Suluh Kemandirian di Pesisir Karawang

By , Rabu, 26 Maret 2014 | 06:41 WIB
()

Dalam ruang kelas yang sempit di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Assolahiyah, anak-anak itu bercengkerama. Kelas dengan dinding putih muram ini hanya selebar 2,5 meter x 5 meter.

Kursi-kursi berhimpitan menghadap papan tulis putih yang menempel di pintu yang sengaja ditutup rapat. Itu satu-satunya ruang kelas yang ada.

Rumah peninggalan orang tua Kepala PKBM Heru Saleh ini jauh dari layak untuk kegiatan belajar. Ruangan sempit, bekas air hujan membercak di plafon kelas. "Alhamdulillah, antusiasme belajarnya baik," jelas Heru.

Berkiprah sejak 2008, organisasi di Desa Pasirjaya, Cilamaya Kulon, Karawang, Jawa Barat, ini merangkak pelan-pelan untuk mendidik remaja putus sekolah. Banyaknya anak yang terpaksa berhenti bersekolah di desanya itu melecut Heru untuk memulai pendidikan luar sekolah.

Para peserta didik melakukan kegiatan belajar di ruang kelas yang sempit di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Assolahiyah, Karawang (Agus Prijono).

"Awalnya kita membuka kursus bahasa Inggris dan komputer," tutur Heru yang merintis PKBM bersama rekannya, Siti Marini dan Hamzah. Langkah awal itu berjalan apa adanya: belajar di mana saja, dan kapan saja. "Istilahnya, tempatnya beratapkan langit, beralaskan bumi, di mana saja."

Bahkan kursus komputer berlangsung pun tanpa komputer. "Hanya teori," kata Heru seraya tertawa kecil. Untuk mengenalkan wujud komputer pun hanya melalui gambar. "Keyboard kita gambar di papan tulis."

Semenjak 2010, aktivitas belajar PKBM berpindah ke rumah tinggalan orang tua, yang lantas dirombak pelan-pelan. Kini PKBM memiliki program Paket A, B, dan C. "Paket A untuk SD, 19 orang; paket B untuk SMP, 45 anak; dan paket C untuk SMA, 70 orang," terang Heru, yang berkiprah bersama 17 relawan pendidik ini.

Selurug paket pendidikan ini untuk membantu anak didik meraih ijazah melalui ujian kesetaraan. Kendati hanya ada satu kelas, pendidikan berlangsung mulai Senin sampai Sabtu. "Jumat dan Sabtu berisi kegiatan lifeskill," lanjutnya. "Karena hanya satu ruang, ya bergantian." Untuk itu, pendidikan dilengkapi dengan tugas mandiri yang dikerjakan anak didik.

Jumlah anak didik yang bersekolah kadang berkurang karena harus membantu orangtua di sawah ataupun melaut. Keadaan ekonomi masyarakat Pasirjaya yang masih rendah membuat generasi mudanya turut bekerja.

Tak hanya menekankan pendidikan kesetaraan dan keaksaraan, PKBM juga mengarahkan kemandirian anak didik. Untuk alumni yang semula belum melek aksara misalnya, diarahkan untuk membentuk kelompok usaha. "Pembuatan terasi, olahan beras, olahan udang dan menjahit," Heru menuturkan.

Sebelum membuat kelompok usaha, dilakukan pelatihan sesuai minat para peserta didik. Umumnya peserta didik banyak yang menyukai menjahit. Selain bisa membuka usaha mandiri juga bisa bekerja di pabrik garmen.

Bersama dengan PT Pertamina EP Field Subang, PKBM membuka pelatihan menjahit untuk 30 orang. "Peminatnya 70 orang," jelas Heru, "untuk sementara baru 30 orang."

Pelatihan dengan dukungan PT Pertamin EP berupa fasilitas mesin jahit, mesin obras, dan biaya operasional ini diikuti oleh peserta beragam usia, dari lulusan SD, SMP dan SMA. Kerjasama dengan PKBM Assolahiyah ini sebagai wujud tanggung jawab perusahaan (CSR) PT Pertamina EP yang bermitra dengan masyarakat.

Dari pelatihan menjahit yang telah dilakukan PKBM, 100 lebih alumni pelatihan telah bekerja di pabrik garmen di sekitar Karawang. Berangkat dengan hanya dua mesin jahit, PKBM kini terus mengembangkan peningkatan ekonomi. Kelompok usaha yang semula 10 unit pun juga telah berkembang menjadi 70 kelompok.