Memantau Tingkah Penghuni Tetap Halimun Salak

By , Minggu, 29 Juni 2014 | 19:35 WIB

Seekor macan tutul jawa berbulu hitam atau kumbang diidentifikasi berkelamin jantan tertangkap kamera. Aksinya sedang tengkurap, membuka mulut, serta menunjukkan lidah dan taring di area Awi 5 Chevron Geothermal Salak Ltd , Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jumat (13/6) pukul 06.15.

Sepekan sebelumnya, Sabtu (7/6) pukul 15.57, sepasang macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau disingkat matulja tertangkap kamera sedang berkeliaran di area Awi 3 Chevron Geothermal Salak Ltd (CGS). Di wilayah yang sama, pada Senin (2/6) pukul 17.14 yang tertangkap kamera adalah pergerakan seekor macan tutul jawa berkelamin betina. Diduga kuat macan tutul jawa betina yang tertangkap kamera pada Senin dan Sabtu itu merupakan individu yang sama.

Manajer Program Gede Pangrango Halimun Salak Conservation International Indonesia (CII) Anton Ario dalam presentasi di areal CGS pada Rabu (18/6) mengatakan, cara mengidentifikasi macan tutul jawa adalah dari motif bintik (tutul) pada tubuh. Motif bintik pada setiap macan tutul jawa pasti berbeda sehingga disetarakan dengan sidik jari pada manusia.

CII dan CGS, kata Anton, bekerja sama sepanjang Januari-Juni 2014 dalam program Eye on the Forest. Program dilakukan dalam bentuk pemasangan kamera dalam areal Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) khususnya di wilayah operasi CGS. Tujuannya untuk mendapatkan foto satwa-satwa liar terutama macan tutul jawa buat penentuan rencana aksi kegiatan pengelolaan dan pelestarian habitat satwa liar.

Yayasan Owa Jawa dan CGS akan menjajaki kerja sama pemasangan kamera pemantau (CCTV). Misinya adalah turut mengidentifikasi wilayah pergerakan owa jawa (Hylobates moloch) dan elang jawa (Nisaetus bartelsi) alias garuda dalam areal CGS guna penyusunan program perlindungan.

Kepala Balai TNGHS Tri Siswo Rahardjo mengatakan, program serupa sudah dilakukan tim internal di tujuh lokasi. Di tiap lokasi dipasangi tiga kamera.

Untuk identifikasi, menurut Tri, petugas balai disebar dan ditugaskan ke 17 resor dalam TNGHS. Setiap resor sudah dilengkapi komputer jinjing, GPS montana, dan modem internet. Dengan demikian, setiap hari petugas bisa mengirimkan data identifikasi kawasan termasuk keragaman hayati di dalamnya. "Kementerian Kehutanan menargetkan setiap balai taman nasional harus mampu meningkatkan populasi satwa liar sebanyak 3 persen," katanya.

Target itu memotivasi Tri dan jajarannya untuk mempertahankan kelestarian kawasan seluas 113.357 hektar di Jawa Barat dan Banten ini. Konservasi bertujuan untuk mempertahankan kelestarian alam untuk keberlangsungan kehidupan manusia di masa mendatang. 

Peningkatan populasi

Tri mengklaim di TNGHS ada peningkatan populasi di 7 lokasi pengamatan. Pada 2013 ada 16 macan tutul jawa. Sampai Juni 2014 sudah ada 18 macan tutul jawa. Untuk owa, pada 2013 ada 26 ekor dan hingga Juni 2014 ada 29 ekor dalam enam kelompok. Untuk garuda, pada 2013 ada 8 ekor dan sampai Juni 2014 menjadi 9 ekor. "Kondisi ini tidak menggambarkan populasi di seluruh kawasan," katanya.

Macan tutul jawa, owa, dan garuda penting untuk dilindungi. Owa menyukai tanaman buah. Satwa ini disebut pengemban amanah ekologi. Owa menyebarkan biji buah atau pohon hutan dari yang dimakannya selama melintasi kawasan.

Tanpa owa, keragaman tumbuhan hutan dipastikan miskin. Kian banyak tumbuhan hidup dalam hutan, semakin kaya potensi yang bisa didapat berupa buah, bahan ramuan, sayur, air, udara, dan jasa lingkungan.

Macan tutul jawa dan garuda adalah predator utama. Keberadaan dua satwa itu mengendalikan keseimbangan rantai makanan. Macan tutul jawa memangsa kijang, kancil, dan lutung. Garuda memangsa tikus hutan, bahkan primata dan mamalia ukuran kecil.