Melihat dari Dekat Perilaku Para Sopir Bus

By , Rabu, 22 Oktober 2014 | 11:45 WIB

Belakangan banyak sekali kasus kecelakaan yang melibatkan bus. Bus antarprovinsi kerap memakan korban karena sopirnya yang ugal-ugalan.

Tim reporter khusus surat kabar SURYA (Tribunnews.com Network) mengamati dari dekat perilaku para sopir bus antarkota dalam provinsi.

Itu sebabnya, reporter SURYA sengaja memilih tempat duduk deretan terdepan dekat dengan pintu.

Tujuannya jelas, selain ingin merasakan sensasi berhadapan langsung dengan jalan raya, juga mencoba memotret dengan jelas perilaku sopir bus. Hanya di posisi ini gerak-gerik sopir bus bisa diamati dengan jelas.

Mengapa kami mendalami topik #StopBusKebut-kebutan yang menyangkut keselamatan bersama ini?

Kita ingat, pekan lalu ada tragedi PO Harapan Jaya yang menewaskan tujuh penumpangnya di Waru, Sidoarjo. Penanganan polisi pun baru dimulai setelah Teguh Hariyanto, sopir yang kebut-kebutan menyerahkan diri.

Tapi, masyarakat yang sedang menunggu penyidikan, justru kembali disuguhi kasus kecelakaan bus lain.

Kali ini, giliran PO Sumber Selamat (dahulu PO Sumber Kencono) yang membuat nyawa penumpangnya melayang.

Peristiwanya terjadi di Jalan Raya Desa Jogoloyo, Sumobito, Jombang, Selasa (21/10). Bus yang dikemudikan Suyanto itu menyeruduk truk yang berjalan santai di depannya.

Seorang penumpang, M Irwani (34), tewas. Tubuhnya terlempar dari kursi, lalu melayang keluar menerobos kaca depan, dan kemudian terinjak roda bus yang ditumpanginya itu.

Jumlah korban memang tidak sebanyak dalam tragedi PO Harapan Jaya yang menggemparkan itu. Tapi, satu hal yang pasti, dua kecelakaan berbeda itu sama-sama terkait kebut-kebutan.

Apakah laporan khusus ini hanya melihat dari satu sisi, yakni perilaku sopir? Tidak.

Perilaku kebut-kebutan itu tentu tidak muncul begitu saja. Adu cepat menyisir penumpang di jalanan menjadi pendorong utama.

Bagi mereka, kalah cepat menyisir penumpang, sama dengan membiarkan potensi uang diambil sopir bus yang lain.

Apalagi, perusahaan yang menaungi mereka juga memberlakukan target pendapatan. Juga target waktu untuk menyelesaikan perjalanan dalam satu trayek pulang dan pergi (PP).

Irama kerja sehari-hari inilah tanpa sadari membuat mereka melupakan bahaya besar yang selalu mengiringi.

Hasil reportase ini diturunkan dalam laporan panjang dan bersambung di Harian SURYA mulai 22 Oktober 2014.