"Pelangi" di Desa Cigondewah

By , Senin, 7 Juli 2014 | 15:59 WIB
()

Ada pelangi di Desa Cigondewah, Bandung. Pendaran warna-warni itu tidak di langit, tetapi di sungai, yang menjadi tempat pembuangan limbah industri tekstil.

Bandung yang dianggap terdepan dalam pengembangan ekonomi kreatif, ajang anak muda melahirkan inovasi di bidang fashion, desain, musik, tampaknya harus menambahkan soal lingkungan sebagai catatan kaki.

”Dulu air sungai bersih dan bening banget. Sawah subur, dengan sikap penduduk yang sangat kultural, dekat dengan alam. Desa ini dikelilingi desa-desa adat,” kata seniman yang juga pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB), Tisna Sanjaya. ”Kini sungai jadi septic tank terpanjang. Lumbung padi jadi lumbung plastik. Sawah jadi pabrik-pabrik Korea.”

Itulah kritik Tisna terhadap glorifikasi industri di Bandung. Ketika orang bicara mengenai ekonomi kreatif, youth culture, fashion, musik, pasti Bandung menjadi salah satu acuan. Menurut Tisna, hegemoni modal telah membuat orang kurang memperhatikan apa yang terjadi di bawah permukaan. Atau, katakanlah, mungkin kita hanya mengenal gemebyar Paris van Java dan abai terhadap konsekuensi-konsekuensi dari hegemoni kebudayaan seperti diteorikan Gramsci.Ruang terbukaAsosiasi Bandung sebagai pusat ekonomi kreatif makin kuat, terlebih dengan wali kotanya yang sekarang, Ridwan Kamil. Arsitek, ahli tata ruang, Ridwan, atau panggilan akrabnya Emil, adalah pemenang Young Creative Entrepreneur tingkat internasional tahun 2006 yang diselenggarakan British Council.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sedang melakukan pengeboran tanah membuat lubang biopori dalam rangka gerakan sejuta biopori di taman Tegalega, Bandung, Jumat, (20/12) pagi. (KOMPAS.COM/RIO KUSWANDI)

Emil dikenal dengan langkah-langkah penataan ruang terbuka bagi warga. ”Kami (Pemkot) terus melakukan pembelian tanah untuk ruang terbuka hijau dan pembuatan taman di tiap RW. Ruang publik penting bagi warga berinteraksi agar peradaban Bandung terus berkembang,” kata dia. Untuk lingkungan ini, Emil juga membuat gerakan sejuta biopori selain memulai gerakan memungut sampah yang dilakukan tiap Senin, Rabu, dan Jumat.

Dia dorong pula pelaksanaan festival kuliner dengan target semua camat menggelar festival kuliner secara rutin di wilayah masing-masing. Itu dimaksudkan untuk mendukung Bandung sebagai tujuan kuliner Indonesia. Saat ini, festival kuliner yang sudah digelar antara lain di Braga, Cibadak, Lengkong, Panyileukan, Cibiru, dan Ujung Berung.

Secara demografis, penduduk Kota Bandung, yaitu sekitar 2,5 juta jiwa, 60 persen berusia di bawah 40 tahun. Dengan demikian, Bandung memang kota anak muda. Jumlah sekolah pendidikan tinggi sekitar 80 lembaga. Potensi kalangan muda itulah yang menjadi perhatian Ridwan Kamil. ”Ini yang membedakan Bandung dengan kota lain, seperti Jakarta, misalnya, sebagai kota industri atau korporasi,” ucap dia.

Dalam hubungan dengan British Council pula, dulu sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Common Room memetakan kantong-kantong kreatif. Salah satu proyeknya kawasan Ujung Berung. Di situ sebagian besar anak muda bergelut di industri semacam musik, dari bermain band sampai melakukan rekaman di studio yang banyak terdapat di Ujung Berung, industri kaus, penerbitan, dan lain-lain. Berbagai aliran musik rock berkobar di sini: metal, death metal, heavy metal, grindcore, dan seterusnya.

Tita Larasati, Sekretaris Umum Bandung Creative City Forum, menggarisbawahi banyaknya perguruan tinggi di Bandung, di mana di antara mereka memiliki jurusan arsitektur dan seni yang kuat. ”Banyak ide kreatif diekspresikan lewat seminar, pelatihan-pelatihan, fashion, dan musik. Dari situ terbentuk youth culture,” kata Tita.

Bersama Pemerintah Kota Bandung, Tita menjadi anggota tim yang tengah memperjuangkan ke UNESCO agar Bandung masuk dalam jejaring kota kreatif dunia untuk kluster desain.

Dilema modernitasDi antara hiruk-pikuk anak muda ini, betapapun ada yang menyoroti dilema antara tradisi dan modernitas di Bandung. Agung Hujatnika Jenong, pengajar Manajemen Seni dan Sosiologi Seni di ITB, mencoba membandingkan Bandung dengan Yogyakarta. ”Berbeda dari Yogya, di Bandung seni atau kerajinan yang berbasis tradisi tidak menonjol,” kata Jenong.

Seperti di dunia seni rupa, jangan-jangan Bandung memang jadi semacam laboratorium modernisme Barat. Untuk kelompok teater pun, grup teater yang terkemuka di Bandung serta pegiatnya lebih banyak mengadopsi naskah-naskah Barat. Juga kuliner. Di Yogyakarta, untuk bidang kuliner terjadi wisata ke desa-desa, termasuk kesempatan menikmati santapan di dapur atau pawon desa. Maksudnya, dunia tradisi masuk dalam siklus ekonomi yang dibawa kegiatan turisme.

”Kalau di Bandung semuanya menjadi end product,” komentar dia. Itu bisa dilihat, misalnya, pada masakan-masakan tradisional setempat yang dikemas atau digelar dalam ruang-ruang yang atmosfernya modern. ”Seni tradisi kurang berkembang. Kerajinan rakyat adanya di luar Bandung,” tambah Jenong.