Bermula dari Proyek Konyol Hingga Berkontribusi Besar Pada Sains

By , Minggu, 20 Juli 2014 | 11:30 WIB
()

Saat ini para ahli astronomi telah yakin akan keberadaan suatu benda yang massanya supermasif, dapat mencapai jutaan kali massa matahari dan menghisap segala benda yang berada dalam jangkauannya. Benda yang biasanya terdapat di pusat inti galaksi itu kemudian disebut dengan black hole. Disebut demikian karena benda tersebut hanya tampak seperti pusaran hitam yang menghisap segalanya dengan lahap. Sebelum era teleskop luar angkasa, kita belum punya cukup bukti untuk mengklaim keberadaan benda ini.

Para astronom saat ini juga telah sedikit banyak—jika belum dapat dikatakan seluruhnya—mengetahui akan proses kelahiran dan kematian bintang, proses yang sangat rumit dan bervariasi. Selain itu ahli-ahli astronomi juga dapat mengetahui proses yang berlangsung ketika terjadinya tumbukan antara komet Shoemaker-Levy 9 dengan Planet Jupiter pada bulan Juli 1994, bagaimana pecahan komet tersebut menumbuk dan berdampak pada Planet Jupiter.

Ketiga pengetahuan penting di atas hanya sebagian kecil yang telah diberikan teleskop Hubble, teleskop optis sekaligus inframerah dan ultraungu pertama di luar angkasa. Adanya teleskop luar angkasa Hubble sejak hampir limabelas tahun yang lalu memberi manfaat yang sangat luar biasa bagi kemajuan pengetahuan manusia akan alam semesta. Dengan kemampuan peralatan optik yang kuat dan instrumen-instrumen yang dikerjakan dengan sangat teliti, teleskop Hubble dapat melihat obyek yang 10 kali lebih jernih dari teleskop-teleskop besar di bumi. Sebagai contoh, teleskop ini jika di bumi dapat melihat sekeping uang logam yang diletakkan di Teleskop Hubble telah membuka peluang bagi umat manusia dan bagi masyarakat astronomi pada khususnya untuk mempelajari dan mengenal alam semesta lebih dalam lagi.

Teleskop Hubble dapat dikatakan sebagai jendela bagi manusia untuk memandang alam semesta. Dengan pengetahuan-pengetahuan yang kita dapat dan mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya, sedikit demi sedikit rahasia Yang Maha Agung mulai tersibak. Perlahan memang, namun pasti. Walaupun teleskop Hubble telah banyak memberi manfaat dalam kemajuan sains, teleskop luar angkasa Hubble ternyata mempunyai sejarah yang tidak begitu mulus dalam awal pembuatannya. Bahkan teleskop dengan berat sekitar 11000kg ini sempat menjadi bulan-bulanan di kalangan ilmuwan dan akademisi.

Teleskop Hubble bermula dari sebuah impian menempatkan teleskop di luar angkasa. Dengan begitu pengamatan teleskop tidak akan dihalangi oleh segala permasalahan atmosfer. Kejernihan pandangnya tentu akan jauh lebih jernih daripada teleskop-teleskop landas bumi.

Teleskop Hubble yang mengorbit Bumi. Diambil pada tahun 2009 saat perbaikan terakhir Hubble (hubblesite.org)

Lyman Spitzer, seorang astrofisikawan berkebangsaan Amerika, adalah orang yang pertama kali berusaha mewujudkannya. Pada tahun 1946 Spitzer (1914-1997) mulai membayangkan keuntungan-keuntungan yang didapat dari sebuah teleskop besar yang ditempatkan di luar angkasa. Kemudian ia menuliskan ide-idenya tersebut. Pada tahun 1969 ia benar-benar merencanakan proyek ini dan mencari dukungan dari rekan-rekan astronom lainnya.

Untuk mewujudkan gagasan ini, ia giat melobi sana-sini, antara lain Kongres dan komunitas-komunitas astronomi. Ada yang menanggapinya dengan antusias, ada pula yang hanya menertawakannya. Mereka yang menertawakannya umumnya menganggap penempatan teleskop di luar angkasa bukanlah sesuatu yang bersifat praktis dan pasti akan gagal. Ada pula yang beranggapan menempatkan teleskop di luar angkasa hanya ada di cerita fiksi ilmiah. Spitzer tidak menyerah.

Bersama-sama dengan rekan-rekannya yang lain ia tetap meyakini bahwa proyek ini akan berhasil dan bermanfaat besar secara ilmiah. Secara politis, ada yang mendukungnya karena jika berhasil Amerika akan kembali mengungguli Uni Soviet – lawannya dalam perang dingin kala itu- dalam perlombaan luar angkasa, setelah sebelumnya unggul dalam pendaratan manusia ke bulan. Secara ekonomis ada yang menganggap proyek ini hanya penghamburan uang untuk sesuatu yang tak pasti. Dengan segala keraguan yang timbul pun Spitzer dan rekan-rekannya tetap tidak menyerah.

Sebetulnya ide menempatkan teleskop di luar bumi sudah ada jauh sebelum masa itu. Sejarah mencatat pada tahun 1923, Herman Oberth, ilmuwan roket asal Jerman mempublikasikan artikel karyanya tentang ide bagaimana menempatkan teleskop luar angkasa dan meluncurkannya dengan roket ke orbit bumi. Artikel itu berjudul "Die Rakete Zu Den Planetenraumen" atau yang dalam Bahasa Inggrisnya dapat diterjemahkan menjadi "The Rocket Into Planetary Space". Namun gagasannya tidak ditanggapi serius pada zamannya.

Keyakinan dan kerja keras Spitzer dan kawan-kawan mulai berbuah ketika Akademi Sains Nasional (National Academy of Sciences) di Amerika menyetujui proyek itu. Dimulailah usaha pembuatan teleskop pertama luar angkasa tersebut, dari mulai dengar pendapat, studi kasus, pembuatan disain dan lain sebagainya. Proyek pun dilakukan dengan dana yang terbatas karena pada saat itu sebagian besar dana untuk program luar angkasa NASA telah dialokasikan untuk program pendaratan di bulan tahun 1969, Neil Armstrong dan kawan-kawan. 

Marshall Space Flight Center di Alabama dipilih sebagai pusat pembangunan dan pengembangan teleskop luar angkasa ini. Goddard Space Flight Center di Maryland dipilih sebagai markas kontrol observasi luar angkasa serta pusat pembangunan instrumentasi ilmiah. Johnson Space Center di Houston, Texas dan Kennedy Space Center di Florida berperan dalam urusan pesawat ulang alik, sarana yang akan mengangkut teleskop ke luar angkasa. Proyek pembuatan teleskop luar angkasa ini turut pula melibatkan berbagai perusahaan kontraktor serta universitas-universitas di Amerika.

European Space Agency (ESA) bergabung dalam proyek besar ini pada 1975. ESA turut menyumbang 15 persen dari pembiayaan pembuatan teleskop luar angkasa ini. Sebagai gantinya, para ahli astronom Eropa yang tergabung dalam ESA dapat menggunakan 15 persen dari usia pengoperasian teleskop ini untuk penelitian luar angkasa.