama pertama untuk Formasi Marilia (Bauru Group), unit geologi yang terjadi di Sao Paulo, Minas Gerais, Goias, dan negara bagian Mato Grosso do Sul, Brasil," tulis Dr. Fabiano Vidoi Iori dari Museu de paleontologia Pedro Candolo dan Museu de Paleontologia Prof. Antonio Celso de Arruda Campos dalam laporannya.

Baca Juga: Triceratops Terbesar di Dunia Akan Dilelang Mulai Rp 20 Miliar

Formasi Marilia (Wiley online library)

Menurutnya, formasi tersebut sebagian besar terdiri dari paleosol atau tanah fosil yang berkembang di lingkungan semi-kering atau kering. Dan penilaian ulang baru-baru ini terhadap bagian yang sebelumnya diketahui mengurangi komposisi litologi atau karakter fisik yang terlihat dan distribusi geografisnya. "Ini memiliki catatan fosil vertebrata yang sangat jarang tanpa spesies bernama sejauh ini," ia menjelaskan.

Selama ini, formasi Marilia memang memiliki catatan fosil vertebrata yang sangat jarang tanpa spesies yang diberi nama sejauh ini. Pada penemuan kali ini, peneliti telah berkontribusi menggambarkan theropoda abelisaurid (dinosauria) baru dari unit ini.

Temuan tersebut terdiri tiga tulang ekor dan sabuk panggul parsial Kurupi itaata. Mereka menemukan, bahwa binatang purba ini memiliki memiliki panjang sekitar 16,4 kaki atau sekitar 5 meter dan memiliki ekor yang kaku. Salah satu ciri khas Abelisaurid adalah kaki belakangnya dengan tulang paha yang lebih panjang dibanding tulang kering. Hal itu menimbulkan kesan kokoh.

Baca Juga: Gembala Sapi Temukan 'Dinosaurus Bercangkang' Berusia 20.000 Tahun

Gelang pinggul parsial Kurupi itaata (Iori et al)

Para ahli kemudian melakukan analisis filogenetik pada spesimen tersebut. Analisis itu berfungsi untuk menentukan bagaimana keluarga tersebut diturunkan selama proses evolusi. Dari hasil analisis, para ahli menemukan, gen Kurupi itaata di antara theropoda abelisaurid, tetapi terdapat di politomi atau terbagi besar-besaran dan belum terselesaikan dari seluruh klad.

Dinosaurus ini juga diperkirakan dapat beradaptasi dengan baik untuk berlari seperti yang ditunjukan oleh perlekatan otot dan anatomi tulangnya. "Takson baru ini seperti abelisaurid Amerika Selatan lainnya yang menyatukan ischia dan vertebra caudal dengan proses transversal yang panjang dan berorientasi lateral, dengan ujung distal berbentuk kipas," kata peneliti.

Sifat taphonomic atau semua proses yang telah terjadi baik sebelum, selama dan setelah penguburan organisme di situs arkeologi pada spesimen yang dipelajari, menguatkan proposal sebelumnya untuk konteks paleoenvironmental dari Formasi Marilia di Brasil. "Temuan ini berkontribusi pada pengetahuan fauna kontinental Maastrichtian di Brasil dan meningkatkan keragaman abelisaurid berukuran sedang di Gondwana barat.

Baca Juga: Satu Lagi, Penjelasan Teka-Teki Dinosaurus Kamboja di Kuil Ta Prohm