Perempuan Berkebangsaan Amerika Serikat Yang Menyelamatkan Nyawa Sukarno

By , Selasa, 7 Juli 2015 | 10:10 WIB

 “Saat ini kelihatanya ada yang sedang mengatur rencana membunuh Presiden Sukarno dan menggulingkan pemerintahan,”kata seorang perwira tentara RI pasca kemerdekaan berpangkat Mayor yang namanya tak disebutkan oleh K’tut Tantri dalam autobiografinya yang berjudul Revolt In Paradise.

Muriel Stuart Walker atau lebih dikenal dengan nama K’tut Tantri,adalah seorang perempuan berkebangsaan Amerika Serikat yang lahir di Skotlandia pada 18 Februari,1898.Ia kemudian memutuskan pindah ke Bali setelah mengaku terpesona setelah melihat film berjudul Bali,The Last Paradise.

Ia adalah wanita berkebangsaan asing yang sempat tinggal di bali dan kemudian membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surabaya dengan cara menjadi seorang penyiar radio yang menyebarkan berita tentang perjuangan Indonesia dalam melawan penjajah.

Selain mengaku membantu gerarakan kemerdekaan di Surabaya,K’tut Tantri juga mengaku pernah mengagalkan usaha penggulingan atas Presiden Sukarno dari kursi kepemerintahan RI dalam autobiografinya.Seorang Mayor yang tak mau ia sebutkan dalam bukunya,meminta bantuanya untuk membuka kedok rencana penggulingan Presiden Sukarno oleh sejumlah orang yang tergabung dalam suatu komplotan.

Untuk membuka kedok komplotan ini,sang Mayor memberi informasi bahwa ada seorang wanita ningrat yang dapat dijadikan pembuka informasi mengenai komplotan ini.Wanita ningrat itu tak disebutkan namanya dalam buku,namun disebutkan bahwa ia adalah seorang antek Belanda yang percaya pada takhayul dan suaminya adalah seorang pria yang berporfesi sebagai pegawa tinggi bank milik Belanda di Bandung.

K’tut Tantri mengaku alasan ia dimintai bantuan untuk mengagalkan rencana pembunuhan ini adalah karena ia pernah ditangkap tentara Jepang karena diangggap sebagai mata-mata Amerika dan ia dikenal sebagai seseorang yang bisa meramalkan nasib.

Mayor itu sudah merencanakan rencananya sedemekian rupa,dari hal seperti bagaimana nama K’tut Tantri dapat sampai ke telinga wanita itu hingga bagaimana caranya agar pihak Amerika yang sebenarnya,tidak mengetahui apa-apa tentang rencana ini atau bahkan mengintervensi keberlangsunganya.

Beberapa hari kemdian,wanita itu menghubugi K’tut,lalu setuju untuk bertemu dengan dirinya di Hotel Merdeka yang sekarang bernama Hotel Inna Garuda,di kota Yogyakarta,dimana K’tut Tantri saat itu tinggal.

“Dari seorang kenelanya yang juga kenal padaku,ia mendengar bahwa aku pandai meramalkan nasib dengan kartu.Kerongkonganku terasa tersumbat karena kegugupanku.Namun dengan suara yang kuusahakan terdengar biasa-biasa saja,aku mengatakan bahwa tentu saja aku bisa.Aku mengundangnya minum the di tempatku keesokan harinya”,ucap K’tut Tantri dalam biografinya.

Lalu keesokanya mereka bertemu di Hotel,K’tut Tantri mengaku wanita itu termasuk salah satu wanita teranggun yang ia pernah temui di Pulau Jawa.Umurnya ia taksir sekitar 35 tahun,tubuh  yang langsing dan memiliki suara yang merdu.

Mereka berdua kemudiang berbincang-bincang mengenai kehidupan di keraton dimana wanita ningrat itu berasal,dan kehidupan di Bali dimana K’tut Tantri pernah tinggal.Mereka membanding-bandingkan  kebudayaan di Jawa dan Bali.Berbagai pertanyaan mengenai Amerika Serikat juga dilontarkan oleh wanita ningrat itu.Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk berbincang-bincang layaknya teman lama.

“Kehidupan anda tentunya membosankan dsini,”katanya.”Apa saja yang anda lakukan seharian?”,tanya wanita ningrat itu.K’tut lalu mengaku kepadanya selain jalan-jalan,ia juga gemar membaca,bermain kartu,dan juga membaca nasib orang menggunakan kartu.

Hal ini kemudian menarik perhatian wanita ningrat itu,sehingga kemudian K’tut memanfaatkan langkah wanita itu dengan cara mengaku mengenai pengalamanya menjadi tawanan Jepang di Surabaya,ia juga menambahkan kepada wanita itu bahwa ia memiliki seperangkat kartu bridge yang ia gunakan untuk meramal.

Wanita itu kemudian tertarik dan meminta kepada K’tut untuk meramal nasibnya.Namun Ketut dengan pintar menolaknya,dengan tujuan agar wanita itu kemudian akan kembali lagi.Perkiraan Ketut ternyata benar, wanita itu kemudian berkata akan kembali lagi untuk menemui dirinya ditemani dengan suami beserta kawanya.

