Vaksin Demam Berdarah Dipasarkan Tahun 2016

By , Senin, 16 Juni 2014 | 15:46 WIB

Demam dengue atau ketika parah menjadi demam berdarah dengue mengancam lebih dari seperempat penduduk Bumi (2,5 miliar orang).

Jumlah kasus demam berdarah dengue tertinggi dunia ada di ASEAN.

Oleh karena itu, kerja sama regional antarnegara di Asia Tenggara diperlukan guna menekan jumlah korban.

Puncak peringatan Hari Dengue ASEAN di Angeles City, Filipina, Minggu (15/6), dilakukan dengan mengajak warga mengenal dan mencegah demam dengue. 

Virus dengue menular ke manusia dan ditularkan ke manusia lain oleh nyamuk Aedes aegypti yang hanya menggigit saat pagi dan sore hari. Nyamuk ini bersarang di genangan air bersih dan tenang.

Persoalannya, belum ada pengobatan yang tepat atau vaksin DBD.

"Cara penanganan selama ini menggantikan cairan darah korban akibat keluarnya plasma darah saat korban sudah shock," kata dokter spesialis penyakit dalam dan infeksi yang juga Kepala Departemen Mikrobiologi dan Kelompok Studi Dengue, Institut Riset Kedokteran Tropis Filipina, Maria Rosario Z Capeding.

Saat ini pengembangan vaksin terus dilakukan. Ini kali pertama uji klinis vaksin dengue yang berhasil melalui fase ketiga.

Capeding yang melakukan uji klinis tahap ketiga atas vaksin dengue produksi Sanofi Pasteur mengatakan, vaksin DBD itu mempu mengurangi kasus demam dengue hingga 56 persen. 

(Baca di Hasil Uji Klinis Vaksin Demam Berdarah "Menggembirakan")

Vaksin yang diteliti 20 tahun ini diharapkan segera ada di pasaran. Pembuatan vaksin DBD tidak mudah pasalnya virus terdiri dari empat tipe yaitu tipe DENV-1, 2, 3, dan 4. Jenis serotipe dengue paling dominan di Indonesia adalah DENV-3 yang dianggap ganas.

Di Jakarta, Joko Murdianto, GM Vaccine Sanofi Group Indonesia, mengungkapkan, vaksin itu menurut rencana akan mulai dipasarkan di Indonesia akhir 2016.

Berdasarkan data WHO, setiap tahun sekitar 390 juta orang terinfeksi virus dengue. Sebanyak 22.000 orang di antaranya, khususnya anak-anak dan remaja, tewas akibat penyakit yang umumnya terjadi di daerah tropis dan subtropis itu.