Rumah Sang Mayor dari Tahun Kelinci Api

By , Senin, 16 Februari 2015 | 16:01 WIB

Pada salah satu panel lukisan yang menghiasi dinding Gedung Candra Naya tertulis kalimat beraksara Tiongkok yang artinya kurang lebih: ”Pada Tahun Kelinci di pertengahan bulan musim gugur dicatat kata-kata ini”. Dari tulisan dan ornamen itu, diyakini gedung ini dibangun pada Tahun Kelinci Api yang jatuh pada tahun 1807 atau tahun 1867.

Karena tanpa kepastian angka tahun pembangunan (Mandarin: Nien Hao), kompleks bangunan di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat, itu tak bisa dipastikan kapan dibangun, apakah dibangun tahun 1807 atau pada tahun 1867.

Jika dibangun pada 1807, pendirinya adalah Khouw Tian Sek untuk menyambut kelahiran anaknya, Khouw Tjeng Tjoan, pada 1808. Jika dibangun pada 1867, yang membangun kompleks gedung ini adalah Khouw Tjeng Tjoan pada masa tuanya.

Khouw Tjeng Tjoan, seperti ditulis doktor arsitek cagar budaya, Naniek W Priyomarsono, dalam bukunya, Rumah Mayor China di Jakarta (Penerbit Subur, Jakarta, Juni 2008), mempunyai 14 istri dan 24 anak. Salah satu putranya adalah Khouw Kim An yang kemudian menjadi mayor di struktur Pemerintahan Kota Batavia.

Sejak Khouw Kim An menjadi mayor pada 1910, kompleks bangunan cagar budaya tersebut populer disebut sebagai ”Rumah Mayor China”.

Sejarawan Mona Lohanda yang dihubungi terpisah membenarkan, Khouw Kim An adalah mayor Tiongkok terakhir di Batavia. Dia menjabat mayor dua periode, yakni pada 1910-1918 dan 1927-1942. Mona menjelaskan, di era pemerintahan VOC (Vereenigde Osstindische Compagnie) dan Pemerintahan Hindia-Belanda, jabatan mayor dan kapitan adalah jabatan prestisius.

Seorang kapitan memimpin kelompok etnisnya di satu kampung yang jumlah warganya 1.000 orang. Para kapitan ini dipimpin seorang mayor.

”Para mayor ini mendapat hak menjual candu dari Pemerintah VOC,” papar Mona. Naniek menambahkan, rumah seorang kapitan berbeda dengan rumah seorang mayor. Selain ukuran ruang-ruang bangunannya lebih besar, ornamen di rumah mayor lebih rumit dan mewah, tak ubahnya kompleks rumah para bangsawan di daratan Tiongkok.

Khouw Kim An mulai tinggal dan berkantor di kompleks gedung di Jalan Gajah Mada tersebut tahun 1934. Sebelumnya ia tinggal di Bogor.

Pria kelahiran Batavia, 5 Juni 1879, dan fasih berbahasa Belanda, ini tumbuh sebagai pengusaha, bankir, dan politisi. Ia menjadi salah satu pemegang saham Bataviaasche Bank.

Antara tahun 1910 dan 1930, Khouw Kim An menjadi Presiden Dewan China (Kong Kwan). Tahun 1921-1930 ia menjadi anggota Volksraad (DPR). Tahun 1928-1942, ia menjadi Pengurus Pusat Partai Chung Hwa Hui.

Setelah Jepang mendarat di Jawa pada 1942, Khouw Kim An ditawan. Ia meninggal di kamp konsentrasi pada 13 Februari 1945 dan dimakamkan di Jati Petamburan.

Minggu, 26 Januari 1946, setelah Perang Dunia II berakhir, didirikan Perkumpulan Sosial Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru). Organisasi sosial ini menyewa rumah Khouw Kim An sebagai pusat kegiatannya. Tahun 1962, perkumpulan ini diubah namanya menjadi Perhimpunan Sosial Tjandra Naja. Sejak itulah gedung tersebut dikenal sebagai Gedung Candra Naya.!break!