Beberapa hari kemudian wanita itu datang kembali bersama suami dengan kawanya,K’tut kemudian mencoba membangun relasi dengan ketiga orang tersebut.Setelah beberapa minggu,saat yang K’tut nantikan tiba,suami wanita ningrat itu mencoba mempersuasi K’tut dengan tujuan meminta bantuan kepadanyat untuk mengirimkan surat kepada pemerintah Amerika Serikat agar membantu menggulingkan presiden Sukarno,kalau perlu membunuhnya.Kursi pemerintahan kemudian direncanakan akan diberikan kepada Sultan Hamengkubuwono IX Yogya.Sang suami bahkan mengaku bahwa beberapa jendral menyetujui langkah ini dan sudah ada sejumlah pasukan yang sudah bersiap-siap di posisi strategis.

Walaupun sempat pura-pura menolak,K’tut kemudian mengiyakan permintaan itu.Setelah mendengar kalimat setuju dari K’tut lalu sang suami pulang dengan perasaan senang.K’tut kemudian bergegas memberi laporan kepada Mayor tanpa nama itu,dan kemudian mereka berdua pergi secara diam-diam ke Solo untuk menerima perintah selanjutnya dari Amir Syarifudin.

Dikatakan dalam autobiografinya,langkah selanjutnya dalam operasi ini adalah,menyiapkan dokumen palsu yang berisi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemerintah Amerika Serikat guna meyakinkan komplotan tadi bahwa K’tut merupakan benar-benar agen rahasia dari Amerika.Selain itu juga disiapkan seseorang yang akan berpura-pura sebagai kurir yang akan mengantarkan surat dari komplotan itu kepada pemerintah Amerika.

Setelah beberapa hari untuk mempersiapkan segala sesuatu,K’tut kemudian menghubungi orang-orang itu lagi supaya menemuinya di hotel.Ketiga orang tersebut K’tut lihat  bersikap biasa-biasa saja tapi ia yakin bahwa ketiganya menyimpan rasa tegang dalam diri mereka masing-masing.

Transaksi pada awalnya berjalan dengan lancar,namun kemudian situasi tiba-tiba memanas ketika K’tut mengkatakan bahwa surat yang diberikan oleh komplotan ini tidak dapat diberikan kepada pihak Amerika Serikat karena nama-nama mereka yang berkomplot dalamm penggulingan presiden tak dicantumkan.Suami wanita ningrat pun hendak membantan namunn sang istri meyakinkan apa yang dikatakan K’tut adalah benar sehingga kemudian ditambahkan infromasi pada surat itu.

Tak lama setelah itu,sang kurir gadungan datang.Dengan aksen Amerika buat-buatan yang kedengaran sempurna.Sang kurir juga memainkan peranya dengan sempurna selama di hotel.K’tut juga kemudian melempar sebuah surat penting ke meja dekat sang suami dengan tujuan untuk lebih meyakinkan pada sang suami bahwa ia adalah seorang agen rahasia Amerika Serikat.K’tut kemudian masuk ke kamarnya agar sang suami dengan leluasa dapat menelaah surat itu.

Tak lama kemudian K’tut keluar dari kamarnya dan kemudian memberikan surat yang dialamatkan ke Washington oleh komplotan tersebut kepada sang kurir gadungan.”Selamat tinggal,aku harus buru-buru mengejar kereta api tengah malam ke Jakarta”,ucap sang kurir.Pintu kemudian ditutup dan suasana kamar kembali membisu.

“Aku khawatir tentang kurir tadi,lebih baik kuikuti saja dia ke stasiun,untuk melihat apakah sampai dengan aman di atas kereta api”,ucap wanita ningrat itu.Seketika K’tut tegang setelah melihat komplotan tersebut tiba-tiba langsung pergi.

Setelah itu kemudian K’tut bergegas melapor kepada Mayor dan melaporkan kegelisahanya akan kegagalan operasi yang mereka jalani.Namun dengan tenang sang Mayor memberi tahu K’tut segalanya sudah diperhitungkan,jadi sang kurir benar-benar menaiki kereta agar dapat mengelabui para komplotan.Setelah keberhasilan operasi ini,K’tut dan sang Mayor berangkat ke Solo untuk kembali menemui Amir Syarifudin untuk melaporkan keberhasilan operasi pengagalan kudeta Presiden Sukarno.

Setelah dari Solo,K’tut dan sang Mayor kemudian pergi menemui Presiden Sukarno.“Anda kenapa tidak membawanya kemari?”,ucap Presiden Sukarno sambil matanya bersinar jenaka seperti yang disebutkan dalam autobiografi K’tut.

Selain Sukarno,K’tut dan sang Mayor juga menemui Sultan Hamengkubuwono IX yang ternyata setelah ditemui mengaku tak mengetahui apa-apa mengenai rencana komplotan tersebut.“Ini pasti perbuatan Belanda,memakai namaku untuk kepentingan mereka”,ucap sang Sultan Hamengkubuwono IX setelah mendengar rencana komplotan tersebut.

Beberapa bulan kemudian,dalam autobiografinya K’tut mengaku ada rencana rahasia lainya untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno,namun rencana in ia akui langsung ditumpas pihak dinas rahasia Indonesia.Pada rencana itu lagi-lagi nama Sultan Hamengkubuwono IX disebutkan yang akan menduduki kursi kepresidenan,padahal diakui K’tut sang Sultan Hamengkubuwono IX tak tahu mengenai apapun mengenai rencana pengangkatan dirinya sebagai Presiden RI.